Kamis, 19 Juni 2014

TIGA KERAJAAN BESAR



A. Kerajaan Usmani
a. Latar Belakang Berdirinya Kerajaan Usmani
Pendiri kerajaan ini adalah bangsa Turki dari kabilah Oghuz yang mendiami daerah Mongol dan daerah utara negeri Cina. Dalam jangka waktu kira-kira tiga abad, mereka pindah ke Turkistan kemudian Persia dan Irak. Mereka masuk Islam sekitar abad kesembilan atau kesepuluh, ketika mereka menetap di Asia Tengah. Di bawah tekanan serangan-serangan Mongol pada abad ke-13 M, mereka melarikan diri ke daerah barat dan mencari tempat pengungsian di tengah-tengah saudara-saudara mereka, orang-orang Turki Seljuk, di dataran tinggi Asia Kecil. Di sana di bawah pimpinan Ertoghul, mereka mengabdikan diri kepada Sultan Alauddin II, Sultan Seljuk yang kebetulan sedang berperang melawan Byzantium. Berkat bantuan mereka, Sultan Alauddin mendapat kemenangan. Atas jasa baik itu, Alauddin menghadiahkan sebidang tanah di Asia Kecil yang berbatasan dengan Byzantium. Sejak itu, mereka terus membina wilayah barunya dan memilih kota Syukud sebagai ibu kota.
b. Kemunculan Kerajaan Usmani
Ertoghul meninggal dunia tahun 1289 M. Kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya, Usman. Putra Ertoghul inilah yang dianggap sebagai pendiri Kerajaan Usmani. Usman memerintah antara tahun 1290 M dan 1326 M. Sebagaimana ayahnya, ia banyak berjasa kepada Sultan Alauddin II dengan keberhasilannya menduduki benteng-benteng Byzantium yang berdekatan dengan kota Broessa. Pada tahun 1300 M, bangsa Mongol menyerang kerejaan Seljuk dan Sultan Alauddin terbunuh. Kerajaan Seljuk Rum ini kemudian terpecah-pecah dalam beberapa kerajaan kecil. Usman pun menyatakan kemerdekaan dan berkuasa penuh atas daerah yang didudukinya. Sejak itulah, kerajaan Usmani dinyatakan berdiri. Penguasa pertamanya adalah Usman yang sering disebut juga Usman I.
Setelah Usman I mengumumkan dirinya sebagai Padisyah Al Usman (raja besar keluarga Usman) tahun 699 H (1300 M), setapak demi setapak wilayah kerajaan dapat diperluasnya. Ia menyerang daerah perbatasan Byzantium dan menaklukkan kota Broessa tahun 1317 M, kemudian, pada tahun 1326 M dijadikan sebagai ibu kota kerajaan. Pada masa pemerintahan Orkhan (726 H/ 1326 M-761 H/1359 M) Kerajaan Turki Usmani ini dapat menaklukkan Azmir (Smirna) tahun 1327 M, Thawasyanli (1330 M), Uskandar (1338 M), Ankara (1354 M), dan Gallipoli (1356 M). Daerah ini adalah bagian benua Eropa yang pertama kali diduduki kerajaan Usmani.
Ketika Murad I, pengganti Orkhan, berkuasa (761 H/1359 M-789 H/1389 M), selain memantapkan keamanan dalam negeri, ia melakukan perluasan daerah ke benua Eropa. Ia menaklukkan Andrianopel, yang kemudian dijadikannya sebagai ibu kota kerajaan yang baru, Macedonia, Sopia, Salonia, dan seluruh wilayah bagian utara Yunani. Merasa cemas terhadap kemajuan ekspansi kerajaan ini ke Eropa, Paus mengobarkan semangat perang. Sejumlah besar pasukan sekutu Eropa disiapkan untuk memukul mundur Turki Usmani. Pasukan ini dipimpin oleh Sijisman, raja Hongaria. Namun, Sultan Bayazid I (1389-1403) M, pangganti Murad I, dapat menghancurkan pasukan sekutu Kristen Eropa tersebut.
