Jumat, 27 Juni 2014

Azimah dan Rukhsah

Hukum bila dilihat dari sudut berat ringannya atau luas sempit daerah berlakunya, maka dapat dibagi dua, yaitu azimah dan rukhsah.
Azimah ialah peraturan agama yang pokok dan berlaku umum sejak dari semulanya. Arti berlaku umum, ialah berlaku bagi seluruh mukallaf dan dalam semua keadaan dan waktu. Arti pokok dari sejak semulanya, ialah sebelum peraturan itu tidak ada peraturan lain yang mendahuluinya,
Rukhsah ialah peraturan tambahan yang dijalankan berhubung adanya hal-hal yang memberatkan (musyakat= kesukaran) sebagai pengecualian.
Contoh azimah: Semua bangkai haram dimakan oleh semua orang dan dalam keadaan bagaimanapun juga. Ini disebut peraturan pokok.
Contoh rukhsah: Dalam keadaan terpaksa bangkai tersebut boleh dimakan asal tidak bermaksud menentang dan tidak berlebih-lebihan. Peraturan ini adalah pengecualian dari peraturan yang di atas.
Referensi: Hanafie. 1975. Usul Fiqh. Jakarta: Widjaya.

Perbedaan Antara Hukum Taklifi dan Hukum Wadh'i

  1. Hukum taklifi menuntut dikerjakannya atau ditinggalkannya sesuatu pekerjaan atau pilihan antara mengerjakan atau meninggalkannya. Sedang hukum Wadh'i hanya menghubungkan sesuatu dengan yang lain, baik sebagai sebab, syarat, maupun penghalang. Misalnya menghubungkan tergelincirnya matahari dengan adanya kewajiban salat Zuhur, menghubungkan salat dengan taharah dan menghubungkan haid dengan puasa Ramadhan.
  2. Dalam hukum taklifi, tuntutan mengerjakan suatu pekerjaan atau meninggalkannya, atau pilihan antara keduanya, seluruhnya berada dalam kesanggupan dan kemampuan mukallaf. Sedang hukum Wadh'i ada yang dalam kesanggupan mukallaf seperti melakukan transaksi yang menjadi sebab adanya kepemilikan, melakukan taharah yang merupakan syarat sahnya salat dan membunuh yang menjadi penghalang adanya hak mewarisi. Dan ada yang di luar kesanggupan mukallaf seperti hubungan kekerabatan yang menjadi sebab adanya kewarisan, baligh menjadi syarat sahnya jual beli, dan haid menjadi penghalang sahnya salat.
  3. Seluruh ketentuan dalam hukum taklifi hanya berlaku bagi para mukallaf. Sedang hukum Wadh'i berlaku bagi semua manusia, baik mukallaf maupun bukan, seperti sahnya jual beli anak-anak yang belum baligh.
Referensi: Suwarjin. 2012. Ushul Fiqih. Yogyakarta: Teras.

Minggu, 22 Juni 2014

STRATEGI PEMBELAJARAN



 
 Pengertian Strategi Pembelajaran
Dalam dunia pendidikan, strategi diartikan sebagai a plan, method, or series of activities designed to achieves a particular education goal. Jadi, strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Menurut Sanjaya Wina (2007) istilah strategi, sebagaimana banyak istilah lainnya, dipakai dalam banyak konteks dengan makna yang tidak terlalu sama. Di dalam konteks belajar-mengajar, strategi berarti pola umum aktivitas guru-peserta didik dalam perwujudan kegiatan belajar-mengajar. Di bawah ini akan diuraikan beberapa definisi tentang strategi pembelajaran:
1.      Kemp (1995) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan peserta didik agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara objektif dan efisien.
2.      Kozma (dalam Sanjaya 2007) secara umum menjelaskan bahwa strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai setiap kegiatan yang dipilih, yaitu yang dapat memberikan fasilitas atau bantuan kepada peserta didik menuju tercapainya tujuan pembelajaran tertentu.
3.      Gerlach dan Ely menjelaskan bahwa strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pembelajaran dalam lingkungan pembelajaran tertentu. Selanjutnya dijabarkan oleh mereka bahwa strategi pembelajaran dimaksud meliputi sifat, lingkup, dan urutan kegiatan pembelajaran yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik.
4.      Dick dan Carey (1990) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran terdiri atas seluruh komponen materi pembelajaran dan prosedur atau tahapan kegiatan belajar yang digunakan guru dalam rangka membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Menurut mereka strategi pembelajaran bukan hanya terbatas pada prosedur atau tahapan kegiatan belajar saja, melainkan termasuk juga pengaturan materi atau paket program pembelajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik.
5.      Cropper (1998) mengatakan bahwa strategi pembelajaran merupakan pemilihan atas berbagai jenis latihan tertentu sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Ia menegaskan bahwa setiap tingkah laku yang diharapkan dapat dicapai oleh peserta didik dalam kegiatan belajarnya harus dapat dipraktikkan.
Empat Kompetensi Guru sesuai Permendiknas No. 16 Tahun 2007:
1.      Kompetensi Pedagogik
2.      Kompetensi Kepribadian
3.      Kompetensi Sosial
4.      Kompetensi Profesional
Perbedaan Belajar dengan Pembelajaran:
1.      Proses belajar dilakukan secara individu sedangkan proses pembelajaran dilakukan secara kelompok.
2.      Dalam belajar tidak terjadi interaksi sedangkan dalam pembelajaran terjadi interaksi antara sesama pembelajar dan pembelajar dengan pendidik.
Multiple Inteligence menurut Gardner ada 8 yaitu:

