Pengertian Strategi Pembelajaran
Dalam
dunia pendidikan, strategi diartikan sebagai a plan, method, or series of
activities designed to achieves a particular education goal. Jadi, strategi
pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian
kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Menurut
Sanjaya Wina (2007) istilah strategi, sebagaimana banyak istilah lainnya,
dipakai dalam banyak konteks dengan makna yang tidak terlalu sama. Di dalam
konteks belajar-mengajar, strategi berarti pola umum aktivitas guru-peserta
didik dalam perwujudan kegiatan belajar-mengajar. Di bawah ini akan diuraikan beberapa definisi tentang
strategi pembelajaran:
1.
Kemp (1995) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran
adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan peserta didik
agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara objektif dan efisien.
2.
Kozma (dalam Sanjaya 2007) secara umum menjelaskan bahwa
strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai setiap kegiatan yang dipilih,
yaitu yang dapat memberikan fasilitas atau bantuan kepada peserta didik menuju
tercapainya tujuan pembelajaran tertentu.
3.
Gerlach dan Ely menjelaskan bahwa strategi pembelajaran
merupakan cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pembelajaran dalam
lingkungan pembelajaran tertentu. Selanjutnya dijabarkan oleh mereka bahwa
strategi pembelajaran dimaksud meliputi sifat, lingkup, dan urutan kegiatan
pembelajaran yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik.
4.
Dick dan Carey (1990) menjelaskan bahwa strategi
pembelajaran terdiri atas seluruh komponen materi pembelajaran dan prosedur
atau tahapan kegiatan belajar yang digunakan guru dalam rangka membantu peserta
didik mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Menurut mereka strategi
pembelajaran bukan hanya terbatas pada prosedur atau tahapan kegiatan belajar
saja, melainkan termasuk juga pengaturan materi atau paket program pembelajaran
yang akan disampaikan kepada peserta didik.
5.
Cropper (1998) mengatakan bahwa strategi pembelajaran
merupakan pemilihan atas berbagai jenis latihan tertentu sesuai dengan tujuan
pembelajaran yang ingin dicapai. Ia menegaskan bahwa setiap tingkah laku yang
diharapkan dapat dicapai oleh peserta didik dalam kegiatan belajarnya harus
dapat dipraktikkan.
Empat Kompetensi Guru sesuai Permendiknas No. 16 Tahun
2007:
1.
Kompetensi Pedagogik
2.
Kompetensi Kepribadian
3.
Kompetensi Sosial
4.
Kompetensi Profesional
Perbedaan Belajar dengan Pembelajaran:
1.
Proses belajar dilakukan secara individu sedangkan proses
pembelajaran dilakukan secara kelompok.
2.
Dalam belajar tidak terjadi interaksi sedangkan dalam
pembelajaran terjadi interaksi antara sesama pembelajar dan pembelajar dengan
pendidik.
Multiple Inteligence menurut Gardner ada 8 yaitu:
1.
Logika
2.
Linguistik
3.
Kinestetik
4.
Spatial
5.
Musik
6.
Interpersonal
7.
Intrapersonal
8.
Natural
Model, Pendekatan, Strategi,
Metode, Teknik dan Taktik Pembelajaran
Arends
(1997) menyatakan “The term teaching model refers to a particular approach to
instruction that includes its goals, syntax, environment, and management
system.” Istilah model pembelajaran mengarah pada suatu pendekatan pembelajaran
tertentu termasuk tujuannya, sintaksnya, lingkungan, dan sistem pengelolaannya,
sehingga model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas dari pendekatan,
strategi, metode atau prosedur. Model pembelajaran adalah suatu perencanaan
atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran
di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan
perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film,
computer, kurikulum, dll. (Joyce, 1992).
Soekamto mengemukakan maksud dari
model pembelajaran adalah “Kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang
sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan
belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran
dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar-mengajar. Hal ini
sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Eggen dan Kauchak bahwa model
pembelajaran memberikan kerangka dan arah bagi guru untuk mengajar. Model
pembelajaran mempunyai 4 ciri khusus yang membedakan dengan strategi, metode
atau prosedur. Ciri-ciri tersebut ialah:
1.
Rasional teoritik logis yang disusun oleh para pencipta
atau pengembangnya.
2.
Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana peserta
didik belajar (tujuan pembelajaran yang akan dicapai).
3.
Tingkah laku pembelajaran yang diperlukan agar model
tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil.
4.
Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan
pembelajaran itu dapat tercapai.
Adapun istilah pendekatan (approach) dalam
pembelajaran menurut Sanjaya (2007) memiliki kemiripan dengan strategi.
Sebenarnya pendekatan berbeda baik dengan strategi maupun metode. Pendekatan
dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses
pembelajaran. Istilah pendekatan merujuk pada pandangan tentang terjadinya
proses yang sifatnya masih sangat umum. Oleh karenanya, strategi dan metode pembelajaran yang digunakan dapat
bersumber dari pendekatan tertentu. Roy Killen (1998) misalnya mencatat ada dua
pendekatan dalam pembelajaran, yaitu pendekatan yang berpusat pada guru (teacher-centered
approach) dan pendekatan yang berpusat pada siswa (student-centered
approach). Pendekatan yang berpusat pada guru menurunkan strategi
pembelajaran langsung (direct instruction), pembelajaran deduktif atau
pembelajaran ekspositori. Adapun pendekatan pembelajaran yang berpusat pada
siswa menurunkan strategi pembelajaran discovery dan inquiry
serta strategi pembelajaran induktif.
Menurut
Fathurrahman Pupuh (2007) metode secara harfiah berarti cara. Dalam pemakaian
yang umum, metode diartikan sebagai suatu cara atau prosedur yang dipakai untuk
mencapai tujuan tertentu. Dalam kaitannya dengan pembelajaran, metode
didefinisikan sebagai cara-cara menyajikan bahan pembelajaran pada peserta didik
untuk tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Dengan demikian, salah satu
keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang guru dalam pembelajaran adalah
keterampilan memilih metode. Pemilihan metode terkait langsung dengan
usaha-usaha guru dalam menampilkan pengajaran yang sesuai dengan situasi dan
kondisi, sehingga pencapaian tujuan pengajaran diperoleh secara optimal.
Oleh
karena itu, salah satu hal yang sangat mendasar untuk dipahami guru adalah
bagaimana memahami kedudukan metode sebagai salah satu komponen bagi
keberhasilan kegiatan belajar-mengajar sama pentingnya dengan komponen-komponen
lain dalam keseluruhan komponen pendidikan. Makin tepat metode yang digunakan
oleh guru dalam mengajar akan semakin efektif kegiatan pembelajaran. Selain itu
masih ada faktor-faktor lain yang juga harus diperhatikan, seperti: faktor
guru, anak, situasi (lingkungan belajar), dan media.
Selain
strategi, metode, dan pendekatan pembelajaran, terdapat istilah lain yang
kadang-kadang sulit dibedakan, yaitu teknik dan taktik mengajar. Teknik dan
taktik mengajar merupakan penjabaran dari metode pembelajaran. Teknik adalah
cara yang dilakukan orang dalam rangka mengimplementasikan suatu metode, yaitu
cara yang harus dilakukan agar metode yang dilakukan berjalan efektif dan
efisien. Dengan demikian, sebelum seseorang melakukan proses ceramah, misalnya,
sebaiknya memperhatikan kondisi dan situasi pelaksanaan pembelajaran.
Berceramah pada siang hari dengan jumlah peserta didik yang banyak tentu akan
berbeda jika dilakukan pada pagi hari dengan jumlah peserta didik yang sedikit.
Taktik adalah gaya seseorang dalam melaksanakan suatu teknik atau metode
tertentu. Taktik sifatnya lebih individual. Misalnya ada dua orang yang
sama-sama menggunakan metode ceramah dalam situasi yang sama, dapat dipastikan
mereka akan melakukannya secara berbeda.
Dari
paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran yang diterapkan
oleh guru akan tergantung pada pendekatan yang digunakan; dalam menjalankan
strategi itu dapat diterapkan berbagai metode pembelajaran. Dalam upaya
menjalankan metode pembelajaran, guru dapat menentukan teknik yang dianggap
relevan dengan metode.
B.
Teori-Teori Belajar
1.
Teori Psikologi
Menurut
teori ini, terdiri dari jiwa (mind), dan badan (body) atau zat (matter).