Ekspansi kerajaan Usmani sempat terhenti beberapa lama. Ketika ekspansi diarahkan ke Konstantinopel, tentara Mongol yang dipimpin oleh Timur Lenk melakukan serangan ke Asia Kecil. Pertempuran hebat terjadi di Ankara tahun 1402 M. Tentara Turki Usmani mengalami kekalahan. Bayazid bersama putranya, Musa tertawan dan wafat dalam tawanan tahun 1403 M.
Kekalahan Bayazid di Ankara itu membawa akibat buruk bagi Turki Usmani. Penguasa-penguasa Seljuk di Asia Kecil melepaskan diri dari genggaman Turki Usmani. Wilayah-wilayah Serbia dan Bulgaria juga memproklamasikan kemerdekaan. Dalam pada itu, putra-putra Bayazid saling berebut kekuasaan. Suasana buruk ini baru berakhir setelah Sultan Muhammad I (1403-1421) M dapat mengatasinya. Sultan Muhammad berusaha keras menyatukan negaranya dan mengembalikan kekuatan dan kekuasaan seperti sediakala.
Setelah Timur Lenk meninggal tahun 1405 M, kesultanan Mongol dipecah dan dibagi-bagi kepada putra-putranya yang satu sama lain saling berselisih. Kondisi ini dimanfaatkan oleh penguasa Turki Usmani untuk melepaskan diri dari kekuasaan Mongol. Namun, pada saat itu juga terjadi perselisihan antara putra-putra Bayazid (Muhammad, Isa, dan Sulaiman). Setelah sepuluh tahun perebutan kekuasaan terjadi, akhirnya Muhammad berhasil mengalahkan saudara-saudaranya. Usaha Muhammad yang pertama kali ialah mengadakan perbaikan-perbaikan dan meletakkan dasar-dasar keamanan dalam negeri. Usahanya ini diteruskan oleh Murad II (1421-1451) M, sehingga Turki Usmani mencapai kemajuannya pada masa Muhammad II atau biasa disebut Muhammad Al-Fatih (1451-1484) M.
Sultan Muhammad Al-Fatih dapat mengalahkan Byzantium dan menaklukkan Konstantinopel tahun 1453 M. Dengan terbukanya Konstantinopel sebagai benteng pertahanan terkuat kerajaan Byzantium, lebih mudahlah arus ekspansi Turki Usmani ke benua Eropa. Akan tetapi, ketika Sultan Salim I (1512-1520) M naik tahta, ia mengalihkan perhatian ke arah timur dengan menaklukkan Persia, Syiria, dan Dinasti Mamalik di Mesir. Usaha Sultan Salim I ini dikembangkan oleh Sultan Sulaiman Al-Qanuni (1520-1566) M. Ia tidak mengarahkan ekspansinya ke salah satu arah timur atau barat, tetapi seluruh wilayah yang berada di sekitar Turki Usmani merupakan objek yang dicita-citakannya. Sulaiman berhasil menundukkan Irak, Belgrado, Pulau Rodhes, Tunis, Budapest, dan Yaman. Dengan demikian, luas wilayah Turki Usmani pada masa Sultan Sulaiman Al-Qanuni mencakup Asia Kecil, Armenia, Irak, Syiria, Hejaz, dan Yaman di Asia; Mesir, Libya, Tunis, dan Aljazair di Afrika; Bulgaria, Yunani, Yugoslavia, Albania, Hongaria, dan Rumania di Eropa.