1.      Logika
2.      Linguistik
3.      Kinestetik
4.      Spatial

5.      Musik
6.      Interpersonal
7.      Intrapersonal
8.      Natural


Model, Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik dan Taktik Pembelajaran
Arends (1997) menyatakan “The term teaching model refers to a particular approach to instruction that includes its goals, syntax, environment, and management system.” Istilah model pembelajaran mengarah pada suatu pendekatan pembelajaran tertentu termasuk tujuannya, sintaksnya, lingkungan, dan sistem pengelolaannya, sehingga model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas dari pendekatan, strategi, metode atau prosedur. Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, computer, kurikulum, dll. (Joyce, 1992).
            Soekamto mengemukakan maksud dari model pembelajaran adalah “Kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar-mengajar. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Eggen dan Kauchak bahwa model pembelajaran memberikan kerangka dan arah bagi guru untuk mengajar. Model pembelajaran mempunyai 4 ciri khusus yang membedakan dengan strategi, metode atau prosedur. Ciri-ciri tersebut ialah:
1.      Rasional teoritik logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya.
2.      Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana peserta didik belajar (tujuan pembelajaran yang akan dicapai).
3.      Tingkah laku pembelajaran yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil.
4.      Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai.
Adapun istilah pendekatan (approach) dalam pembelajaran menurut Sanjaya (2007) memiliki kemiripan dengan strategi. Sebenarnya pendekatan berbeda baik dengan strategi maupun metode. Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Istilah pendekatan merujuk pada pandangan tentang terjadinya proses yang sifatnya masih sangat umum. Oleh karenanya, strategi dan metode pembelajaran yang digunakan dapat bersumber dari pendekatan tertentu. Roy Killen (1998) misalnya mencatat ada dua pendekatan dalam pembelajaran, yaitu pendekatan yang berpusat pada guru (teacher-centered approach) dan pendekatan yang berpusat pada siswa (student-centered approach). Pendekatan yang berpusat pada guru menurunkan strategi pembelajaran langsung (direct instruction), pembelajaran deduktif atau pembelajaran ekspositori. Adapun pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa menurunkan strategi pembelajaran discovery dan inquiry serta strategi pembelajaran induktif.
            Menurut Fathurrahman Pupuh (2007) metode secara harfiah berarti cara. Dalam pemakaian yang umum, metode diartikan sebagai suatu cara atau prosedur yang dipakai untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam kaitannya dengan pembelajaran, metode didefinisikan sebagai cara-cara menyajikan bahan pembelajaran pada peserta didik untuk tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Dengan demikian, salah satu keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang guru dalam pembelajaran adalah keterampilan memilih metode. Pemilihan metode terkait langsung dengan usaha-usaha guru dalam menampilkan pengajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi, sehingga pencapaian tujuan pengajaran diperoleh secara optimal.
            Oleh karena itu, salah satu hal yang sangat mendasar untuk dipahami guru adalah bagaimana memahami kedudukan metode sebagai salah satu komponen bagi keberhasilan kegiatan belajar-mengajar sama pentingnya dengan komponen-komponen lain dalam keseluruhan komponen pendidikan. Makin tepat metode yang digunakan oleh guru dalam mengajar akan semakin efektif kegiatan pembelajaran. Selain itu masih ada faktor-faktor lain yang juga harus diperhatikan, seperti: faktor guru, anak, situasi (lingkungan belajar), dan media.
            Selain strategi, metode, dan pendekatan pembelajaran, terdapat istilah lain yang kadang-kadang sulit dibedakan, yaitu teknik dan taktik mengajar. Teknik dan taktik mengajar merupakan penjabaran dari metode pembelajaran. Teknik adalah cara yang dilakukan orang dalam rangka mengimplementasikan suatu metode, yaitu cara yang harus dilakukan agar metode yang dilakukan berjalan efektif dan efisien. Dengan demikian, sebelum seseorang melakukan proses ceramah, misalnya, sebaiknya memperhatikan kondisi dan situasi pelaksanaan pembelajaran. Berceramah pada siang hari dengan jumlah peserta didik yang banyak tentu akan berbeda jika dilakukan pada pagi hari dengan jumlah peserta didik yang sedikit. Taktik adalah gaya seseorang dalam melaksanakan suatu teknik atau metode tertentu. Taktik sifatnya lebih individual. Misalnya ada dua orang yang sama-sama menggunakan metode ceramah dalam situasi yang sama, dapat dipastikan mereka akan melakukannya secara berbeda.
            Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran yang diterapkan oleh guru akan tergantung pada pendekatan yang digunakan; dalam menjalankan strategi itu dapat diterapkan berbagai metode pembelajaran. Dalam upaya menjalankan metode pembelajaran, guru dapat menentukan teknik yang dianggap relevan dengan metode.
B.     Teori-Teori Belajar
1.      Teori Psikologi
            Menurut teori ini, terdiri dari jiwa (mind), dan badan (body) atau zat (matter). Jiwa merupakan suatu substansi yang beroperasi secara bebas dari zat (jiwa yang hidup), mempunyai kekuatan untuk berinisiatif, dapat menemukan hukum-hukum alam dan sebagainya. Jiwa bersifat permanen dalam arti tidak dapat melepaskan dari zat, bahkan dapat menytimulir  proses zat itu, sehingga menghasilkan pengalaman-pengalaman baru. Dalam hal ini, konsepsi yang diperoleh secara langsung berasal dari dunia luar melalui sense of experience.
            Selain itu, ada juga pengetahuan kita yang tidak bersumber dari pengalaman, misalnya pengertian tentang ruang dan waktu.  Hal ini bersifat transenden seperti sesuatu yang absolute. Tuhan yang tak terbatas namun kita yakin berdasarkan hasil pemikiran bahwa hal-hal itu tidak ada sesuatu yang menyebabkannya, sesuatu yang tak terbatas. Pemikiran semacam itu, disebut rational knowledge, yang merupakan hasil aktivitas yang kreatif.
            Menurut teori ini, hakikat belajar adalah all learning is a process of developing or training of mind. Dengan demikian pendidikan adalah suatu proses self development/ self cultivation/ self realization dari dalam (inner development).
2.      Teori Psikologi Daya
            Menurut teori ini, jiwa manusia terdiri dari berbagai daya. Manusia hanya memanfaatkan semua daya itu dengan cara melatihnya sehingga ketajamannya dapat dirasakan ketika digunakan. Akibat teori ini, belajar hanyalah bersifat hafalan-hafalan .

3.      Teori Mental State atau Tanggapan
Menurut pencetus teori ini, Herbart, pada prinsipnya jiwa manusia terdiri dari kesan-kesan/ tanggapan-tanggapan yang masuk melalui penginderaan. Kesan-kesan itu berasosiasi satu sama lain dan membentuk mental/ kesadaran manusia. Tambah kuat asosiasi itu, tambah lama kesan-kesan itu tinggal di dalam jiwa kita, kesan-kesan itu akan mudah diungkapkan kembali (reproduksi) apabila kesan-kesan itu tertanam dengan kuat dalam ruang kesadaran.
4.      Teori Behaviorisme
Behaviorisme adalah suatu studi tentang kelakuan manusia. Timbulnya teori ini disebabkan rasa tidak puas terhadap teori psikologi. Daya dan teori mental state yang hanya menekankan pada aspek kesadaran saja. Menurut teori ini, jiwa itu adalah respons-respons fisiologis. Di dalam behaviorisme masalah zat (matter) menempati kedudukan yang utama. Jadi melalui zat/ badan segala kelakuan tentang jiwa dapat diamati.
5.      Teori Asosiasi
Teori Asosiasi disebut juga teori Sarbond (stimulus, respons, and bond). Stimulus berarti rangsangan, respons berarti tanggapan, dan bond berarti dihubungkan. Menurut teori ini rangsangan-rangsangan diciptakan untuk memunculkan tanggapan kemudian dihubungkan antara keduanya dan terjadilah asosiasi.
6.      Teori Connectionisme
Teori ini ditemukan oleh Edward L. Thorndike (1874-1949). Menurut teori ini, bahwa belajar pada dasarnya merupakan sebuah proses asosiasi antara kesan pancaindera (sense of impression) dengan tekanan (impuls) untuk bertindak (impuls to action). Asosiasi yang demikian itu, direncanakan sedemikian rupa dan itulah yang selanjutnya dinamakan “connecting”. Dengan demikian, pada dasarnya belajar itu adalah suatu proses pembentukan hubungan yang intens dan interaktif antara stimulus dan respons, atau aksi dan reaksi. Hubungan antara stimulus dan respons itu akan terjadi sedemikian rupa dan erat sekali , apabila selalu diadakan latihan. Dengan latihan yang diadakan terus-menerus, maka hubungan antara stimulus dan respons akan menjadi terbentuk dengan sendirinya dan otomatis.
7.      Teori Conditioning
Secara harfiah, conditioning berarti penciptaan keadaan. Teori ini dikembangkan oleh Ivan Pavlov (1849-1936) berdasarkan hasil percobaan dengan menggunakan anjing. Berdasarkan percobaan ini, Pavlov merumuskan teori belajar sebagai berikut:
a.       Bahwa suatu perbuatan/ refleks dapat dipindahkan ke perbuatan / refleks lainnya.
b.      Bahwa belajar erat kaitannya dengan prinsip penguatan kembali, atau dengan kata lain bahwa pengulangan-pengulangan dalam hal belajar adalah penting dilakukan.