Jiwa merupakan suatu substansi yang beroperasi secara bebas dari zat (jiwa yang
hidup), mempunyai kekuatan untuk berinisiatif, dapat menemukan hukum-hukum alam
dan sebagainya. Jiwa bersifat permanen dalam arti tidak dapat melepaskan dari
zat, bahkan dapat menytimulir proses zat
itu, sehingga menghasilkan pengalaman-pengalaman baru. Dalam hal ini, konsepsi
yang diperoleh secara langsung berasal dari dunia luar melalui sense of
experience.
Selain
itu, ada juga pengetahuan kita yang tidak bersumber dari pengalaman, misalnya
pengertian tentang ruang dan waktu. Hal
ini bersifat transenden seperti sesuatu yang absolute. Tuhan yang tak terbatas
namun kita yakin berdasarkan hasil pemikiran bahwa hal-hal itu tidak ada sesuatu
yang menyebabkannya, sesuatu yang tak terbatas. Pemikiran
semacam itu, disebut rational knowledge, yang merupakan hasil aktivitas yang
kreatif.
Menurut teori ini, hakikat belajar
adalah all learning is a process of developing or training of mind.
Dengan demikian pendidikan adalah suatu proses self development/ self
cultivation/ self realization dari dalam (inner development).
2.
Teori Psikologi
Daya
Menurut
teori ini, jiwa manusia terdiri dari berbagai daya. Manusia hanya memanfaatkan
semua daya itu dengan cara melatihnya sehingga ketajamannya dapat dirasakan
ketika digunakan. Akibat teori ini, belajar hanyalah bersifat hafalan-hafalan .
3.
Teori Mental State atau Tanggapan
Menurut pencetus teori ini, Herbart, pada prinsipnya jiwa
manusia terdiri dari kesan-kesan/ tanggapan-tanggapan yang masuk melalui
penginderaan. Kesan-kesan itu berasosiasi satu sama lain dan
membentuk mental/ kesadaran manusia. Tambah kuat asosiasi itu, tambah lama
kesan-kesan itu tinggal di dalam jiwa kita, kesan-kesan itu akan mudah
diungkapkan kembali (reproduksi) apabila kesan-kesan itu tertanam dengan kuat
dalam ruang kesadaran.
4. Teori
Behaviorisme
Behaviorisme
adalah suatu studi tentang kelakuan manusia. Timbulnya teori ini disebabkan
rasa tidak puas terhadap teori psikologi. Daya dan teori mental state yang
hanya menekankan pada aspek kesadaran saja. Menurut teori ini, jiwa itu adalah
respons-respons fisiologis. Di dalam behaviorisme masalah zat (matter)
menempati kedudukan yang utama. Jadi melalui zat/ badan segala kelakuan tentang
jiwa dapat diamati.
5.
Teori Asosiasi
Teori Asosiasi disebut juga teori Sarbond (stimulus,
respons, and bond). Stimulus berarti rangsangan, respons berarti tanggapan,
dan bond berarti dihubungkan. Menurut teori ini rangsangan-rangsangan
diciptakan untuk memunculkan tanggapan kemudian dihubungkan antara keduanya dan
terjadilah asosiasi.
6.
Teori Connectionisme
Teori
ini ditemukan oleh Edward L. Thorndike (1874-1949). Menurut teori ini, bahwa
belajar pada dasarnya merupakan sebuah proses asosiasi antara kesan pancaindera
(sense of impression) dengan tekanan (impuls) untuk bertindak (impuls
to action). Asosiasi yang demikian itu, direncanakan sedemikian rupa dan
itulah yang selanjutnya dinamakan “connecting”. Dengan demikian, pada dasarnya
belajar itu adalah suatu proses pembentukan hubungan yang intens dan interaktif
antara stimulus dan respons, atau aksi dan reaksi. Hubungan antara stimulus dan
respons itu akan terjadi sedemikian rupa dan erat sekali , apabila selalu
diadakan latihan. Dengan latihan yang diadakan terus-menerus, maka hubungan
antara stimulus dan respons akan menjadi terbentuk dengan sendirinya dan
otomatis.
7. Teori
Conditioning
Secara
harfiah, conditioning berarti penciptaan keadaan. Teori ini dikembangkan oleh
Ivan Pavlov (1849-1936) berdasarkan hasil percobaan dengan menggunakan anjing.
Berdasarkan percobaan ini, Pavlov merumuskan teori belajar sebagai berikut:
a. Bahwa
suatu perbuatan/ refleks dapat dipindahkan ke perbuatan / refleks lainnya.
b. Bahwa
belajar erat kaitannya dengan prinsip penguatan kembali, atau dengan kata lain
bahwa pengulangan-pengulangan dalam hal belajar adalah penting dilakukan.
8. Teori Gestalt
Psikologi kognitif muncul dipengaruhi oleh psikologi
gestalt, dengan tokoh-tokohnya seperti Max Wertheimer, Wolfgang Kohler, dan
Kurt Koffka. Para tokoh gestalt tersebut belum merasa puas dengan
penemuan-penemuan para ahli sebelumnya yang menyatakan belajar sebagai proses
stimulus dan respons serta manusia bersifat mekanistik. Penelitian-penelitian
yang dilakukan oleh para tokoh gestalt lebih menekankan pada persepsi. Menurut
mereka, manusia bukanlah sekadar makhluk yang hanya bisa bereaksi jika ada
stimulus yang memengaruhinya. Tetapi lebih dari itu, manusia adalah makhluk
individu yang utuh antara rohani dan jasmaninya. Dengan demikian, pada saat
manusia bereaksi dengan lingkungannya, manusia tidak sekadar merespons, tetapi
juga melibatkan unsur subjektivitasnya yang antara masing-masing individu bisa
berlainan.
Berbeda dengan teori-teori yang dikemukakan oleh para
tokoh behaviorisme, terutama Thorndike, yang menganggap bahwa belajar sebagai
proses trial and error, teori Gestalt ini memandang belajar adalah
proses yang didasarkan pada pemahaman (insight). Karena pada dasarnya
setiap tingkah laku seseorang selalu didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan
mengenal atau memikirkan situasi di mana tingkah laku tersebut terjadi. Pada
situasi belajar, keterlibatan seseorang secara langsung dalam situasi belajar tersebut
akan menghasilkan pemahaman yang dapat membantu individu tersebut memecahkan
masalah. Dengan kata lain, teori gestalt ini menyatakan bahwa yang paling
penting dalam proses belajar individu adalah dimengertinya apa yang dipelajari
oleh individu tersebut. Oleh karena itu, teori belajar gestalt ini disebut
teori insight.
Wolfgang Kohler menjelaskan teori gestalt ini melalui
percobaan dengan seekor simpanse yang diberi nama Sultan. Dalam eksperimennya,
Kohler ingin mengetahui bagaimana fungsi insight dapat membantu memecahkan
masalah, dan membuktikan bahwa perilaku simpanse dalam memecahkan masalah yang
dihadapinya tidak hanya didasarkan stimulus dan respons atau trial and error
saja, tapi juga karena ada pemahaman terhadap masalah dan bagaimana memecahkan
masalah tersebut.
9.
Teori belajar menurut Gutrie
Edwin R. Gutrie adalah salah satu penemu teori pembiasaan
asosiasi dekat (contiguous conditioning theory). Teori ini menyatakan
bahwa peristiwa belajar terjadi karena adanya sebuah kombinasi antara rangsangan
yang disandingkan dengan gerakan yang akan cenderung diikuti oleh gerakan yang
sama untuk waktu berikutnya (Bell-Gredler, 1986). Dengan kata lain teori ini
menyatakan bahwa belajar adalah kedekatan hubungan antara stimulus dan respons
yang relevan.
Teori ini menyatakan bahwa apa yang sesungguhnya
dipelajari oleh orang adalah reaksi atau respons terakhir yang muncul atas
sebuah rangsangan atau stimulus. Artinya, setiap peristiwa belajar hanya
mungkin terjadi sekali saja untuk selamanya atau tidak sama sekali terjadi
(Reber, 1989; Syah, 2003). Menurut Gutrie, peningkatan hasil belajar secara
berangsur-angsur yang dicapai oleh siswa bukanlah hasil dari pelbagai respons
kompleks terhadap stimulus-stimulus sebagaimana yang diyakini para behavioris
lainnya, melainkan karena kedekatan asosiasi antara stimulus dan respons.