Mengutip pendapat Carl Brockelmann, Ahmad Syalabi mengatakan, Sultan Salim I pernah meminta kepada khalifah Abbasiyah di Mesir agar menyerahkan kekhalifahan kepadanya, ketika ia menaklukkan Dinasti Mamalik di sana. Pendapat lain menyebutkan bahwa gelar “khalifah” sebenarnya sudah digunakan oleh Sultan Murad (1359-1389) M, setelah ia berhasil menaklukkan Asia Kecil dan Eropa. Dari dua pendapat ini, Ahmad Syalabi berkesimpulan, para Sultan kerajaan Usmani memang tidak perlu menunggu khalifah Abbasiyah menyerahkan gelar itu, karena jauh sebelum masa kerajaan Usmani sudah ada tiga khalifah dalam satu masa. Pada abad ke-10 M, para penguasa dinasti Fathimiyah di Mesir sudah memakai gelar khalifah. Tidak lama setelah itu, Abd Al-Rahman Al-Nashir di Spanyol menyatakan diri sebagai khalifah melanjutkan dinasti Bani Umayyah di Damaskus, bahkan ia mencela para pendahulunya yang berkuasa di Spanyol yang merasa cukup dengan gelar “amir” saja. Karena itu, ada kemungkinan para penguasa Usmani memang sudah menggunakan gelar “khalifah” jauh sebelum mereka dapat menaklukkan dinasti Mamalik, tempat bertahtanya para khalifah Abbasiyah, untuk kemudian meminta gelar itu.
Setelah Sultan Sulaiman meninggal dunia, terjadilah perebutan kekuasaan antara putra-putranya, yang menyebabkan Kerajaan Turki Usmani mundur. Akan tetapi, meskipun terus mengalami kemunduran, kerajaan ini untuk masa beberapa abad masih dipandang sebagai Negara yang kuat, terutama dalam bidang militer. Kerajaan ini memang masih bertahan lima abad lagi setelah itu.
c. Kemajuan Kerajaan Usmani mencakup bidang-bidang berikut :
1. Bidang Kemiliteran dan Pemerintahan
Para pemimpin kerajaan Usmani pada masa-masa pertama, adalah orang yang kuat, sehingga kerajaan dapat melakukan ekspansi dengan cepat dan luas. Meskipun demikian, kemajuan kerajaan Usmani mencapai masa keemasannya itu, bukan semata-mata karena keunggulan politik para pemimpinnya. Masih banyak faktor lain yang mendukung keberhasilan ekspansi itu, seperti keberanian, keterampilan, ketangguhan, dan kekuatan militernya.
Pada masa pemerintahan Orkhan dibentuklah pasukan Jenissari atau Inkisyariah. Pasukan ini berasal dari bangsa-bangsa non-Turki, dan anak-anak Kristen yang masih kecil yang diasramakan dan dibimbing dalam suasana Islam untuk dijadikan prajurit. Di samping Jenissari, ada lagi prajurit dari tentara kaum feodal yang dikirim kepada pemerintah pusat. Pasukan ini disebut tentara atau kelompok militer Thaujiah.
Dalam bidang pemerintahan Turki Usmani mempunyai pengelolaan yang teratur, Sultan sebagai penguasa tertinggi dibantu oleh shadr al-a’zham (perdana menteri), yang membawahi pasya (gubernur).Gubernur mengepalai daerah tingkat I. Di bawahnya terdapat beberapa orang al-zanaziq atau al-‘alawiyah (bupati).
Untuk mengatur urusan pemerintahan Negara, di masa Sultan Sulaiman I, disusun sebuah kitab undang-undang (qanun). Kitab tersebut di beri nama Multaqa al-Abhur, yang menjadi pegangan hukum bagi kerajaan Turki Usmani sampai datangnya reformasi pada abad ke-19. Karena jasa Sultan Sulaiman I yang sangat berharga ini, di ujung namanya ditambah gelar al-Qanuni.
2. Bidang Ilmu Pengetahuan dan Budaya
Kebudayaan Turki Usmani merupakan perpaduan bermacam-macam kebudayaan, di antaranya adalah kebudayaan Persia, Byzantium, dan Arab. Dari kebudayaan Persia, mereka banyak mengambil ajaran-ajaran tentang etika dan tata krama dalam istana raja-raja. Organisasi pemerintahan dan kemiliteran banyak mereka serap dari Byzantium. Sedangkan, ajaran-ajaran tentang prinsip-prinsip ekonomi, sosial, dan kemasyarakatan, keilmuan, dan huruf, mereka terima dari bangsa Arab.[1] Turki Usmani banyak memfokuskan kegiatan dalam bidang militer sehingga bidang ilmu pengetahuan tidak begitu menonjol. Namun demikian, mereka banyak berkiprah dalam pengembangan seni arsitektur Islam berupa bangunan-bangunan masjid yang indah, seperti Masjid Al-Muhammadi atau Masjid Jami’ Sultan Muhammad Al-fatih, Masjid Agung Sulaiman, dan Masjid Abi Ayyub Al-Anshari. Masjid-masjid tersebut dihiasi pula dengan kaligrafi yang indah. Salah satu masjid yang terkenal dengan keindahan kaligrafinya adalah masjid yang asalnya gereja Aya Sopia. Hiasan kaligrafi itu dijadikan penutup gambar-gambar kristiani yang ada sebelumnya.