8.      Teori Gestalt
Psikologi kognitif muncul dipengaruhi oleh psikologi gestalt, dengan tokoh-tokohnya seperti Max Wertheimer, Wolfgang Kohler, dan Kurt Koffka. Para tokoh gestalt tersebut belum merasa puas dengan penemuan-penemuan para ahli sebelumnya yang menyatakan belajar sebagai proses stimulus dan respons serta manusia bersifat mekanistik. Penelitian-penelitian yang dilakukan oleh para tokoh gestalt lebih menekankan pada persepsi. Menurut mereka, manusia bukanlah sekadar makhluk yang hanya bisa bereaksi jika ada stimulus yang memengaruhinya. Tetapi lebih dari itu, manusia adalah makhluk individu yang utuh antara rohani dan jasmaninya. Dengan demikian, pada saat manusia bereaksi dengan lingkungannya, manusia tidak sekadar merespons, tetapi juga melibatkan unsur subjektivitasnya yang antara masing-masing individu bisa berlainan.
Berbeda dengan teori-teori yang dikemukakan oleh para tokoh behaviorisme, terutama Thorndike, yang menganggap bahwa belajar sebagai proses trial and error, teori Gestalt ini memandang belajar adalah proses yang didasarkan pada pemahaman (insight). Karena pada dasarnya setiap tingkah laku seseorang selalu didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi di mana tingkah laku tersebut terjadi. Pada situasi belajar, keterlibatan seseorang secara langsung dalam situasi belajar tersebut akan menghasilkan pemahaman yang dapat membantu individu tersebut memecahkan masalah. Dengan kata lain, teori gestalt ini menyatakan bahwa yang paling penting dalam proses belajar individu adalah dimengertinya apa yang dipelajari oleh individu tersebut. Oleh karena itu, teori belajar gestalt ini disebut teori insight.
Wolfgang Kohler menjelaskan teori gestalt ini melalui percobaan dengan seekor simpanse yang diberi nama Sultan. Dalam eksperimennya, Kohler ingin mengetahui bagaimana fungsi insight dapat membantu memecahkan masalah, dan membuktikan bahwa perilaku simpanse dalam memecahkan masalah yang dihadapinya tidak hanya didasarkan stimulus dan respons atau trial and error saja, tapi juga karena ada pemahaman terhadap masalah dan bagaimana memecahkan masalah tersebut.
9.      Teori belajar menurut Gutrie
Edwin R. Gutrie adalah salah satu penemu teori pembiasaan asosiasi dekat (contiguous conditioning theory). Teori ini menyatakan bahwa peristiwa belajar terjadi karena adanya sebuah kombinasi antara rangsangan yang disandingkan dengan gerakan yang akan cenderung diikuti oleh gerakan yang sama untuk waktu berikutnya (Bell-Gredler, 1986). Dengan kata lain teori ini menyatakan bahwa belajar adalah kedekatan hubungan antara stimulus dan respons yang relevan.
Teori ini menyatakan bahwa apa yang sesungguhnya dipelajari oleh orang adalah reaksi atau respons terakhir yang muncul atas sebuah rangsangan atau stimulus. Artinya, setiap peristiwa belajar hanya mungkin terjadi sekali saja untuk selamanya atau tidak sama sekali terjadi (Reber, 1989; Syah, 2003). Menurut Gutrie, peningkatan hasil belajar secara berangsur-angsur yang dicapai oleh siswa bukanlah hasil dari pelbagai respons kompleks terhadap stimulus-stimulus sebagaimana yang diyakini para behavioris lainnya, melainkan karena kedekatan asosiasi antara stimulus dan respons.
C.    Prinsip – Prinsip Pembelajaran
Prinsip-prinsip pembelajaran merupakan bagian penting yang perlu diketahui oleh seorang pendidik, dengan memahami prinsip-prinsip pembelajaran, seorang pendidik dapat membuat suatu acuan dalam pembelajaran sehingga pembelajaran akan berjalan lebih efektif serta dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Prinsip-prinsip pembelajaran yang perlu diketahui adalah :


1.    Prinsip perhatian dan Motivasi
Dalam proses pembelajaran, perhatian memiliki peranan yang sangat penting sebagai langkah awal dalam memicu aktivitas-aktivitas belajar. Motivasi berhubungan erat dengan minat, siswa yang memiliki minat lebih tinggi pada suatu mata pelajaran cenderung lebih memiliki perhatian yang lebih terhadap mata pelajaran tersebut akan menimbulkan motivasi yang lebih tinggi dalam belajar. Motivasi dalam belajar merupakan hal yang sangat penting juga dalam pelaksanaan proses pembelajaran.
2.    Prinsip Keaktifan
Belajar pada hakikatnya adalah proses aktif di mana seseorang melakukan kegiatan secara sadar untuk mengubah suatu perilaku, terjadi kegiatan merespon terhadap setiap pembelajaran.
3.    Prinsip Keterlibatan Langsung / Berpengalaman
Prinsip ini berhubungan erat dengan prinsip aktivitas, bahwa setiap individu harus terlibat secara langsung untuk mengalaminya, bahwa setiap kegiatan pembelajaran harus melibatkan diri ( setiap individu ) terjun mengalaminya.
4.    Prinsip Pengulangan
Teori yang dapat dijadikan sebagai petunjuk pentingnya prinsip pengulangan dalam belajar, antara lain bisa dicermati dari dalil-dalil belajar yang dikemukan oleh Edward L. Thorndike ( 1974 – 1949 ) tentang law of learning, yaitu “ law of effect, law of exercise and law of readiess
5.    Prinsip Tantangan
Implikasi lain adanya bahan belajar yang dikemas dalam suatu kondisi yang menantang seperti mengandung masalah yang perlu dipecahkan, siswa akan tertantang untuk mempelajarinya. Dengan kata lain pembelajaran yang memberi kesempatan pada siswa untuk turut menemukan konsep-konsep, prinsip-prinsip dan generalisasi akan menyebabkan siswa berusaha mencari dan menemukan konsep-konsep, prinsip-prinsip dan generalisasi tersebut.
6.    Prinsip Balikan dan Penguatan
Siswa akan belajar lebih semangat apabila mengetahui dan mendapat hasil yang baik. Apalagi hasil yang baik, merupakan balikan yang menyenangkan dan berpengaruh baik bagi usaha belajar selanjutnya. Balikan yang segera diperoleh siswa setelah belajar melalui pengamatan melalui metode-metode pembelajaran yang menantang, seperti tanya jawab, diskusi, eksperimen, metode penemuan dan yang sejenisnya akan membuat siswa terdorong untuk belajar lebih giat dan bersemangat.
7.    Prinsip perbedaan Individual
Perbedaan individual dalam belajar, yaitu bahwa proses belajar yang terjadi pada setiap individu berbeda satu dengan yang lain baik secara fisik maupun psikis, untuk itu dalam proses pembelajaran mengandung implikasi bahwa setiap siswa harus dibantu untuk memahami kekuatan dan kelemahan dirinya dan selanjutnya mendapat perlakuan dan pelayanan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan siswa itu sendiri.
D.    Pendekatan-pendekatan Pembelajaran
1.      Pendekatan Kontekstual
Pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata peserta didik dan mendorong mereka membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.

2.      Pendekatan Kontruktivisme
Pendekatan kontruktivisme merupakan pendekatan dalam pembelajaran yang lebih menekankan pada tingkat kreativitas peserta didik dalam menyalurkan ide-ide baru yang dapat diperlukan bagi pengembangan diri peserta didik yang didasarkan pada pengetahuan. Jadi pendekatan kontruktivisme merupakan pembelajaran yang lebih mengutamakan pengalaman langsung dan keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran.
3.      Pendekatan Deduktif
Pendekatan deduktif ditandai dengan pemaparan konsep, definisi dan istilah-istilah pada bagian awal pembelajaran. Pendekatan deduktif dilandasi oleh suatu pemikiran bahwa proses pembelajaran akan berlangsung dengan baik bila siswa telah mengetahui wilayah persoalannya dan konsep dasarnya. (Suwarna, 2005).

4.      Pendekatan Induktif
Ciri utama pendekatan induktif dalam pengolahan informasi adalah menggunakan data untuk membangun konsep atau untuk memperoleh pengertian. Data yang digunakan mungkin merupakan data primer atau dapat pula berupa kasus-kasus nyata yang terjadi di lingkungan.

5.      Pendekatan Humanistik
Pendekatan humanistik menjelaskan bahwa pada hakikatnya setiap diri manusia adalah unik, memiliki potensi individual dan dorongan internal untuk berkembang dan menentukan perilakunya. Humanistik tertuju pada masalah bagaimana tiap individu dipengaruhi dan dibimbing oleh maksud-maksud pribadi yang mereka hubungkan kepada pengalaman-pengalaman mereka sendiri. Dalam kaitan itu maka setiap diri manusia adalah bebas dan memiliki kecenderungan untuk tumbuh dan berkembang mencapai aktualisasi diri.

6.      Pendekatan Tematik
Pendekatan tematik merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran untuk mengaitkan dan memadukan materi ajar dalam suatu mata pelajaran atau antar mata pelajaran dengan semua aspek perkembangan anak, serta kebutuhan dan tuntutan lingkungan sosial keluarga. Pendidikan tematik adalah pendidikan holistic yang mengkombinasikan aspek epistemologi, sosial, psikologi, dan pendidikan pedagogik untuk mendidik anak, yaitu menghubungkan antara otak dan raga, antara pribadi dan pribadi, antara individu dan komunitas, dan antara domain-domain pengetahuan. (Udin Sa’ud dkk, 2006).
7.      Pendekatan Ekspositori
Pendekatan ini bertolak dari pandangan, bahwa tingkah laku kelas dan penyebaran pengetahuan dikontrol dan ditentukan oleh guru atau pendidik. Hakikat mengajar menurut pandangan ini adalah menyampaikan ilmu pengetahuan kepada siswa. Siswa dipandang sebagai objek yang menerima apa yang diberikan guru. Biasanya guru menyampaikan informasi mengenai bahan pengajaran dalam bentuk penjelasan dan penuturan secara lisan, yang dikenal dengan istilah kuliah, ceramah, dan lecture. Dalam pendekatan ini siswa diharapkan dapat menangkap dan mengingat informasi yang telah diberikan guru, serta mengungkapkan kembali apa yang dimilikinya melalui respon yang ia berikan pada saat diberikan pertanyaan oleh guru.
8.      Pendekatan Heuristik
Kata heuristik berasal dari bahasa Yunani yaitu ‘heuriskein‘ yang berarti “saya menemukan“. Pendekatan heuristik adalah pendekatan pembelajaran yang menyajikan sejumlah data dan siswa diminta untuk membuat kesimpulan menggunakan data tersebut, implementasinya dalam pengajaran menggunakan metode discovery dan inquiry. Metode discovery didasarkan pada anggapan, bahwa materi suatu bidang studi tidak saling lepas, tetapi ada kaitan antara materi-materi itu.