C. Prinsip
– Prinsip Pembelajaran
Prinsip-prinsip pembelajaran merupakan
bagian penting yang perlu diketahui oleh seorang pendidik, dengan memahami
prinsip-prinsip pembelajaran, seorang pendidik dapat membuat suatu acuan dalam
pembelajaran sehingga pembelajaran akan berjalan lebih efektif serta dapat
mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Prinsip-prinsip pembelajaran yang
perlu diketahui adalah :
1. Prinsip perhatian dan Motivasi
Dalam
proses pembelajaran, perhatian memiliki peranan yang sangat penting sebagai
langkah awal dalam memicu aktivitas-aktivitas belajar. Motivasi berhubungan
erat dengan minat, siswa yang memiliki minat lebih tinggi pada suatu mata
pelajaran cenderung lebih memiliki perhatian yang lebih terhadap mata pelajaran
tersebut akan menimbulkan motivasi yang lebih tinggi dalam belajar. Motivasi
dalam belajar merupakan hal yang sangat penting juga dalam pelaksanaan proses
pembelajaran.
2. Prinsip Keaktifan
Belajar
pada hakikatnya adalah proses aktif di mana seseorang melakukan kegiatan secara
sadar untuk mengubah suatu perilaku, terjadi kegiatan merespon terhadap setiap
pembelajaran.
3. Prinsip Keterlibatan Langsung / Berpengalaman
Prinsip
ini berhubungan erat dengan prinsip aktivitas, bahwa setiap individu harus
terlibat secara langsung untuk mengalaminya, bahwa setiap kegiatan pembelajaran
harus melibatkan diri ( setiap individu ) terjun mengalaminya.
4. Prinsip Pengulangan
Teori
yang dapat dijadikan sebagai petunjuk pentingnya prinsip pengulangan dalam
belajar, antara lain bisa dicermati dari dalil-dalil belajar yang dikemukan
oleh Edward L. Thorndike ( 1974 – 1949 ) tentang law of learning, yaitu
“ law of effect, law of exercise and law of readiess “
5. Prinsip Tantangan
Implikasi
lain adanya bahan belajar yang dikemas dalam suatu kondisi yang menantang
seperti mengandung masalah yang perlu dipecahkan, siswa akan tertantang untuk
mempelajarinya. Dengan kata lain pembelajaran yang memberi kesempatan pada
siswa untuk turut menemukan konsep-konsep, prinsip-prinsip dan generalisasi
akan menyebabkan siswa berusaha mencari dan menemukan konsep-konsep,
prinsip-prinsip dan generalisasi tersebut.
6. Prinsip Balikan dan Penguatan
Siswa
akan belajar lebih semangat apabila mengetahui dan mendapat hasil yang baik.
Apalagi hasil yang baik, merupakan balikan yang menyenangkan dan berpengaruh
baik bagi usaha belajar selanjutnya. Balikan yang segera diperoleh siswa
setelah belajar melalui pengamatan melalui metode-metode pembelajaran yang
menantang, seperti tanya jawab, diskusi, eksperimen, metode penemuan dan yang
sejenisnya akan membuat siswa terdorong untuk belajar lebih giat dan
bersemangat.
7. Prinsip perbedaan Individual
Perbedaan
individual dalam belajar, yaitu bahwa proses belajar yang terjadi pada setiap
individu berbeda satu dengan yang lain baik secara fisik maupun psikis, untuk
itu dalam proses pembelajaran mengandung implikasi bahwa setiap siswa harus
dibantu untuk memahami kekuatan dan kelemahan dirinya dan selanjutnya mendapat
perlakuan dan pelayanan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan siswa itu
sendiri.
D. Pendekatan-pendekatan Pembelajaran
1. Pendekatan Kontekstual
Pendekatan
kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara
materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata peserta didik dan mendorong
mereka membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya
dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
2. Pendekatan Kontruktivisme
Pendekatan
kontruktivisme merupakan pendekatan dalam pembelajaran yang lebih menekankan
pada tingkat kreativitas peserta didik dalam menyalurkan ide-ide baru yang
dapat diperlukan bagi pengembangan diri peserta didik yang didasarkan pada
pengetahuan. Jadi pendekatan kontruktivisme merupakan pembelajaran yang lebih
mengutamakan pengalaman langsung dan keterlibatan peserta didik dalam
pembelajaran.
3. Pendekatan Deduktif
Pendekatan deduktif ditandai dengan pemaparan
konsep, definisi dan istilah-istilah pada bagian awal pembelajaran. Pendekatan
deduktif dilandasi oleh suatu pemikiran bahwa proses pembelajaran akan
berlangsung dengan baik bila siswa telah mengetahui wilayah persoalannya dan
konsep dasarnya. (Suwarna, 2005).
4. Pendekatan Induktif
Ciri utama pendekatan induktif dalam pengolahan
informasi adalah menggunakan data untuk membangun konsep atau untuk memperoleh
pengertian. Data yang digunakan mungkin merupakan data primer atau dapat pula
berupa kasus-kasus nyata yang terjadi di lingkungan.
5. Pendekatan Humanistik
Pendekatan
humanistik menjelaskan bahwa pada hakikatnya setiap diri manusia adalah unik,
memiliki potensi individual dan dorongan internal untuk berkembang dan
menentukan perilakunya. Humanistik tertuju pada masalah bagaimana tiap individu
dipengaruhi dan dibimbing oleh maksud-maksud pribadi yang mereka hubungkan
kepada pengalaman-pengalaman mereka sendiri. Dalam kaitan itu maka setiap diri
manusia adalah bebas dan memiliki kecenderungan untuk tumbuh dan berkembang
mencapai aktualisasi diri.
6. Pendekatan Tematik
Pendekatan
tematik merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran untuk mengaitkan dan
memadukan materi ajar dalam suatu mata pelajaran atau antar mata pelajaran
dengan semua aspek perkembangan anak, serta kebutuhan dan tuntutan lingkungan
sosial keluarga. Pendidikan tematik adalah pendidikan holistic yang
mengkombinasikan aspek epistemologi, sosial, psikologi, dan pendidikan pedagogik
untuk mendidik anak, yaitu menghubungkan antara otak dan raga, antara pribadi
dan pribadi, antara individu dan komunitas, dan antara domain-domain
pengetahuan. (Udin Sa’ud dkk, 2006).
7. Pendekatan Ekspositori
Pendekatan
ini bertolak dari pandangan, bahwa tingkah laku kelas dan penyebaran
pengetahuan dikontrol dan ditentukan oleh guru atau pendidik. Hakikat mengajar
menurut pandangan ini adalah menyampaikan ilmu pengetahuan kepada siswa. Siswa dipandang sebagai objek yang
menerima apa yang diberikan guru. Biasanya guru menyampaikan informasi mengenai
bahan pengajaran dalam bentuk penjelasan dan penuturan secara lisan, yang
dikenal dengan istilah kuliah, ceramah, dan lecture. Dalam pendekatan ini siswa
diharapkan dapat menangkap dan mengingat informasi yang telah diberikan guru,
serta mengungkapkan kembali apa yang dimilikinya melalui respon yang ia berikan
pada saat diberikan pertanyaan oleh guru.
8.
Pendekatan Heuristik
Kata heuristik berasal dari bahasa Yunani
yaitu ‘heuriskein‘ yang berarti “saya menemukan“. Pendekatan heuristik adalah
pendekatan pembelajaran yang menyajikan sejumlah data dan siswa diminta untuk
membuat kesimpulan menggunakan data tersebut, implementasinya dalam pengajaran
menggunakan metode discovery dan inquiry. Metode discovery didasarkan pada
anggapan, bahwa materi suatu bidang studi tidak saling lepas, tetapi ada kaitan
antara materi-materi itu.
9.
Pendekatan Konsep
Pendekatan konsep adalah suatu pendekatan
pengajaran yang secara langsung menyajikan konsep tanpa memberi kesempatan
kepada siswa untuk menghayati bagaimana konsep itu diperoleh. Konsep merupakan
buah pemikiran seseorang atau sekelompok orang yang dinyatakan dalam definisi
sehingga melahirkan produk pengetahuan meliputi prinsip, hukum, dan teori.
Konsep diperoleh dari fakta, peristiwa, pengalamanm, melalui generalisasi dan
berpikir abstrak, kegunaan konsep untuk menjelaskan dan meramalkan.
10.
Pendekatan Proses
Pendekatan proses adalah suatu pendekatan
pengajaran memberi kesempatan kepada siswa untuk ikut menghayati proses
penemuan atau penyusunan suatu konsep sebagai suatu keterampilan proses.