Pada masa Sulaiman di kota-kota besar dan kota-kota lainnya banyak dibangun masjid, sekolah, rumah sakit, gedung, makam, jembatan, saluran air, villa, dan pemandian umum. Disebutkan bahwa 235  buah dari bangunan itu dibangun di bawah koordinator Sinan, seorang arsitek asal Anatolia.
3. Bidang Keagamaan
Pada masa Turki Usmani, tarekat juga mengalami kemajuan. Tarekat yang paling berkembang ialah tarekat Bektasyi dan tarekat Maulawi. Tarekat Bektasyi mempunyai pengaruh yang sangat dominan di kalangan tentara Jenissari, sehingga mereka sering disebut tentara Bektasyi, sementara tarekat Maulawi mendapat dukungan dari para penguasa dalam mengimbangi Jenissari Bektasyi.
Di pihak lain, kajian-kajian ilmu keagamaan, seperti fiqh, ilmu kalam, tafsir, dan hadis boleh dikatakan tidak mengalami perkembangan yang berarti. Para penguasa lebih cenderung untuk menegakkan satu paham (mazhab) keagamaan dan menekan mazhab lainnya. Sultan Abd Al-Hamid II, misalnya, begitu fanatik terhadap aliran Asy’ariyah. Ia memerintahkan kepada syaikh Husein Al-Jisri menulis kitab Al-Hushun Al-Hamidiyah (Benteng pertahanan Abdul Hamid) untuk melestarikan aliran yang dianutnya. Akibat kelesuan di bidang ilmu keagamaan dan fanatik yang berlebihan, maka ijtihad tidak berkembang. Ulama hanya menulis buku dalam bentuk syarah (penjelasan), dan hasyiyah (semacam catatan) terhadap karya-karya masa klasik.

d. Faktor-faktor penyebab kemunduran Kerajaan Usmani :
1. Wilayah kekuasaan yang luas
Administrasi pemerintahan bagi suatu Negara yang amat luas wilayahnya sangat rumit dan kompleks, sementara administrasi pemerintahan Kerajaan Usmani tidak beres. Di pihak lain, para penguasa sangat berambisi menguasai wilayah yang sangat luas, sehingga mereka terlibat perang terus menerus dengan berbagai bangsa. Hal itu tentu menyedot banyak potensi yang seharusnya dapat digunakan untuk membangun Negara.
2. Heterogenitas Penduduk
Sebagai kerajaan besar, Turki Usmani menguasai wilayah yang amat luas, mencakup Asia Kecil, Armenia, Irak, Syiria, Hejaz, dan Yaman di Asia; Mesir, Libya, Tunis, dan Aljazair di Afrika; dan Bulgaria, Yunani, Yugoslavia, Albania, Hongaria, dan Rumania di Eropa. Wilayah yang luas itu didiami oleh penduduk yang beragam, baik dari segi agama, ras, etnis, maupun adat istiadat. Untuk mengatur penduduk yang beragam dan tersebar di wilayah yang luas itu, diperlukan suatu organisasi pemerintahan yang teratur. Tanpa didukung oleh administrasi yang baik, Kerajaan Usmani hanya akan menanggung beban yang berat akibat heterogenitas tersebut. Perbedaan bangsa dan agama acap kali melatarbelakangi terjadinya pemberontakan dan peperangan.
3. Kelemahan Para Penguasa
Sepeninggal Sulaiman Al-Qanuni, Kerajaan Usmani diperintah oleh sultan-sultan yang lemah, baik dalam kepribadian terutama dalam kepemimpinannya. Akibatnya, pemerintahan menjadi kacau. Kekacauan itu tidak pernah dapat diatasi secara sempurna, bahkan semakin lama semakin parah.