9.      Pendekatan Konsep
Pendekatan konsep adalah suatu pendekatan pengajaran yang secara langsung menyajikan konsep tanpa memberi kesempatan kepada siswa untuk menghayati bagaimana konsep itu diperoleh. Konsep merupakan buah pemikiran seseorang atau sekelompok orang yang dinyatakan dalam definisi sehingga melahirkan produk pengetahuan meliputi prinsip, hukum, dan teori. Konsep diperoleh dari fakta, peristiwa, pengalamanm, melalui generalisasi dan berpikir abstrak, kegunaan konsep untuk menjelaskan dan meramalkan.
10.  Pendekatan Proses
Pendekatan proses adalah suatu pendekatan pengajaran memberi kesempatan kepada siswa untuk ikut menghayati proses penemuan atau penyusunan suatu konsep sebagai suatu keterampilan proses. Pembelajaran dengan menekankan kepada belajar proses dilatarbelakangi oleh konsep-konsep belajar menurut teori Naturalisme-Romantis dan teori Kognitif Gestalt. Naturalisme-Romantis menekankan kepada aktivitas siswa, sedangkan Kognitif-Gestalt menekankan pemahaman dan kesatupaduan yang menyeluruh. Pendekatan proses dalam pembelajaran dikenal pula sebagai keterampilan proses, guru menciptakan bentuk kegiatan pengajaran yang bervariasi, agar siswa terlibat dalam berbagai pengalaman. Siswa diminta untuk merencanakan, melaksanakan, dan menilai sendiri suatu kegiatan. Siswa melakukan kegiatan percobaan, pengamatan, pengukuran, perhitungan, dan membuat kesimpulan-kesimpulan sendiri.
E.     Kurikulum
Kurikulum adalah suatu program pendidikan yang berisikan berbagai bahan ajar dan pengalaman belajar yang diprogramkan, direncanakan, dan dirancangkan secara sistemik atas dasar norma-norma yang berlaku yang dijadikan pedoman dalam proses pembelajaran bagi tenaga kependidikan dan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan.
Salah satu fungsi kurikulum ialah sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan yang pada dasarnya kurikulum memiliki komponen pokok dan komponen penunjang yang saling berkaitan dan berinteraksi satu sama lainnya dalam rangka mencapai tujuan tersebut. Komponen merupakan satu sistem dari berbagai komponen yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya, sebab kalau satu komponen saja tidak ada maka program-program dalam kurikulum tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Para ahli berbeda pendapat dalam menetapkan komponen-komponen kurikulum. Ada yang mengemukakan 5 komponen kurikulum dan ada yang mengemukakan hanya 4 komponen kurikulum. Subandiyah (1993: 4-6) mengemukakan ada 5 komponen kurikulum, yaitu: (1) komponen tujuan; (2) komponen isi/materi; (3) komponen media (sarana dan prasarana); (4) komponen strategi dan; (5) komponen proses belajar mengajar.
Sementara Soemanto (1982) mengemukakan ada 4 komponen kurikulum, yaitu: (1) Objective (tujuan); (2) Knowledges (isi atau materi); (3) School learning experiences (interaksi belajar mengajar di sekolah) dan; (4) Evaluation (penilaian). Pendapat tersebut diikuti oleh Nasution (1988), Fuaduddin dan Karya (1992), serta Nana Sudjana (1991: 21). Walaupun istilah komponen yang dikemukakan berbeda, namun pada intinya sama yakni: (1) Tujuan; (2) Isi dan struktur kurikulum; (3) Strategi pelaksanaan PBM (Proses Belajar Mengajar), dan: (4) Evaluasi.
Kurikulum 2013
1.      Konsep Pendekatan Scientific dalam Kurikulum 2013
Pada penerapan (implementasi Kurikulum 2013) di lapangan (baca: sekolah), guru salah satunya harus menggunakan pendekatan ilmiah (scientific), karena pendekatan ini lebih efektif hasilnya dibandingkan pendekatan tradisional.
2.    Kriteria Pendekatan Scientific (Pendekatan Ilmiah)
Lalu bagaimanakah kriteria sebuah pendekatan pembelajaran sehingga dapat dikatakan sebagai pendekatan ilmiah atau pendekatan scientific? Berikut ini tujuah (7) kriteria sebuah pendekatan pembelajaran dapat dikatakan sebagai pembelajaran scientific, yaitu:
1.      Materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata.
2.      Penjelasan guru, respon siswa, dan interaksi edukatif guru-siswa terbebas dari prasangka yang serta-merta, pemikiran subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis.
3.      Mendorong dan menginspirasi siswa berpikir secara kritis, analistis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan materi pembelajaran.
4.      Mendorong dan menginspirasi siswa mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu sama lain dari materi pembelajaran.
5.      Mendorong dan menginspirasi siswa mampu memahami, menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon materi pembelajaran.
6.      Berbasis pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapat dipertanggungjawabkan.
7.      Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana dan jelas, namun menarik sistem penyajiannya.
3.    Langkah-Langkah Pembelajaran pada Pendekatan Scientific (Pendekatan Ilmiah)
pendekatan scientific dan 3 ranah yang disentuh
Pendekatan Scientific dan 3 Ranah yang Disentuh
Proses pembelajaran yanag mengimplementasikan pendekatan scientific akan menyentuh tiga ranah, yaitu: sikap (afektif), pengetahuan (kognitif), dan keterampilan (psikomotor). Dengan proses pembelajaran yang demikian maka diharapkan hasil belajar melahirkan peserta didik yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi.
Adapun penjelasan dari diagram pendekatan pembelajaran scientific (pendekatan ilmiah) dengan menyentuh ketiga ranah tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

Ø  Ranah sikap menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu mengapa.”
Ø  Ranah keterampilan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu bagaimana”.
Ø  Ranah pengetahuan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu apa.”
Ø  Hasil akhirnya adalah peningkatan dan keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik  (soft skills) dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skills) dari peserta didik yang meliputi aspek kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Ø  Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah.
Ø  Pendekatan ilmiah (scientific appoach) dalam pembelajaran sebagaimana dimaksud  meliputi mengamati, menanya, menalar, mencoba, membentuk jejaring untuk semua mata pelajaran.
Langkah-langkah pembelajaran scientific meliputi:
Langkah-langkah pendekatan scientific
Langkah-langkah pendekatan scientific

F.    Metode-Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran ialah ilmu yang mempelajari cara-cara untuk melakukan aktivitas yang tersistem dari sebuah lingkungan yang terdiri dari pendidik dan peserta didik untuk saling berinteraksi dalam melakukan suatu kegiatan sehingga proses belajar berjalan dengan baik dalam arti tujuan pengajaran tercapai. Berikut ini adalah macam-macam metode pembelajaran :
1.      Metode Ceramah (Preaching Method)

Metode ceramah adalah penerangan secara lisan atas bahan pembelajaran kepada sekelompok pendengar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dalam jumlah yang relatif besar. Seperti ditunjukkan oleh Mc Leish (1976), melalui ceramah, dapat dicapai beberapa tujuan.
Dengan metode ceramah, guru dapat mendorong timbulnya inspirasi bagi pendengarnya.
Gage dan Berliner (1981:457), menyatakan metode ceramah cocok untuk digunakan dalam pembelajaran dengan ciri-ciri tertentu. Ceramah cocok untuk penyampaian bahan belajar yang berupa informasi dan jika bahan belajar tersebut sukar didapatkan.