Pembelajaran dengan menekankan kepada belajar proses dilatarbelakangi oleh
konsep-konsep belajar menurut teori Naturalisme-Romantis dan teori Kognitif
Gestalt. Naturalisme-Romantis menekankan kepada aktivitas siswa, sedangkan
Kognitif-Gestalt menekankan pemahaman dan kesatupaduan yang menyeluruh.
Pendekatan proses dalam pembelajaran dikenal pula sebagai keterampilan proses,
guru menciptakan bentuk kegiatan pengajaran yang bervariasi, agar siswa
terlibat dalam berbagai pengalaman. Siswa diminta untuk merencanakan, melaksanakan,
dan menilai sendiri suatu kegiatan. Siswa melakukan kegiatan percobaan, pengamatan,
pengukuran, perhitungan, dan membuat kesimpulan-kesimpulan sendiri.
E. Kurikulum
Kurikulum adalah suatu program pendidikan yang
berisikan berbagai bahan ajar dan pengalaman belajar yang diprogramkan, direncanakan, dan dirancangkan secara sistemik atas
dasar norma-norma yang berlaku yang dijadikan pedoman dalam proses pembelajaran
bagi tenaga kependidikan dan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan.
Salah
satu fungsi kurikulum ialah sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan yang
pada dasarnya kurikulum memiliki komponen pokok dan komponen penunjang yang
saling berkaitan dan berinteraksi satu sama lainnya dalam rangka mencapai
tujuan tersebut. Komponen merupakan satu sistem dari berbagai komponen yang
saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya, sebab kalau satu
komponen saja tidak ada maka program-program dalam kurikulum tidak berjalan
sebagaimana mestinya.
Para
ahli berbeda pendapat dalam menetapkan komponen-komponen kurikulum. Ada yang
mengemukakan 5 komponen kurikulum dan ada yang mengemukakan hanya 4 komponen
kurikulum. Subandiyah (1993: 4-6) mengemukakan ada 5 komponen kurikulum, yaitu:
(1) komponen tujuan; (2) komponen isi/materi; (3) komponen media (sarana dan
prasarana); (4) komponen strategi dan; (5) komponen proses belajar mengajar.
Sementara
Soemanto (1982) mengemukakan ada 4 komponen kurikulum, yaitu: (1) Objective
(tujuan); (2) Knowledges (isi atau materi); (3) School learning experiences
(interaksi belajar mengajar di sekolah) dan; (4) Evaluation (penilaian).
Pendapat tersebut diikuti oleh Nasution (1988), Fuaduddin dan Karya (1992),
serta Nana Sudjana (1991: 21). Walaupun istilah komponen yang dikemukakan
berbeda, namun pada intinya sama yakni: (1) Tujuan; (2) Isi dan struktur
kurikulum; (3) Strategi pelaksanaan PBM (Proses Belajar Mengajar), dan: (4)
Evaluasi.
Kurikulum
2013
1.
Konsep Pendekatan Scientific dalam Kurikulum 2013
Pada
penerapan (implementasi Kurikulum 2013) di lapangan (baca: sekolah), guru salah
satunya harus menggunakan pendekatan ilmiah (scientific), karena
pendekatan ini lebih efektif hasilnya dibandingkan pendekatan tradisional.
2.
Kriteria Pendekatan Scientific (Pendekatan
Ilmiah)
Lalu bagaimanakah kriteria sebuah
pendekatan pembelajaran sehingga dapat dikatakan sebagai pendekatan ilmiah atau
pendekatan scientific? Berikut ini tujuah (7) kriteria sebuah
pendekatan pembelajaran dapat dikatakan sebagai pembelajaran scientific,
yaitu:
1.
Materi
pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan
logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda,
atau dongeng semata.
2.
Penjelasan
guru, respon siswa, dan interaksi edukatif guru-siswa terbebas dari prasangka
yang serta-merta, pemikiran subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari alur
berpikir logis.
3.
Mendorong
dan menginspirasi siswa berpikir secara kritis, analistis, dan tepat dalam
mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan materi
pembelajaran.
4.
Mendorong
dan menginspirasi siswa mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan,
kesamaan, dan tautan satu sama lain dari materi pembelajaran.
5.
Mendorong
dan menginspirasi siswa mampu memahami, menerapkan, dan mengembangkan pola
berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon materi pembelajaran.
6.
Berbasis
pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapat dipertanggungjawabkan.
7.
Tujuan
pembelajaran dirumuskan secara sederhana dan jelas, namun menarik sistem
penyajiannya.
3.
Langkah-Langkah Pembelajaran pada Pendekatan Scientific (Pendekatan
Ilmiah)
|
|
|
Pendekatan Scientific dan 3 Ranah yang
Disentuh
|
Proses pembelajaran yanag
mengimplementasikan pendekatan scientific akan menyentuh tiga ranah, yaitu:
sikap (afektif), pengetahuan (kognitif), dan keterampilan (psikomotor). Dengan
proses pembelajaran yang demikian maka diharapkan hasil belajar melahirkan
peserta didik yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan
sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi.
Adapun penjelasan dari diagram
pendekatan pembelajaran scientific (pendekatan ilmiah) dengan
menyentuh ketiga ranah tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
Ø Ranah sikap menggamit
transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu mengapa.”
Ø Ranah keterampilan menggamit
transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu bagaimana”.
Ø Ranah pengetahuan
menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu
apa.”
Ø Hasil akhirnya adalah
peningkatan dan keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang
baik (soft skills) dan manusia yang memiliki kecakapan dan
pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skills) dari peserta didik
yang meliputi aspek kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Ø Kurikulum 2013
menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan
pendekatan ilmiah.
Ø Pendekatan ilmiah (scientific
appoach) dalam pembelajaran sebagaimana dimaksud meliputi mengamati,
menanya, menalar, mencoba, membentuk jejaring untuk semua mata pelajaran.
Langkah-langkah pembelajaran scientific meliputi:
|
|
|
Langkah-langkah
pendekatan scientific
|
F.
Metode-Metode
Pembelajaran
Metode pembelajaran ialah ilmu yang mempelajari cara-cara
untuk melakukan aktivitas yang tersistem dari sebuah lingkungan yang terdiri
dari pendidik dan peserta didik untuk saling berinteraksi dalam melakukan suatu
kegiatan sehingga proses belajar berjalan dengan baik dalam arti tujuan
pengajaran tercapai. Berikut
ini adalah macam-macam metode pembelajaran :
1.
Metode Ceramah (Preaching Method)
Metode
ceramah adalah penerangan secara lisan atas bahan pembelajaran kepada
sekelompok pendengar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dalam jumlah
yang relatif besar. Seperti ditunjukkan oleh Mc Leish (1976), melalui ceramah,
dapat dicapai beberapa tujuan.
Dengan metode ceramah,
guru dapat mendorong timbulnya inspirasi bagi pendengarnya.
Gage dan Berliner (1981:457), menyatakan metode ceramah cocok untuk digunakan
dalam pembelajaran dengan ciri-ciri tertentu. Ceramah cocok untuk penyampaian
bahan belajar yang berupa informasi dan jika bahan belajar tersebut sukar
didapatkan.
2.
Metode Ceramah Plus
Metode ceramah plus adalah metode
mengajar yang menggunakan lebih dari satu metode, yakni metode ceramah gabung
dengan metode lainnya. Berikut adalah tiga macam metode ceramah plus yaitu :
a.
Metode ceramah
plus tanya jawab dan tugas (CPTT). Metode ini adalah metode mengajar gabungan
antara ceramah dengan tanya jawab dan pemberian tugas. Metode campuran ini idealnya
dilakukan secara tertib, yaitu :
1. Penyampaian materi oleh guru.
2. Pemberian peluang bertanya jawab
antara pendidik dan peserta didik.
3. Pemberian tugas kepada peserta
didik.
b. Metode ceramah plus diskusi dan tugas (CPDT)
Metode ini
dilakukan secara tertib sesuai dengan urutan pengkombinasiannya, yaitu pertama
pendidik menguraikan materi pelajaran,
kemudian mengadakan diskusi, dan akhirnya memberi tugas.
c. Metode ceramah plus demonstrasi dan latihan (CPDL).
Metode ini
adalah kombinasi antara kegiatan menguraikan materi pelajaran dengan kegiatan
memperagakan dan latihan.
3.