4. Budaya Pungli
Pungli merupakan perbuatan yang sudah umum terjadi dalam Kerajaan Usmani. Setiap jabatan yang hendak diraih oleh seseorang harus “dibayar” dengan sogokan kepada orang yang berhak memberikan jabatan tersebut. Berjangkitnya budaya pungli ini mengakibatkan dekadensi moral kian merajalela yang membuat pejabat semakin rapuh.
5. Pemberontakan tentara Jenissari
Kemajuan ekspansi Kerajaan Usmani banyak ditentukan oleh kuatnya tentara Jenissari. Dengan demikian, dapat dibayangkan bagaimana kalau tentara ini memberontak. Pemberontakan tentara Jenissari terjadi sebanyak empat kali, yaitu pada tahun 1525 M, 1632 M, 1727 M, dan 1826 M.

6. Merosotnya Ekonomi
Akibat perang yang tak pernah berhenti, perekonomian Negara merosot. Pendapatan berkurang, sementara belanja Negara sangat besar termasuk untuk biaya perang.
7. Terjadinya Stagnasi dalam Lapangan Ilmu dan Teknologi
Kerajaan Usmani kurang berhasil dalam pengembangan ilmu dan teknologi, karena hanya mengutamakan pengembangan kekuatan militer. Kemajuan militer yang tidak diimbangi oleh kemajuan ilmu dan teknologi menyebabkan kerajaan ini tidak sanggup menghadapi persenjataan musuh dari Eropa yang lebih maju.

B. Kerajaan Safawi di Persia
a. Latar Belakang Berdirinya Kerajaan Safawi
Kerajaan Safawi berasal dari sebuah gerakan tarekat yang berdiri di Ardabil, sebuah kota di Azerbaijan. Tarekat ini diberi nama Tarekat Safawiyah, didirikan pada waktu yang hampir bersamaan dengan berdirinya kerajaan Usmani. Nama Safawiyah, diambil dari nama pendirinya, Safi Al-Din (1252-1334) M dan nama Safawi itu terus dipertahankan sampai tarekat ini menjadi gerakan politik. Bahkan nama itu terus dilestarikan setelah gerakan ini berhasil mendirikan kerajaan.
Safi Al-Din adalah keturunan dari Imam Syiah yang keenam, Musa Al-Kazhim. Gurunya bernama Syaikh Taj Al-Din Ibrahim Zahidi (1216-1301) M yang dikenal dengan julukan Zahid Al-Gilani. Karena prestasi dan ketekunannya dalam kehidupan tasawuf, Safi Al-Din diambil menantu oleh gurunya tersebut. Safi Al-Din mendirikan tarekat Safawiyah setelah ia menggantikan gurunya dan sekaligus mertuanya yang wafat tahun 1301 M.
Kecenderungan memasuki dunia politik itu mendapat wujud konkretnya pada masa kepemimpinan Juneid (1447-1460) M. Dinasti Safawi memperluas geraknya dengan menambahkan kegiatan politik pada kegiatan keagamaan. Perluasan ini menimbulkan konflik antara Juneid dengan penguasa Kara Koyunlu (domba hitam), salah satu suku bangsa Turki yang berkuasa di wilayah itu. Dalam konflik tersebut, Juneid kalah dan diasingkan ke suatu tempat. Di tempat baru itu ia mendapat perlindungan dari penguasa Diyar Bakr, AK-Koyunlu (domba putih), juga satu suku bangsa Turki. Ia tinggal di istana Uzun Hasan, yang ketika itu menguasai sebagian besar Persia.
Selama dalam pengasingan, Juneid menghimpun kekuatan untuk kemudian beraliansi secara politik dengan Uzun Hasan. Ia juga berhasil mempersunting salah seorang saudara perempuan Uzun Hasan. Pada tahun 1459 M, Juneid mencoba merebut Ardabil tetapi gagal. Pada tahun 1460 M, ia mencoba merebut Sircassia tetapi pasukan yang dipimpinnya dihadang oleh tentara Sirwan. Ia sendiri terbunuh dalam pertempuran tersebut.