2.      Metode Ceramah Plus

Metode ceramah plus adalah metode mengajar yang menggunakan lebih dari satu metode, yakni metode ceramah gabung dengan metode lainnya. Berikut adalah tiga macam metode ceramah plus yaitu :

a.    Metode ceramah plus tanya jawab dan tugas (CPTT). Metode ini adalah metode mengajar gabungan antara ceramah dengan tanya jawab dan pemberian tugas. Metode campuran ini idealnya dilakukan secara tertib, yaitu :
1.      Penyampaian materi oleh guru.
2.      Pemberian peluang bertanya jawab antara pendidik dan peserta didik.
3.      Pemberian tugas kepada peserta didik.
b.    Metode ceramah plus diskusi dan tugas (CPDT)
Metode ini dilakukan secara tertib sesuai dengan urutan pengkombinasiannya, yaitu pertama pendidik  menguraikan materi pelajaran, kemudian mengadakan diskusi, dan akhirnya memberi tugas.
c.    Metode ceramah plus demonstrasi dan latihan (CPDL).
Metode ini adalah kombinasi antara kegiatan menguraikan materi pelajaran dengan kegiatan memperagakan dan latihan.

3.      Metode Diskusi

Metode diskusi adalah proses pelibatan dua orang peserta didik atau lebih untuk berinteraksi saling bertukar pendapat, dan atau saling mempertahankan pendapat dalam pemecahan masalah sehingga didapatkan kesepakatan di antara mereka. Pembelajaran yang menggunakan metode diskusi merupakan pembelajaran yang bersifat interaktif (Gagne & Briggs. 1979: 251). Menurut Mc. Keachie-Kulik dari hasil penelitiannya, dibanding metode ceramah, metode diskusi dapat meningkatkan anak dalam pemahaman konsep dan keterampilan memecahkan masalah. Tetapi dalam transformasi pengetahuan, penggunaan metode diskusi hasilnya lambat dibanding penggunaan ceramah. Sehingga metode ceramah lebih efektif untuk meningkatkan kuantitas pengetahuan anak dari pada metode diskusi.

4.      Metode Curah pendapat (Brain Storming)

Metode curah pendapat adalah suatu bentuk diskusi dalam rangka menghimpun gagasan, pendapat, informasi, pengetahuan, pengalaman, dari semua peserta. Berbeda dengan diskusi, dimana gagasan dari seseorang dapat ditanggapi (didukung, dilengkapi, dikurangi, atau tidak disepakati) oleh peserta lain, pada penggunaan metode curah pendapat pendapat orang lain tidak untuk ditanggapi. Tujuan curah pendapat adalah untuk membuat kompilasi (kumpulan) pendapat, informasi, pengalaman semua peserta yang sama atau berbeda. Hasilnya kemudian dijadikan peta informasi, peta pengalaman, atau peta gagasan (mindmap) untuk menjadi pembelajaran bersama.

5.      Metode Demonstrasi

Demonstrasi adalah metode yang digunakan untuk membelajarkan peserta didik dengan cara menceritakan dan memperagakan suatu langkah-langkah pengerjaan sesuatu. Demonstrasi merupakan praktek yang diperagakan kepada peserta didik. Karena itu, demonstrasi dapat dibagi menjadi dua tujuan: demonstrasi proses untuk memahami langkah demi langkah; dan demonstrasi hasil untuk memperlihatkan atau memperagakan hasil dari sebuah proses. Biasanya, setelah demonstrasi dilanjutkan dengan praktik oleh peserta didik sendiri. Sebagai hasil, peserta didik akan memperoleh pengalaman belajar langsung setelah melihat, melakukan, dan merasakan sendiri. Tujuan dari demonstrasi yang dikombinasikan dengan praktik adalah membuat perubahan pada ranah keterampilan.
Kelebihan metode demonstrasi sebagai berikut :
a.       Membantu anak didik memahami dengan jelas jalannya suatu proses atau kerja suatu benda.
b.      Memudahkan berbagai jenis penjelasan.
c.       Kesalahan-kesalahan yeng terjadi dari hasil ceramah dapat diperbaiki melaui pengamatan dan contoh konkret, dengan menghadirkan objek sebenarnya (Syaiful Bahri Djamarah, 2000).
Kelemahan metode demonstrasi sebagai berikut :
a.       Anak didik terkadang sukar melihat dengan jelas benda yang akan dipertunjukkan.
b.      Tidak semua benda dapat didemonstrasikan.
c.       Sukar dimengerti bila didemonstrasikan oleh guru yang kurang menguasai apa yang didemonstrasikan. (Syaiful Bahri Djamarah, 2000).

6.      Metode Praktik

Metode praktik bertujuan untuk melatih dan meningkatkan kemampuan peserta dalam mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang diperolehnya. Kegiatan ini dilakukan di ‘lapangan’, yang bisa berarti di tempat kerja, maupun di masyarakat. Keunggulan dari metode ini adalah pengalaman nyata yang diperoleh bisa langsung dirasakan oleh peserta didik, sehingga dapat memicu kemampuan peserta didik dalam mengembangkan kemampuannya. Sifat metode praktik adalah pengembangan keterampilan.

7.      Metode Percobaan (Eksperimental)

Metode eksperimental adalah suatu cara pengelolaan pembelajaran di mana siswa melakukan aktivitas percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajarinya. Dalam metode ini siswa diberi kesempatan untuk mengalami sendiri atau melakukan sendiri dengan mengikuti suatu proses, mengamati suatu obyek, menganalisis, membuktikan dan menarik kesimpulan sendiri tentang objek yang dipelajarinya.
Metode eksperimen mempunyai kelebihan dan kekurangan sebagai berikut :
Kelebihan metode eksperimen :
a.       Membuat peserta didik lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaannya.
b.      Membina siswa untuk membuat terobosan-terobosan baru dengan penemuan dari hasil percobaannya dan bermanfaat bagi kehidupan manusia.
c.       Hasil-hasil percobaan yang berharga dapat dimanfaatkan untuk kemakmuran umat manusia.
Kekurangan metode eksperimen :
a.       Metode ini lebih sesuai untuk bidang-bidang sains dan teknologi.
b.      Metode ini memerlukan berbagai fasilitas peralatan dan bahan yang tidak selalu mudah diperoleh dan kadangkala mahal.
c.       Metode ini menuntut ketelitian, keuletan dan ketabahan.
d.      Setiap percobaan tidak selalu memberikan hasil yang diharapkan karena mungkin ada faktor-faktor tertentu yang berada di luar jangkauan kemampuan atau pengendalian.

8.      Metode Simulasi

Metode simulasi adalah bentuk metode praktik yang sifatnya untuk mengembangkan keterampilan peserta didik (keterampilan mental maupun fisik/ teknis). Metode ini memindahkan suatu situasi yang nyata ke dalam kegiatan atau ruang belajar karena adanya kesulitan untuk melakukan praktik di dalam situasi yang sesungguhnya. Misalnya: sebelum melakukan praktik penerbangan, seorang siswa sekolah penerbangan melakukan simulasi penerbangan terlebih dahulu (belum benar benar terbang). Situasi yang dihadapi dalam simulasi ini harus dibuat seperti benar-benar merupakan keadaan yang sebenarnya (replikasi kenyataan). Contoh lainnya, dalam sebuah pelatihan fasilitasi, seorang peserta melakukan simulasi suatu metode belajar seakan-akan tengah melakukannya bersama kelompok dampingannya. Pendamping lainnya berperan sebagai kelompok dampingan yang benar-benar akan ditemui dalam keseharian peserta (ibu tani, bapak tani, pengurus kelompok, dsb.). Dalam contoh yang kedua, metode ini memang mirip dengan bermain peran. Tetapi dalam simulasi, peserta lebih banyak berperan sebagai dirinya sendiri saat melakukan suatu kegiatan/ tugas yang benar-benar akan dilakukannya.

9.      Metode Bermain Peran (Role Play)

Bermain peran pada prinsipnya merupakan metode untuk ‘menghadirkan’ peran-peran yang ada dalam dunia nyata ke dalam suatu ‘pertunjukan peran’ di dalam kelas/ pertemuan, yang kemudian dijadikan sebagai bahan refleksi agar peserta didik memberikan penilaian terhadap hasil bermain peran. Misalnya: menilai keunggulan maupun kelemahan masing-masing peran tersebut, dan kemudian memberikan saran/ alternatif pendapat bagi pengembangan peran-peran tersebut. Metode ini lebih menekankan terhadap masalah yang diangkat dalam ‘pertunjukan’, dan bukan pada kemampuan pemain dalam melakukan permainan peran.