Metode Diskusi
Metode
diskusi adalah proses pelibatan dua orang peserta didik atau lebih
untuk berinteraksi saling bertukar pendapat, dan
atau saling mempertahankan pendapat dalam pemecahan masalah sehingga didapatkan kesepakatan di antara mereka. Pembelajaran yang
menggunakan metode diskusi merupakan pembelajaran yang bersifat interaktif
(Gagne & Briggs. 1979: 251). Menurut Mc. Keachie-Kulik dari hasil
penelitiannya, dibanding metode ceramah, metode diskusi dapat meningkatkan anak
dalam pemahaman konsep dan keterampilan memecahkan masalah. Tetapi dalam
transformasi pengetahuan, penggunaan metode diskusi hasilnya lambat dibanding
penggunaan ceramah. Sehingga metode ceramah lebih efektif untuk meningkatkan
kuantitas pengetahuan anak dari pada metode diskusi.
4.
Metode Curah pendapat
(Brain Storming)
Metode curah pendapat adalah suatu
bentuk diskusi dalam rangka menghimpun gagasan, pendapat, informasi,
pengetahuan, pengalaman, dari semua peserta. Berbeda dengan diskusi, dimana
gagasan dari seseorang dapat ditanggapi (didukung, dilengkapi, dikurangi, atau
tidak disepakati) oleh peserta lain, pada penggunaan metode curah pendapat
pendapat orang lain tidak untuk ditanggapi. Tujuan curah pendapat adalah untuk
membuat kompilasi (kumpulan) pendapat, informasi, pengalaman semua peserta yang
sama atau berbeda. Hasilnya kemudian dijadikan peta informasi, peta pengalaman,
atau peta gagasan (mindmap) untuk menjadi pembelajaran bersama.
5.
Metode Demonstrasi
Demonstrasi adalah metode yang
digunakan untuk membelajarkan peserta didik dengan cara menceritakan dan
memperagakan suatu langkah-langkah pengerjaan sesuatu. Demonstrasi merupakan
praktek yang diperagakan kepada peserta didik. Karena itu, demonstrasi dapat
dibagi menjadi dua tujuan: demonstrasi proses untuk memahami langkah demi
langkah; dan demonstrasi hasil untuk memperlihatkan atau memperagakan hasil
dari sebuah proses. Biasanya, setelah demonstrasi dilanjutkan dengan praktik oleh peserta didik
sendiri. Sebagai hasil, peserta didik akan memperoleh pengalaman belajar
langsung setelah melihat, melakukan, dan merasakan sendiri. Tujuan dari
demonstrasi yang dikombinasikan dengan praktik adalah membuat perubahan pada
ranah keterampilan.
Kelebihan
metode demonstrasi sebagai berikut :
a.
Membantu anak
didik memahami dengan jelas jalannya suatu proses atau kerja suatu benda.
b.
Memudahkan
berbagai jenis penjelasan.
c.
Kesalahan-kesalahan
yeng terjadi dari hasil ceramah dapat diperbaiki melaui pengamatan dan contoh
konkret, dengan menghadirkan objek sebenarnya (Syaiful Bahri Djamarah, 2000).
Kelemahan
metode demonstrasi sebagai berikut :
a.
Anak didik
terkadang sukar melihat dengan jelas benda yang akan dipertunjukkan.
b.
Tidak semua
benda dapat didemonstrasikan.
c.
Sukar
dimengerti bila didemonstrasikan oleh guru yang kurang menguasai apa yang
didemonstrasikan. (Syaiful Bahri Djamarah, 2000).
6.
Metode Praktik
Metode
praktik bertujuan untuk melatih dan meningkatkan kemampuan peserta dalam
mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang diperolehnya. Kegiatan ini
dilakukan di ‘lapangan’, yang bisa berarti di tempat kerja, maupun di
masyarakat. Keunggulan dari metode ini adalah pengalaman nyata yang diperoleh
bisa langsung dirasakan oleh peserta didik, sehingga dapat memicu kemampuan peserta
didik dalam mengembangkan kemampuannya. Sifat metode praktik adalah
pengembangan keterampilan.
7.
Metode
Percobaan (Eksperimental)
Metode
eksperimental adalah suatu cara pengelolaan pembelajaran di mana siswa
melakukan aktivitas percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu
yang dipelajarinya. Dalam metode ini siswa diberi kesempatan untuk mengalami
sendiri atau melakukan sendiri dengan mengikuti suatu proses, mengamati suatu
obyek, menganalisis, membuktikan dan menarik kesimpulan sendiri tentang objek
yang dipelajarinya.
Metode eksperimen mempunyai kelebihan dan kekurangan
sebagai berikut :
Kelebihan metode eksperimen :
a.
Membuat peserta
didik lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaannya.
b.
Membina siswa
untuk membuat terobosan-terobosan baru dengan penemuan dari hasil percobaannya
dan bermanfaat bagi kehidupan manusia.
c.
Hasil-hasil
percobaan yang berharga dapat dimanfaatkan untuk kemakmuran umat manusia.
Kekurangan metode eksperimen :
a.
Metode ini
lebih sesuai untuk bidang-bidang sains dan teknologi.
b.
Metode ini
memerlukan berbagai fasilitas peralatan dan bahan yang tidak selalu mudah
diperoleh dan kadangkala mahal.
c.
Metode ini
menuntut ketelitian, keuletan dan ketabahan.
d.
Setiap
percobaan tidak selalu memberikan hasil yang diharapkan karena mungkin ada
faktor-faktor tertentu yang berada di luar jangkauan kemampuan atau
pengendalian.
8.
Metode Simulasi
Metode
simulasi adalah bentuk metode praktik yang sifatnya untuk mengembangkan keterampilan
peserta didik (keterampilan mental maupun fisik/ teknis). Metode ini
memindahkan suatu situasi yang nyata ke dalam kegiatan atau ruang belajar
karena adanya kesulitan untuk melakukan praktik di dalam situasi yang
sesungguhnya. Misalnya: sebelum melakukan praktik penerbangan, seorang siswa
sekolah penerbangan melakukan simulasi penerbangan terlebih dahulu (belum benar
benar terbang). Situasi yang dihadapi dalam simulasi ini harus dibuat seperti
benar-benar merupakan keadaan yang sebenarnya (replikasi kenyataan). Contoh lainnya,
dalam sebuah pelatihan fasilitasi, seorang peserta melakukan simulasi suatu
metode belajar seakan-akan tengah melakukannya bersama kelompok dampingannya.
Pendamping lainnya berperan sebagai kelompok dampingan yang benar-benar akan
ditemui dalam keseharian peserta (ibu tani, bapak tani, pengurus kelompok,
dsb.). Dalam contoh yang kedua, metode ini memang mirip dengan bermain peran.
Tetapi dalam simulasi, peserta lebih banyak berperan sebagai dirinya sendiri
saat melakukan suatu kegiatan/ tugas yang benar-benar akan dilakukannya.
9.
Metode Bermain Peran (Role Play)
Bermain peran pada prinsipnya
merupakan metode untuk ‘menghadirkan’ peran-peran yang ada dalam dunia nyata ke
dalam suatu ‘pertunjukan peran’ di dalam kelas/ pertemuan, yang kemudian
dijadikan sebagai bahan refleksi agar peserta didik memberikan penilaian
terhadap hasil bermain peran. Misalnya: menilai keunggulan maupun kelemahan
masing-masing peran tersebut, dan kemudian memberikan saran/ alternatif
pendapat bagi pengembangan peran-peran tersebut. Metode ini lebih menekankan
terhadap masalah yang diangkat dalam ‘pertunjukan’, dan bukan pada kemampuan
pemain dalam melakukan permainan peran.
10. Metode
Sandiwara
Metode
sandiwara seperti memindahkan ‘sepenggal cerita’ yang menyerupai kisah nyata atau
situasi sehari-hari ke dalam pertunjukkan. Penggunaan metode ini ditujukan
untuk mengembangkan diskusi dan analisa peristiwa (kasus). Tujuannya adalah
sebagai media untuk memperlihatkan berbagai permasalahan pada suatu tema
(topik) sebagai bahan refleksi dan analisis solusi penyelesaian masalah. Dengan
begitu, ranah penyadaran dan peningkatan kemampuan analisis dikombinasikan
secara seimbang.