Ketika itu anak Juneid, Haidar, masih kecil dan dalam asuhan Uzun Hasan. Ketika itu kepemimpinan gerakan Safawi baru bisa diserahkan kepadanya secara resmi pada tahun 1470 M. Hubungan Haidar dengan Uzun Hasan semakin erat setelah Haidar menikahi salah seorang putrid Uzun Hasan. Dari pernikahan ini lahirlah Ismail yang di kemudian hari menjadi pendiri kerajaan Safawi di Persia.
Kemenangan AK-Koyunlu tahun 1476 M terhadap Kara Koyunlu, membuat gerakan militer Safawi yang dipimpin oleh Haidar dipandang sebagai rival politik oleh AK-Koyunlu dalam meraih kekuasaan selanjutnya. Padahal, sebagaimana telah disebutkan, Safawi adalah sekutu AK-Koyunlu. AK-Koyunlu berusaha melenyapkan kekuatan militer dan kekuasaan Dinasti safawi. Karena itu, ketika Safawi menyerang wilayah Sircassia dan pasukan Sirwan, AK-Koyunlu mengirimkan bantuan militer kepada Sirwan, sehingga pasukan Haidar kalah dan Haidar sendiri terbunuh dalam peperangan itu.
Ali, putra dan pengganti Haidar, didesak bala tentaranya untuk menuntut balas atas kematian ayahnya, terutama terhadap AK-Koyunlu. Tetapi Ya’qub pemimpin AK-Koyunlu dapat menangkap dan memenjarakan Ali bersama saudaranya, Ibrahim, Ismail, dan ibunya, di Fars selama empat setengah tahun (1489-1493) M. Mereka dibebaskan oleh Rustam, putra mahkota AK-Koyunlu, dengan syarat mau membantunya memerangi saudara sepupunya. Setelah saudara sepupu Rustam dapat dikalahkan, Ali bersaudara kembali ke Adabil. Akan tetapi, tidak lama kemudian Rustam berbalik memusuhi dan menyerang Ali bersaudara, dan Ali terbunuh dalam serangan ini (1494 M).
b. Kemunculan Kerajaan Safawi
Kepemimpinan gerakan Safawi, selanjutnya berada di tangan Ismail, yang saat itu masih berusia tujuh tahun. Selama lima tahun Ismail beserta pasukannya bermarkas di Gilan, mempersiapkan kekuatan dan mengadakan hubungan dengan para pengikutnya di Azerbaijan, Syiria, dan Anatolia. Pasukan yang dipersiapkan itu dinamai Qizilbash (baret merah).
Di bawah pimpinan Ismail, pada tahun 1501 M, pasukan Qizilbash menyerang dan mengalahkan AK-Koyunlu di Sharur, dekat Nakhchivan. Pasukan ini terus berusaha memasuki dan menaklukkan Tabriz, ibu kota AK-Koyunlu dan berhasil merebut serta mendudukinya. Di kota ini Ismail memproklamasikan dirinya sebagai raja pertama dinasti Safawi. Ia disebut juga Ismail I.
Ismail I berkuasa sejak 1501 sampai 1524. Pada sepuluh tahun pertama ia berhasil memperluas wilayah kekuasaannya. Ia dapat menghancurkan sisa-sisa kekuatan AK-Koyunlu di Hamadan (1503 M), menguasai propinsi Kaspia di Nazandaran, Gurgan, dan Yazd (1504 M), Diyar Bakr (1505-1507) M, Baghdad dan daerah barat daya Persia(1508 M), Sirwan (1509 M), dan Khurasan (1510 M). hanya dalam waktu sepuluh tahun ituwilayah kekuasaannya sudah meliputi seluruh Persia dan bagian timur Bulan Sabit Subur (Fortile Crescent).