10.  Metode Sandiwara

Metode sandiwara seperti memindahkan ‘sepenggal cerita’ yang menyerupai kisah nyata atau situasi sehari-hari ke dalam pertunjukkan. Penggunaan metode ini ditujukan untuk mengembangkan diskusi dan analisa peristiwa (kasus). Tujuannya adalah sebagai media untuk memperlihatkan berbagai permasalahan pada suatu tema (topik) sebagai bahan refleksi dan analisis solusi penyelesaian masalah. Dengan begitu, ranah penyadaran dan peningkatan kemampuan analisis dikombinasikan secara seimbang.

11.  Metode Permainan (Games)

Permainan (games), populer dengan berbagai sebutan antara lain pemanasan (ice-breaker) atau penyegaran (energizer). Arti harfiah ice-breaker adalah ‘pemecah es’. Jadi, arti pemanasan dalam proses belajar adalah pemecah situasi kebekuan pikiran atau fisik peserta. Permainan juga dimaksudkan untuk membangun suasana belajar yang dinamis, penuh semangat, dan antusiasme. Karakteristik permainan adalah menciptakan suasana belajar yang menyenangkan (fun) serta serius tapi santai (sersan). Permainan digunakan untuk penciptaan suasana belajar dari pasif ke aktif, dari kaku menjadi gerak (akrab), dan dari jenuh menjadi riang (segar). Metode ini diarahkan agar tujuan belajar dapat dicapai secara efisien dan efektif dalam suasana gembira meskipun membahas hal-hal yang sulit atau berat. Sebaiknya permainan digunakan sebagai bagian dari proses belajar, bukan hanya untuk mengisi waktu kosong atau sekedar permainan. Permainan sebaiknya dirancang menjadi suatu ‘aksi’ atau kejadian yang dialami sendiri oleh peserta didik, kemudian ditarik dalam proses refleksi untuk menjadi hikmah yang mendalam (prinsip, nilai, atau pelajaran-pelajaran). Wilayah perubahan yang dipengaruhi adalah ranah sikap-nilai.

12.  Metode Sosiodrama

Metode Sosiodrama yaitu cara permainan yang pelaksanaannya berupa peragaan oleh peserta didik dengan tekanan utama pada karakteristik/ sifat seseorang dengan dasar memerankan tingkah laku dalam situasi tertentu dengan didasarkan pada cerita yang utuh, yang dilanjutkan dengan kegiatan diskusi tentang masalah yang baru diperagakan.

13.  Metode Karya Wisata (Field Trip)

Metode field trip atau karya wisata menurut Mulyasa (2005:112) merupakan suatu perjalanan atau pesiar yang dilakukan oleh peserta didik untuk memperoleh pengalaman belajar terutama pengalaman langsung dan merupakan bagian integral dari kurikulum sekolah. Meskipun karya wisata memiliki banyak hal yang bersifat non akademis, tujuan umum pendidikan dapat dicapai, terutama berkaitan dengan pengembangan wawasan pengalaman tentang dunia luar.

Metode karya wisata mempunyai beberapa kelebihan yaitu:
a.       Karya wisata memiliki prinsip pengajaran modern yang memanfaatkan lingkungan nyata dalam pengajaran.
b.      Membuat apa yang dipelajari di sekolah lebih relevan dengan kenyataan dan kebutuhan di masyarakat.
c.       Pengajaran serupa ini dapat lebih merangsang kreativitas siswa.
d.      Informasi sebagai bahan pelajaran lebih luas dan aktual.
Kekurangan metode karya wisata adalah:
a.       Fasilitas yang diperlukan dan biaya yang diperlukan sulit untuk disediakan oleh siswa atau sekolah.
b.      Sangat memerlukan persiapan dan perencanaan yang matang.
c.       Memerlukan koordinasi dengan guru-guru bidang studi lain agar tidak terjadi tumpang tindih waktu dan kegiatan selama karya wisata.
d.      Dalam karya wisata sering unsur rekreasi menjadi lebih prioritas daripada tujuan utama, sedang unsur studinya menjadi terabaikan.
e.       Sulit mengatur siswa yang banyak dalam perjalanan dan mengarahkan mereka kepada kegiatan studi yang menjadi permasalahan.

14.  Metode Discovery

Metode Discovery menurut Roestiyah (2001:20) adalah metode mengajar mempergunakan teknik penemuan. Metode discovery adalah proses mental dimana siswa mengasimilasi sesuatu konsep atau sesuatu prinsip. Proses mental tersebut misalnya mengamati, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan, dan sebagainya. Dalam hal ini siswa dibiarkan menemukan sendiri atau mengalami proses mental itu sendiri, guru hanya membimbing dan memberikan instruksi.
Pada metode discovery, situasi belajar mengajar berpindah dari situasi teacher dominated learning menjadi situasi student dominated learning. Dengan pembelajaran menggunakan metode discovery, maka cara mengajar melibatkan siswa dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat dengan diskusi, seminar, membaca sendiri dan mencoba sendiri, agar anak dapat belajar sendiri.
Penggunaan metode discovery ini guru berusaha untuk meningkatkan aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar. Sehingga metode discovery menurut Roestiyah (2001:20) memiliki keunggulan sebagai berikut:
a.       Teknik ini mampu membantu siswa untuk mengembangkan, memperbanyak kesiapan, serta panguasaan keterampilan dalam proses kognitif/ pengenalan siswa.
b.      Siswa memperoleh pengetahuan yang bersifat sangat pribadi / individual sehingga dapat kokoh atau mendalam tertinggal dalam jiwa siswa tersebut.
c.       Dapat meningkatkan kegairahan belajar para siswa.
Kelemahan metode discovery adalah:
a.       Dipersyaratkan keharusan adanya persiapan mental untuk cara belajar ini.
b.      Metode ini kurang berhasil untuk mengajar kelas besar.
c.       Mengajar dengan penemuan mungkin akan dipandang sebagai terlalu mementingkan memperoleh pengertian dan kurang memperhatikan diperolehnya sikap dan keterampilan. Sedangkan sikap dan keterampilan diperlukan untuk memperoleh pengertian atau sebagai perkembangan emosional sosial secara keseluruhan,
d.      Dalam beberapa ilmu, fasilitas yang dibutuhkan untuk mencoba ide-ide, mungkin tidak ada.
e.       Strategi ini mungkin tidak akan memberi kesempatan untuk berpikir kreatif, apabila pengertian-pengertian yang akan ditemukan telah diseleksi terlabih dahulu oleh pendidik.

15.  Metode Inquiry

Metode inquiry adalah metode yang mampu menggiring peserta didik untuk menyadari apa yang telah didapatkan selama belajar. Inquiry menempatkan peserta didik sebagai subjek belajar yang aktif. (Mulyasa, 2003:234). Teknik inquiry ini memiliki keunggulan yaitu :
a.       Dapat membentuk dan mengembangkan konsep dasar kepada siswa, sehingga siswa dapat mengerti tentang konsep dasar ide-ide dengan lebih baik.
b.      Membantu dalam menggunakan ingatan dan transfer pada situasi proses belajar yang baru.
c.       Mendorong siswa untuk berpikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri, bersifat jujur, objektif, dan terbuka.
d.      Mendorong siswa untuk berpikir intuitif dan merumuskan hipotesanya sendiri.
e.       Memberi kepuasan yang bersifat intrinsik.
f.       Situasi pembelajaran lebih menggairahkan.
g.      Dapat mengembangkan bakat atau kecakapan individu.
h.      Memberi kebebasan peserta didik untuk belajar sendiri.
i.        Menghindarkan diri dari cara belajar tradisional.
j.        Dapat memberikan waktu kepada peserta didik, sehingga mereka dapat mengasimilasi dan mengakomodasi informasi.