11. Metode
Permainan (Games)
Permainan
(games), populer dengan berbagai sebutan antara lain pemanasan (ice-breaker)
atau penyegaran (energizer). Arti harfiah ice-breaker adalah ‘pemecah
es’. Jadi, arti pemanasan dalam proses belajar adalah pemecah situasi kebekuan
pikiran atau fisik peserta. Permainan juga dimaksudkan untuk membangun suasana
belajar yang dinamis, penuh semangat, dan antusiasme. Karakteristik permainan
adalah menciptakan suasana belajar yang menyenangkan (fun) serta serius
tapi santai (sersan). Permainan digunakan untuk penciptaan suasana belajar dari
pasif ke aktif, dari kaku menjadi gerak (akrab), dan dari jenuh menjadi riang
(segar). Metode ini diarahkan agar tujuan belajar dapat dicapai secara efisien
dan efektif dalam suasana gembira meskipun membahas hal-hal yang sulit atau
berat. Sebaiknya permainan digunakan sebagai bagian dari proses belajar, bukan
hanya untuk mengisi waktu kosong atau sekedar permainan. Permainan sebaiknya
dirancang menjadi suatu ‘aksi’ atau kejadian yang dialami sendiri oleh peserta
didik, kemudian ditarik dalam proses refleksi untuk menjadi hikmah yang
mendalam (prinsip, nilai, atau pelajaran-pelajaran). Wilayah perubahan yang
dipengaruhi adalah ranah sikap-nilai.
12. Metode Sosiodrama
Metode Sosiodrama
yaitu cara permainan yang pelaksanaannya berupa peragaan oleh peserta didik
dengan tekanan utama pada karakteristik/ sifat seseorang dengan dasar
memerankan tingkah laku dalam situasi tertentu dengan didasarkan pada cerita
yang utuh, yang dilanjutkan dengan kegiatan diskusi tentang masalah yang baru
diperagakan.
13. Metode Karya Wisata (Field Trip)
Metode
field trip atau karya wisata menurut Mulyasa (2005:112) merupakan suatu
perjalanan atau pesiar yang dilakukan oleh peserta didik untuk memperoleh
pengalaman belajar terutama pengalaman langsung dan merupakan bagian integral
dari kurikulum sekolah. Meskipun karya wisata memiliki banyak hal yang bersifat
non akademis, tujuan umum pendidikan dapat dicapai, terutama berkaitan dengan
pengembangan wawasan pengalaman tentang dunia luar.
Metode karya wisata mempunyai beberapa kelebihan yaitu:
a. Karya wisata memiliki prinsip
pengajaran modern yang memanfaatkan lingkungan nyata dalam pengajaran.
b. Membuat apa yang dipelajari di
sekolah lebih relevan dengan kenyataan dan kebutuhan di masyarakat.
c.
Pengajaran
serupa ini dapat lebih merangsang kreativitas siswa.
d.
Informasi
sebagai bahan pelajaran lebih luas dan aktual.
Kekurangan
metode karya wisata adalah:
a.
Fasilitas yang
diperlukan dan biaya yang diperlukan sulit untuk disediakan oleh siswa atau
sekolah.
b.
Sangat
memerlukan persiapan dan perencanaan yang matang.
c.
Memerlukan
koordinasi dengan guru-guru bidang studi lain agar tidak terjadi tumpang tindih
waktu dan kegiatan selama karya wisata.
d.
Dalam karya
wisata sering unsur rekreasi menjadi lebih prioritas daripada tujuan utama,
sedang unsur studinya menjadi terabaikan.
e.
Sulit mengatur
siswa yang banyak dalam perjalanan dan mengarahkan mereka kepada kegiatan studi
yang menjadi permasalahan.
14. Metode Discovery
Metode Discovery menurut Roestiyah (2001:20) adalah
metode mengajar mempergunakan teknik penemuan. Metode discovery adalah proses
mental dimana siswa mengasimilasi sesuatu konsep atau sesuatu prinsip. Proses
mental tersebut misalnya mengamati, menggolong-golongkan, membuat dugaan,
menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan, dan sebagainya. Dalam hal ini siswa
dibiarkan menemukan sendiri atau mengalami proses mental itu sendiri, guru
hanya membimbing dan memberikan instruksi.
Pada
metode discovery, situasi belajar mengajar berpindah dari situasi teacher
dominated learning menjadi situasi student dominated learning. Dengan
pembelajaran menggunakan metode discovery, maka cara mengajar melibatkan siswa
dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat dengan diskusi, seminar,
membaca sendiri dan mencoba sendiri, agar anak dapat belajar sendiri.
Penggunaan
metode discovery ini guru berusaha untuk meningkatkan aktivitas siswa dalam
proses belajar mengajar. Sehingga metode discovery menurut Roestiyah (2001:20)
memiliki keunggulan sebagai berikut:
a. Teknik ini mampu membantu siswa
untuk mengembangkan, memperbanyak kesiapan, serta panguasaan keterampilan dalam
proses kognitif/ pengenalan siswa.
b. Siswa memperoleh pengetahuan yang
bersifat sangat pribadi / individual sehingga dapat kokoh atau mendalam
tertinggal dalam jiwa siswa tersebut.
c. Dapat meningkatkan kegairahan
belajar para siswa.
Kelemahan metode discovery adalah:
a. Dipersyaratkan keharusan adanya
persiapan mental untuk cara belajar ini.
b.
Metode ini
kurang berhasil untuk mengajar kelas besar.
c.
Mengajar dengan
penemuan mungkin akan dipandang sebagai terlalu mementingkan memperoleh
pengertian dan kurang memperhatikan diperolehnya sikap dan keterampilan.
Sedangkan sikap dan keterampilan diperlukan untuk memperoleh pengertian atau
sebagai perkembangan emosional sosial secara keseluruhan,
d.
Dalam beberapa
ilmu, fasilitas yang dibutuhkan untuk mencoba ide-ide, mungkin tidak ada.
e.
Strategi ini
mungkin tidak akan memberi kesempatan untuk berpikir kreatif, apabila
pengertian-pengertian yang akan ditemukan telah diseleksi terlabih dahulu oleh
pendidik.
15. Metode
Inquiry
Metode
inquiry adalah metode yang mampu menggiring peserta didik untuk menyadari apa
yang telah didapatkan selama belajar. Inquiry menempatkan peserta didik sebagai
subjek belajar yang aktif. (Mulyasa, 2003:234). Teknik inquiry
ini memiliki keunggulan yaitu :
a.
Dapat membentuk
dan mengembangkan konsep dasar kepada siswa, sehingga siswa dapat mengerti
tentang konsep dasar ide-ide dengan lebih baik.
b.
Membantu dalam
menggunakan ingatan dan transfer pada situasi proses belajar yang baru.
c.
Mendorong siswa
untuk berpikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri, bersifat jujur, objektif,
dan terbuka.
d.
Mendorong siswa
untuk berpikir intuitif dan merumuskan hipotesanya sendiri.
e. Memberi kepuasan yang bersifat intrinsik.
f.
Situasi
pembelajaran lebih menggairahkan.
g.
Dapat
mengembangkan bakat atau kecakapan individu.
h.
Memberi
kebebasan peserta didik untuk belajar sendiri.
i.
Menghindarkan
diri dari cara belajar tradisional.
j.
Dapat
memberikan waktu kepada peserta didik, sehingga mereka dapat mengasimilasi dan
mengakomodasi informasi.
G.
MODEL-MODEL
PEMBELAJARAN
1.
Model Debat
Dalam model
debat peserta didik dilatih bagaimana mengeluarkan pendapat seperti dalam model
pembelajaran Think Pair and Share, perbedaannya adalah dalam debat situasi
pembelajaran sengaja dibuat dua kelompok yang berseberangan (pro dan kontra)
siswa dilatih mengutarakan pendapat atau pemikirannya dan bagaimana
mempertahankan pendapatnya dengan alasan-alasan yang logis dan dapat
dipertanggungjawabkan. Bukan berarti siswa diajak saling bermusuhan, melainkan
siswa belajar bagaimana menghargai adanya perbedaan.
2.
Model Talking
Stick
Model
pembelajaran talking stick adalah suatu model pembelajaran kelompok dengan
bantuan tongkat, kelompok yang memegang tongkat terlebih dahulu wajib menjawab
pertanyaan guru setelah siswa mempelajari materi pokoknya, selanjutnya kegiatan
tersebut diulang terus menerus sampai semua kelompok mendapat giliran untuk
menjawab pertanyaan guru. Dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe
talking stick ini, guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok dengan anggota
5 atau 6 orang yang heterogen.
3.
Model Group
Investigation
Model group
investigation seringkali disebut sebagai model pembelajaran kooperatif yang
paling kompleks. Hal ini disebabkan oleh model ini memadukan beberapa landasan
pemikiran, yaitu berdasarkan pandangan kontruktivistik, democratic teaching dan
kelompok belajar kooperatif. Eggen dan Kauchak (dalam Maimunah, 2005 : 21)
mengemukakan group investigation adalah strategi belajar kooperatif yang
menempatkan siswa ke dalam kelompok untuk melakukan investigasi terhadap suatu
topik. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa model group
investigation mempunyai fokus utama untuk melakukan investigasi terhadap suatu
topik atau objek khusus.
4.
Model Role
Playing
Model role playing adalah sejenis
permainan gerak yang didalamnya ada tujuan, aturan dan sekaligus melibatkan
unsur senang (Jill Hadfield, 1986). Dalam role playing peserta didik
dikondisikan pada situasi tertentu di luar kelas, meskipun saat itu
pembelajaran terjadi di dalam kelas. Selain itu, role play seringkali
dimaksudkan sebagai suatu bentuk aktivitas di mana pembelajar membayangkan
dirinya seolah-olah berada di luar kelas dan memainkan peran orang lain. (Basri
Syamsu, 2000).
5.
Model Bertukar
Pasangan
Model bertukar
pasangan adalah salah satu model pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai
subjek pembelajaran (student oriented) dengan suasana kelas yang
demokratis yang saling membelajarkan, memberi peluang lebih besar dalam
memberdayakan potensi siswa secara maksimal dan menekankan pada sikap atau perilaku
bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerjasama
yang teratur dalam kelompok yang terdiri dari dua orang. Belajar dengan
sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya
berbeda.
6.
Model Student
Facilitator and Explaining
Model Student Facilitator and
Explaining merupakan model pembelajaran di mana peserta didik belajar
mempresentasikan ide atau pendapat pada rekan peserta didik lainnya. Model
pembelajaran ini efektif untuk melatih siswa berbicara untuk menyampaikan ide
atau gagasan atau pendapatnya sendiri. Model ini akan relevan apabila siswa
secara aktif ikut serta dalam merancang materi pembelajaran yang akan
dipresentasikan. Untuk itu pembelajaran pembelajaran pada apresiasi drama akan
lebih sesuai dikarenakan siswa secara aktif ikut serta baik itu dalam kegiatan
apresiasi maupun berupa ekspresi sastra sebagai pelakunya.
7.
Model Course
Review Horay
Model Course
Review Horay adalah suatu model pembelajaran dengan pengujian pemahaman
menggunakan kotak yang diisi dengan nomor untuk menuliskan jawabannya, yang
paling dahulu mendapatkan tanda benar langsung berteriak horay.
8.
Model
Demonstrasi
Model Demonstrasi merupakan model peragaan yang
diperlukan pada materi khusus yang memerlukan peragaan. Pembelajaran ini
berhubungan dengan keterampilan proses yang diperagakan agar pembelajaran
bermakna lebih mendalam.
9.
Model Explisit
Instruction
Model Explisit Instruction khusus dirancang untuk
mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan
deklaratif yang dapat diajarkan dengan pola selangkah demi selangkah.
10. Model Take and Give
Model Take and Give merupakan model pembelajaran yang memiliki
sintaks, menuntut siswa mampu memahami materi pelajaran yang diberikan guru dan
teman sebayanya (siswa lain).
11. Model
Integrated Reading and Composition (CIRC)
Model
Integrated Reading and Composition (CIRC) merupakan model pembelajaran khusus
mata pelajaran Bahasa Indonesia atau sejenisnya dalam rangka membaca dan
menemukan ide pokok atau pokok pikiran atau tema sebuah wacana atau kliping.
12. Model
Inside-Outside-Circle
Model
Inside-Outside-Circle merupakan model pembelajaran di mana siswa saling membagi
informasi pada saat yang bersamaan, dengan pasangan yang berbeda dengan singkat
dan teratur. Pembelajaran ini lebih leluasa dilaksanakan di luar kelas atau
tempat terbuka. Karena mobilitas siswa akan cukup tinggi sehingga diperlukan
perhatian ekstra. Namun demikian jika jumlah siswa tidak terlalu banyak dapat
dilaksanakan di dalam kelas. Adapun informasi yang saling dibagi merupakan isi
materi pembelajaran yang mengarah pada tujuan pembelajaran.
13. Model Time
Token Arends
Model Time
Token Arends merupakan model pembelajaran yang bertujuan agar masing-masing
anggota kelompok diskusi mendapatkan kesempatan untuk memberikan konstribusi
mereka dan mendengarkan pandangan serta pemikiran anggota lain. Model ini
memiliki struktur pengajaran yang sangat cocok digunakan untuk mengajarkan
keterampilan sosial serta untuk menghindari siswa mendominasi pembicaraan atau
siswa diam sama sekali.
H. TEKNIK-TEKNIK
PEMBELAJARAN
Teknik adalah cara yang dilakukan
seseorang dalam rangka mengimplementasikan suatu metode. Misalnya, cara
bagaimana yang harus dilakukan agar metode ceramah yang dilakukan berjalan
efektif dan efisien? Dengan demikian sebelum seorang melakukan proses ceramah sebaiknya
memperhatikan kondisi dan situasi.
1. LT
(Learning Together)
: adalah belajar dalam kelompok secara bekerja sama dalam menyelesaikan tugas.
2. TGT (Team
Game Tournament)
: setelah bersama-sama belajar kelompok kemudian para anggota dilombakan dengan
anggota lain dalam kelompok lain.
3. GI (Group
Investigation)
: semua anggota kelompok dituntut merencanakan penelitian beserta pemecahan
masalahnya. Kemudian menentukan apa yang akan dikerjakan dan siapa yang
melaksanakan.
4. ACC (Academic
Contructive Controvertion)
: setiap anggota kelompok dituntut berada dalam konflik intelektual yang dikembangkan
berdasarkan hasil belajar masing-masing. Kemudian setiap anggota kelompok
mengemukakan hasil pemahamannya dengan mempertahankan posisinya.
5. Jigzaw
Procedure : anggota
suatu kelompok dibagi tugas yang berbeda-beda tentang suatu pokok bahasan. Selanjutnya
setiap anggota kelompok berkewajiban menjadi pakar atau narasumber pada
kelompok lain.
6. STAD
(Student Team Achievement Division) : siswa dibagi menjadi kelompok kecil yang di dalamnya
saling belajar dan membelajarkan. Fokusnya keberhasilan seseorang berpengaruh
kepada keberhasilan kelompok.
7. CI
(Complex Instruction)
: menumbuhkembangkan ketertarikan anggota kelompok terhadap pokok bahasan dan
berorientasi pada proyek pada penemuan baru.
8. TAI (Teams
Accelerated Instruction)
: merupakan kombinasi antara pembelajaran kooperatif, kolaboratif, dan
individual.
9. CLS
(Cooperative Learning Structure) : setiap kelompok dibentuk dengan anggota dua siswa,
seorang siswa bertindak sebagai tutor, yang lainnya sebagai tutee secara bergantian.
10. CIRS
(Cooperative Integrative Reading Composition) : mirip dengan TAI namun pada CIRS agar semua anggota
saling menilai kemampuan.
Hal-hal yang harus
diperhatikan dalam membuka dan menutup pelajaran
a. Hubungan antara pendahulua, inti dan tugas-tugas yang
akan dikerjakan nampak jelas dan logis.
b. Menggunakan apersepsi yang tepat yaitu mengenalkan
pokok pelajaran dengan menghubungkan pengetahuan yang telah diketahui peserta
didik.
c. Dalam membuka harus memberi makna dan dalam menutup
harus menyampaikan tugas-tugas untuk pertemuan selanjutnya.
Membuka:
1. Senyum
2. Salam
3. Menanyakan kehadiran
4. Menyampaikan judul atau tema
5. Apersepsi
6. Menyampaikan tujuan
7. Ruang lingkup
8. Memotivasi peserta didik
Menutup:
1. Menanyakan hal-hal yang belum jelas berkaitan dengan
pembelajaran
2. Mengarahkan peserta didik untuk menyimpulkan
pembelajaran
3. Penilaian
4. Menyampaikan tugas.
I.