G.    MODEL-MODEL PEMBELAJARAN

1.      Model Debat
Dalam model debat peserta didik dilatih bagaimana mengeluarkan pendapat seperti dalam model pembelajaran Think Pair and Share, perbedaannya adalah dalam debat situasi pembelajaran sengaja dibuat dua kelompok yang berseberangan (pro dan kontra) siswa dilatih mengutarakan pendapat atau pemikirannya dan bagaimana mempertahankan pendapatnya dengan alasan-alasan yang logis dan dapat dipertanggungjawabkan. Bukan berarti siswa diajak saling bermusuhan, melainkan siswa belajar bagaimana menghargai adanya perbedaan.
2.      Model Talking Stick
Model pembelajaran talking stick adalah suatu model pembelajaran kelompok dengan bantuan tongkat, kelompok yang memegang tongkat terlebih dahulu wajib menjawab pertanyaan guru setelah siswa mempelajari materi pokoknya, selanjutnya kegiatan tersebut diulang terus menerus sampai semua kelompok mendapat giliran untuk menjawab pertanyaan guru. Dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe talking stick ini, guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok dengan anggota 5 atau 6 orang yang heterogen.
3.      Model Group Investigation
Model group investigation seringkali disebut sebagai model pembelajaran kooperatif yang paling kompleks. Hal ini disebabkan oleh model ini memadukan beberapa landasan pemikiran, yaitu berdasarkan pandangan kontruktivistik, democratic teaching dan kelompok belajar kooperatif. Eggen dan Kauchak (dalam Maimunah, 2005 : 21) mengemukakan group investigation adalah strategi belajar kooperatif yang menempatkan siswa ke dalam kelompok untuk melakukan investigasi terhadap suatu topik. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa model group investigation mempunyai fokus utama untuk melakukan investigasi terhadap suatu topik atau objek khusus.
4.      Model Role Playing
Model role playing adalah sejenis permainan gerak yang didalamnya ada tujuan, aturan dan sekaligus melibatkan unsur senang (Jill Hadfield, 1986). Dalam role playing peserta didik dikondisikan pada situasi tertentu di luar kelas, meskipun saat itu pembelajaran terjadi di dalam kelas. Selain itu, role play seringkali dimaksudkan sebagai suatu bentuk aktivitas di mana pembelajar membayangkan dirinya seolah-olah berada di luar kelas dan memainkan peran orang lain. (Basri Syamsu, 2000).
5.      Model Bertukar Pasangan
Model bertukar pasangan adalah salah satu model pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai subjek pembelajaran (student oriented) dengan suasana kelas yang demokratis yang saling membelajarkan, memberi peluang lebih besar dalam memberdayakan potensi siswa secara maksimal dan menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok yang terdiri dari dua orang. Belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda.
6.      Model Student Facilitator and Explaining
Model Student Facilitator and Explaining merupakan model pembelajaran di mana peserta didik belajar mempresentasikan ide atau pendapat pada rekan peserta didik lainnya. Model pembelajaran ini efektif untuk melatih siswa berbicara untuk menyampaikan ide atau gagasan atau pendapatnya sendiri. Model ini akan relevan apabila siswa secara aktif ikut serta dalam merancang materi pembelajaran yang akan dipresentasikan. Untuk itu pembelajaran pembelajaran pada apresiasi drama akan lebih sesuai dikarenakan siswa secara aktif ikut serta baik itu dalam kegiatan apresiasi maupun berupa ekspresi sastra sebagai pelakunya.
7.      Model Course Review Horay
Model Course Review Horay adalah suatu model pembelajaran dengan pengujian pemahaman menggunakan kotak yang diisi dengan nomor untuk menuliskan jawabannya, yang paling dahulu mendapatkan tanda benar langsung berteriak horay.


8.      Model Demonstrasi
Model Demonstrasi merupakan model peragaan yang diperlukan pada materi khusus yang memerlukan peragaan. Pembelajaran ini berhubungan dengan keterampilan proses yang diperagakan agar pembelajaran bermakna lebih mendalam.
9.      Model Explisit Instruction
Model Explisit Instruction khusus dirancang untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang dapat diajarkan dengan pola selangkah demi selangkah.
10.  Model Take and Give
Model Take and Give merupakan model pembelajaran yang memiliki sintaks, menuntut siswa mampu memahami materi pelajaran yang diberikan guru dan teman sebayanya (siswa lain).
11.  Model Integrated Reading and Composition (CIRC)
Model Integrated Reading and Composition (CIRC) merupakan model pembelajaran khusus mata pelajaran Bahasa Indonesia atau sejenisnya dalam rangka membaca dan menemukan ide pokok atau pokok pikiran atau tema sebuah wacana atau kliping.
12.  Model Inside-Outside-Circle
Model Inside-Outside-Circle merupakan model pembelajaran di mana siswa saling membagi informasi pada saat yang bersamaan, dengan pasangan yang berbeda dengan singkat dan teratur. Pembelajaran ini lebih leluasa dilaksanakan di luar kelas atau tempat terbuka. Karena mobilitas siswa akan cukup tinggi sehingga diperlukan perhatian ekstra. Namun demikian jika jumlah siswa tidak terlalu banyak dapat dilaksanakan di dalam kelas. Adapun informasi yang saling dibagi merupakan isi materi pembelajaran yang mengarah pada tujuan pembelajaran.
13.  Model Time Token Arends
Model Time Token Arends merupakan model pembelajaran yang bertujuan agar masing-masing anggota kelompok diskusi mendapatkan kesempatan untuk memberikan konstribusi mereka dan mendengarkan pandangan serta pemikiran anggota lain. Model ini memiliki struktur pengajaran yang sangat cocok digunakan untuk mengajarkan keterampilan sosial serta untuk menghindari siswa mendominasi pembicaraan atau siswa diam sama sekali.



H.    TEKNIK-TEKNIK PEMBELAJARAN

Teknik adalah cara yang dilakukan seseorang dalam rangka mengimplementasikan suatu metode. Misalnya, cara bagaimana yang harus dilakukan agar metode ceramah yang dilakukan berjalan efektif dan efisien? Dengan demikian sebelum seorang melakukan proses ceramah sebaiknya memperhatikan kondisi dan situasi.

1.      LT (Learning Together) : adalah belajar dalam kelompok secara bekerja sama dalam menyelesaikan tugas.
2.      TGT (Team Game Tournament) : setelah bersama-sama belajar kelompok kemudian para anggota dilombakan dengan anggota lain dalam kelompok lain.
3.      GI (Group Investigation) : semua anggota kelompok dituntut merencanakan penelitian beserta pemecahan masalahnya. Kemudian menentukan apa yang akan dikerjakan dan siapa yang melaksanakan.
4.      ACC (Academic Contructive Controvertion) : setiap anggota kelompok dituntut berada dalam konflik intelektual yang dikembangkan berdasarkan hasil belajar masing-masing. Kemudian setiap anggota kelompok mengemukakan hasil pemahamannya dengan mempertahankan posisinya.
5.      Jigzaw Procedure : anggota suatu kelompok dibagi tugas yang berbeda-beda tentang suatu pokok bahasan. Selanjutnya setiap anggota kelompok berkewajiban menjadi pakar atau narasumber pada kelompok lain.
6.      STAD (Student Team Achievement Division) : siswa dibagi menjadi kelompok kecil yang di dalamnya saling belajar dan membelajarkan. Fokusnya keberhasilan seseorang berpengaruh kepada keberhasilan kelompok.
7.      CI (Complex Instruction) : menumbuhkembangkan ketertarikan anggota kelompok terhadap pokok bahasan dan berorientasi pada proyek pada penemuan baru.
8.      TAI (Teams Accelerated Instruction) : merupakan kombinasi antara pembelajaran kooperatif, kolaboratif, dan individual.
9.      CLS (Cooperative Learning Structure) : setiap kelompok dibentuk dengan anggota dua siswa, seorang siswa bertindak sebagai tutor, yang lainnya sebagai tutee secara bergantian.
10.  CIRS (Cooperative Integrative Reading Composition) : mirip dengan TAI namun pada CIRS agar semua anggota saling menilai kemampuan.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam membuka dan menutup pelajaran
a. Hubungan antara pendahulua, inti dan tugas-tugas yang akan dikerjakan nampak jelas dan logis.
b. Menggunakan apersepsi yang tepat yaitu mengenalkan pokok pelajaran dengan menghubungkan pengetahuan yang telah diketahui peserta didik.
c. Dalam membuka harus memberi makna dan dalam menutup harus menyampaikan tugas-tugas untuk pertemuan selanjutnya.
Membuka:
1. Senyum
2. Salam
3. Menanyakan kehadiran
4. Menyampaikan judul atau tema
5. Apersepsi
6. Menyampaikan tujuan
7. Ruang lingkup
8. Memotivasi peserta didik
Menutup:
1. Menanyakan hal-hal yang belum jelas berkaitan dengan pembelajaran
2. Mengarahkan peserta didik untuk menyimpulkan pembelajaran
3. Penilaian
4. Menyampaikan tugas.