PEMBELAJARAN KUANTUM
Tokoh utama pada pembelajaran kuantum adalah Bobbi De
Porte pada tahun 1992. Bobbi beranggapan bahwa metode pembelajaran kuantum ini
disesuaikan dengan cara kerja otak manusia dan cara manusia tersebut belajar. Istilah kuantum dipinjam dari kata pada ilmu
fisika, yang dikemukakan oleh Max Planck. Pada teori Max Planck, kuantum
diartikan sebagai teori cahaya yakni interaksi yang mengubah energi menjadi
cahaya.
1. Hakekat Kuantum Dalam Pembelajaran
Kuantum dalam pembelajaran bermakna bahwa perubahan
bermacam-macam interaksi individu (guru dan peserta didik) dalam kegiatan
belajar.
2. Model Quantum:
Quantum Learning dan Quantum Teaching
a.) Quantum Learning
Quantum
Learning merupakan kiat, petunjuk, strategi dan seluruh proses belajar
yang dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat, serta membuat belajar sebagai
suatu proses yang menyenangkan dan bermanfaat.
b.) Quantum Teaching
Menurut
Bobby De Porter, Quantum Teaching adalah konsep yang dapat menguraikan cara-cara
baru dalam memudahkan proses belajar mengajar, lewat pemaduan unsur seni dan
pencapaian-pencapaian yang terarah, apapun mata pelajaran yang diajarkan
Colin
Rose berpendapat bahwa Quantum Teaching adalah panduan praktis dalam mengajar
yang berusaha mengakomodir setiap bakat siswa atau dapat menjangkau setiap
siswa.
Simpulan:
Quantum Teaching merupakan suatu konsep yang dapat menggunakan cara baru dalam
memudahkan proses belajar mengajar, lewat pemaduan unsur seni untuk dapat
menumbuhkan bakat dan kemampuan setiap siswa.
3. Substansi
Quantum Teaching
Quantum
Teaching menciptakan lingkungan belajar yang efektif, dengan cara menggunakan
unsur yang ada pada siswa dan lingkungan belajarnya melalui interaksi yang
terjadi di dalam kelas.
4. Asas Utama Quantum
Teaching
Quantum
Teaching bersandar pada konsep “Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita, dan
Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka”. konsep ini maksudnya adalah mengingatkan
kita (pendidik atau guru) tentang pentingnya memasuki dunia murid sebagai
langkah pertama dalam proses belajar. Hal ini dikarenakan tindakan “memasuki
dunia peserta didik” yang akan memberikan izin kepada kita untuk memimpin,
menuntun, dan memudahkan perjalanan para siswa menuju kesadaran dan ilmu
pengetahuan yang lebih luas.
5. Prinsip Quantum
Teaching
• Semuanya
berbicara
• Semuanya
bertujuan
• Pengalaman
sebelum memberikan nama
• Akui
setiap usaha
• Jika
layak dipelajari dan dirayakan, maka kita harus memberikan pujian pada siswa
yang terlibat aktif pada pelajaran kita.
6. Unsur Pendukung Model Quantum Teaching: Konteks dan Isi
a.) Konteks
Berupa keakraban lingkungan kelas dengan semangat suasana
di dalamnya yang meliputi guru dan peserta didik sehingga terbentuk interaksi
yang seimbang sebagai landasannya serta menumbuhkan minat peserta didik dan
memperbaiki proses transfer informasi. Kerangka rancangan belajar Quantum
Teaching itu berpola TANDUR.
TANDUR
•
Tumbuhkan
•
Alami
•
Namai
•
Demonstrasikan
•
Ulang
•
Rayakan
b.) Isi
Isi
dianggap sebagai penyajian materi pelajaran dengan memanfaatkan bakat dan
kemampuan setiap peserta didik.
7. Penerapan
QuantumTeaching Dalam Pengajaran
• Suasana
belajar yang menggairahkan
• Landasan
yang Kukuh
• Lingkungan
yang Mendukung
• Perancangan
Pengajaran yang Dinamis
8. Substansi Quantum
Learning
Substansi
Quantum Learning sebagai sesuatu yang membentuk atau yang ada dalam kiat,
strategi atau petunjuk dalam proses belajar. Substansi quantum learning dapat
diwujudkan dengan adanya penemuan- penemuan baru dalam pembelajaran.
9. Paradigma Belajar
Quantum Learning
• Setiap
orang adalah guru dan sekaligus murid sehingga bisa saling berfungsi sebagai
fasilitator.
• Bagi
kebanyakan orang belajar akan sangat efektif jika dilakukan dalam suasana yang
menyenangkan, lingkungan dan suasana yang tidak terlalu formal, penataan duduk
setengah melingkar tanpa meja, penataan sinar atau cahaya yang baik sehingga
peserta merasa santai dan relak.
• Setiap
orang mempunyai gaya belajar, bekerja dan berpikir yang unik dan berbeda yang
merupakan pembawaan alamiah sehingga kita tidak perlu merubahnya dengan
demikian perasaan nyaman dan positif akan terbentuk dalam menerima informasi
atau materi yang diberikan oleh fasilitator.
• Modul
pelajaran tidak harus rumit tapi harus dapat disajikan dalam bentuk sederhana
dan lebih banyak kesuatu kasus nyata atau aplikasi langsung.
10. Langkah Penggunaan Quantum
Learning
• Melihat
Sekilas
Sebelum
membaca, lihat materi bacaan secara sekilas pada malam sebelumnya, dan lihat
kembali catatan sebelum memulai pelajaran di sekolah atau melakukan presentasi.
• “Inilah
Saatnya!”
Memanfaatkan
setiap waktu, menjadikan setiap subjek menarik, dan selalu bersikap kreatif.
• Tempat
Belajar
Ketika
belajar perlu suatu tempat dan waktu yang teratur.Atur posisi yang baik dan
gunakan pencahayaan yang tepat.
• Gunakan
Musik
Musik
dapat membantu belajar lebih banyak dengan cara mengendurkan pikiran dan
membuat kita selalu siap.
• Istirahat
Setiap setengah jam, lakukan istirahat 5 menit. Belajar
yang terbaik adalah sebelum dan sesudah istirahat.
• Rencanakan
Sebelumnya
Gunakan kalender untuk mempersiapkan suatu ujian atau
presentasi. Hal ini akan dapat mengurangi stress dan mempertajam
ingatan.
• Berdiri dan Duduk
dengan Tegak
Ketika memasuki ruangan, berjalan dengan tegak dapat
membuat kita merasa yakin, dan duduk dengan tegak agar kita selalu dalam
keadaan berminat dan siaga.
• Kegagalan
adalah Umpan Balik
Umpan balik adalah informasi yang diperlukan untuk
mendapatkan keberhasilan dan memberikan arah.
• Sikap
Kita
dapat memperoleh lebih banyak dari pada yang kita harapkan, kalau kita
memusatkan pikiran kita untuk hal itu.
11. Peran Guru Dalam Pembelajaran Quantum
• EDUCATOR, Guru wajib memberi keteladanan sehingga layak menjadi
panutan bagi peserta didik, berbicaralah yang jujur , jadi pendengar yang baik
dan selalu gembira (tersenyum).
•
CLIMATOR,
FASILITATOR, INSPIRATOR Guru
harus membuat suasana belajar yang menyenangkan/kegembiraan. “learning is most effective
when it’s fun. ‘Kegembiraan’ berarti bangkitnya minat,
adanya keterlibatan penuh, serta terciptanya makna, pemahaman
(penguasaan atas materi yang dipelajari) , dan nilai yang membahagiakan
pada diri peserta didik.
•
CONSELOR,
Guru harus memahami bahwa perasaan dan sikap siswa akan terlibat dan
berpengaruh yang kuat pada proses belajarnya
• MOTIVATOR,
Guru harus bersikap mendorong peserta didik.
DAFTAR PUSTAKA
Aunurrahman. 2010.
Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
Baharudin dan
Esa Nur Wahyuni. 2008. Teori Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta:
Ar-Ruzz Media.
Dakir. 2004. Perencanaan
dan Pengembangan Kurikulum. Jakarta: Rineka Cipta.
Hamalik, Oemar.
2011. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Djamarah,
Syaiful Bahri. 2011. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Nata, Abuddin.
2009. Perspektif Islam Tentang Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana
Pernada Media Group.
Sagala,
Syaiful. 2007. Konsep dan Makna Pembelajaran: Untuk Membantu Memecahkan
Problematika Belajar dan Mengajar. Bandung: Alfabeta.