I.       PEMBELAJARAN KUANTUM
Tokoh utama pada pembelajaran kuantum adalah Bobbi De Porte pada tahun 1992. Bobbi beranggapan bahwa metode pembelajaran kuantum ini disesuaikan dengan cara kerja otak manusia dan cara manusia tersebut belajar.  Istilah kuantum dipinjam dari kata pada ilmu fisika, yang dikemukakan oleh Max Planck. Pada teori Max Planck, kuantum diartikan sebagai teori cahaya yakni interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya.
1. Hakekat Kuantum  Dalam Pembelajaran
Kuantum dalam pembelajaran bermakna bahwa perubahan bermacam-macam interaksi individu (guru dan peserta didik) dalam kegiatan belajar.
2. Model Quantum: Quantum Learning dan Quantum Teaching
a.) Quantum Learning
Quantum Learning merupakan kiat, petunjuk, strategi dan seluruh proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat, serta membuat belajar sebagai suatu proses yang menyenangkan dan bermanfaat.
b.) Quantum Teaching
Menurut Bobby De Porter, Quantum Teaching adalah konsep yang dapat menguraikan cara-cara baru dalam memudahkan proses belajar mengajar, lewat pemaduan unsur seni dan pencapaian-pencapaian yang terarah, apapun mata pelajaran yang diajarkan
Colin Rose berpendapat bahwa Quantum Teaching adalah panduan praktis dalam mengajar yang berusaha mengakomodir setiap bakat siswa atau dapat menjangkau setiap siswa.
Simpulan: Quantum Teaching merupakan suatu konsep yang dapat menggunakan cara baru dalam memudahkan proses belajar mengajar, lewat pemaduan unsur seni untuk dapat menumbuhkan bakat dan kemampuan setiap siswa.
3. Substansi Quantum Teaching
Quantum Teaching menciptakan lingkungan belajar yang efektif, dengan cara menggunakan unsur yang ada pada siswa dan lingkungan belajarnya melalui interaksi yang terjadi di dalam kelas.


4. Asas Utama Quantum Teaching
Quantum Teaching bersandar pada konsep “Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita, dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka”. konsep ini maksudnya adalah mengingatkan kita (pendidik atau guru) tentang pentingnya memasuki dunia murid sebagai langkah pertama dalam proses belajar. Hal ini dikarenakan tindakan “memasuki dunia peserta didik” yang akan memberikan izin kepada kita untuk memimpin, menuntun, dan memudahkan perjalanan para siswa menuju kesadaran dan ilmu pengetahuan yang lebih luas.
5. Prinsip Quantum Teaching
      Semuanya berbicara
      Semuanya bertujuan
      Pengalaman sebelum memberikan nama
      Akui setiap usaha
      Jika layak dipelajari dan dirayakan, maka kita harus memberikan pujian pada siswa yang terlibat aktif pada pelajaran kita.
6. Unsur Pendukung Model Quantum Teaching: Konteks dan Isi
a.) Konteks
Berupa keakraban lingkungan kelas dengan semangat suasana di dalamnya yang meliputi guru dan peserta didik sehingga terbentuk interaksi yang seimbang sebagai landasannya serta menumbuhkan minat peserta didik dan memperbaiki proses transfer informasi. Kerangka rancangan belajar Quantum Teaching itu berpola TANDUR.
TANDUR
         Tumbuhkan
         Alami
         Namai
         Demonstrasikan
         Ulang
         Rayakan
b.) Isi
Isi dianggap sebagai penyajian materi pelajaran dengan memanfaatkan bakat dan kemampuan setiap peserta didik.
7. Penerapan QuantumTeaching Dalam Pengajaran
      Suasana belajar yang menggairahkan
      Landasan yang Kukuh
      Lingkungan yang Mendukung
      Perancangan Pengajaran yang Dinamis
8. Substansi Quantum Learning
Substansi Quantum Learning sebagai sesuatu yang membentuk atau yang ada dalam kiat, strategi atau petunjuk dalam proses belajar. Substansi quantum learning dapat diwujudkan dengan adanya penemuan- penemuan baru dalam pembelajaran.
9. Paradigma Belajar Quantum Learning
      Setiap orang adalah guru dan sekaligus murid sehingga bisa saling berfungsi sebagai fasilitator.
      Bagi kebanyakan orang belajar akan sangat efektif jika dilakukan dalam suasana yang menyenangkan, lingkungan dan suasana yang tidak terlalu formal, penataan duduk setengah melingkar tanpa meja, penataan sinar atau cahaya yang baik sehingga peserta merasa santai dan relak.
      Setiap orang mempunyai gaya belajar, bekerja dan berpikir yang unik dan berbeda yang merupakan pembawaan alamiah sehingga kita tidak perlu merubahnya dengan demikian perasaan nyaman dan positif akan terbentuk dalam menerima informasi atau materi yang diberikan oleh fasilitator.
      Modul pelajaran tidak harus rumit tapi harus dapat disajikan dalam bentuk sederhana dan lebih banyak kesuatu kasus nyata atau aplikasi langsung.
10. Langkah Penggunaan Quantum Learning
      Melihat Sekilas
Sebelum membaca, lihat materi bacaan secara sekilas pada malam sebelumnya, dan lihat kembali catatan sebelum memulai pelajaran di sekolah atau melakukan presentasi.
      “Inilah Saatnya!”
Memanfaatkan setiap waktu, menjadikan setiap subjek menarik, dan selalu bersikap kreatif.
      Tempat Belajar
Ketika belajar perlu suatu tempat dan waktu yang teratur.Atur posisi yang baik dan gunakan pencahayaan yang tepat.
      Gunakan Musik
Musik dapat membantu belajar lebih banyak dengan cara mengendurkan pikiran dan membuat kita selalu siap.
      Istirahat
Setiap setengah jam, lakukan istirahat 5 menit. Belajar yang terbaik adalah sebelum dan sesudah istirahat.
      Rencanakan Sebelumnya
Gunakan kalender untuk mempersiapkan suatu ujian atau presentasi. Hal ini akan dapat mengurangi stress dan mempertajam ingatan.

      Berdiri dan Duduk dengan Tegak
Ketika memasuki ruangan, berjalan dengan tegak dapat membuat kita merasa yakin, dan duduk dengan tegak agar kita selalu dalam keadaan berminat dan siaga.
      Kegagalan adalah Umpan Balik
Umpan balik adalah informasi yang diperlukan untuk mendapatkan keberhasilan dan memberikan arah.
      Sikap
Kita dapat memperoleh lebih banyak dari pada yang kita harapkan, kalau kita memusatkan pikiran kita untuk hal itu.
11. Peran Guru Dalam Pembelajaran Quantum
      EDUCATOR, Guru wajib memberi keteladanan sehingga layak menjadi panutan bagi peserta didik, berbicaralah yang jujur , jadi pendengar yang baik dan selalu gembira (tersenyum).
       CLIMATOR, FASILITATOR, INSPIRATOR Guru harus membuat suasana belajar yang menyenangkan/kegembiraan. “learning is most effective when it’s fun. ‘Kegembiraan’ berarti bangkitnya minat, adanya keterlibatan penuh, serta terciptanya makna, pemahaman (penguasaan atas materi yang dipelajari) , dan nilai yang membahagiakan pada diri peserta didik.
       CONSELOR, Guru harus memahami bahwa perasaan dan sikap siswa akan terlibat dan berpengaruh yang kuat pada proses belajarnya
      MOTIVATOR, Guru harus bersikap mendorong peserta didik.




DAFTAR PUSTAKA

Aunurrahman. 2010. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
Baharudin dan Esa Nur Wahyuni. 2008. Teori Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Dakir. 2004. Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum. Jakarta: Rineka Cipta.
Hamalik, Oemar. 2011. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2011. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Nata, Abuddin. 2009. Perspektif Islam Tentang Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana Pernada Media Group.
Sagala, Syaiful. 2007. Konsep dan Makna Pembelajaran: Untuk Membantu Memecahkan Problematika Belajar dan Mengajar. Bandung: Alfabeta.