Tidak sampai di situ, ambisi politik mendorongnya untuk terus mengembangkan sayap menguasai daerah-daerah lainnya, seperti Turki Usmani. Namun, Ismail bukan hanya menghadapi musuh yang sangat kuat, tetapi juga sangat membenci golongan Sy’iah. Peperangan dengan Turki Usmani terjadi pada tahun 1514 M di Chaldiran, dekat Tabriz. Karena keunggulan organisasi militer Kerajaan Turki Usmani, dalam peperangan ini Ismail I mengalami kekalahan, terlebih lagi Turki Usmani di bawah pimpinan Sultan Salim dapat menduduki Tabriz. Kerajaan Safawi terselamatkan dengan pulangnya Sultan Usmani ke Turki karena terjadi perpecahan di kalangan militer Turki di negerinya.
Kekalahan tersebut meruntuhkan kebanggaan dan kepercayaan diri Ismail. Akibatnya kehidupan Ismail I berubah. Ia lebih senang menyendiri, menempuh kehidupan hura-hura, dan berburu. Keadaan ini menimbulkan dampak negatif bagi kerajaan Safawi, yaitu terjadinya persaingan segitiga antara pimpinan suku-suku Turki, pejabat-pejabat keturunan Persia, dan Qizilbash dalam merebut pengaruh untuk memimpin kerajaan Safawi.
Rasa permusuhan dengan kerajaan Usmani terus berlangsung sepeninggal Ismail. Peperangan-peperangan antara dua kerajaan besar Islam ini terjadi beberapa kali pada zaman pemerintahan Tahmasp (1524-1576) M, Ismail II (1576-1577) M, dan Muhammad Khudabanda (1577-1587) M. Pada masa tiga raja tersebut, kerajaan Safawi dalam keadaan lemah. Di samping karena sering terjadi peperangan melawan kerajaan Usmani yang lebih kuat, juga karena sering terjadi pertentangan antara kelompok-kelompok di dalam negeri.
Kondisi demikian baru dapat diatasi setelah raja Safawi kelima, Abbas I, naik tahta. Ia memerintah dari tahun 1588-1628 M. Langkah-langkah yang ditempuh oleh Abbas I dalam rangka memulihkan kerajaan Safawi ialah : pertama, berusaha menghilangkan dominasi pasukan Qizilbash atas kerajaan Safawi dengan cara membentuk pasukan baru yang anggotanya terdiri dari budak-budak, berasal dari tawanan perang bangsa Georgia, Armenia, dan Sircassia yang telah ada sejak raja Tahmasp. Kedua, mengadakan perjanjian damai dengan Turki Usmani . Untuk mewujudkan perjanjian ini, Abbas I terpaksa harus menyerahkan wilayah Azerbaijan, Georgia, dan sebagian wilayah Luristan. Di samping itu, Abbas berjanji tidak akan menghina tiga khalifah pertama dalam Islam (Abu Bakar, Umar Ibn Khattab, dan Usman) dalam khutbah-khutbah Jumat. Sebagai jaminan atas syarat-syarat itu, ia menyerahkan saudara sepupunya, Haidar Mirza sebagai sandera di Istambul.
Usaha-usaha yang dilakukan Abbas I tersebut berhasil membuat kerajaan Safawi kuat kembali. Setelah itu, Abbas I mulai memusatkan perhatiannya keluar dengan berusaha merebut kembali wilayah-wilayah kekuasaannya yang hilang. Pada tahun 1598 M, ia menyerang dan menaklukkan Herat. Dari sana, ia melanjutkan serangan merebut Marw dan Balkh. Setelah kekuatan terbina dengan baik, ia juga berusaha mendapatkan kembali wilayah kekuasaannya dari Turki Usmani. Rasa permusuhan antara dua kerajaan yang berbeda aliran agama ini memang tidak pernah padam sama sekali. Abbas I mengarahkan serangan-serangannya ke wilayah kekuasaan kerajaan Usmani itu. Pada tahun 1602 M, di saat Turki Usmani berada di bawah Sultan Muhammad III, pasukan Abbas I menyerang dan berhasil menguasai Tabriz, Sirwan, dan Baghdad. Sedangkan kota-kota Nakhchivan, Erivan, Ganja, dan Tiflis dapat dikuasai tahun 1605-1606 M. Selanjutnya pada tahun 1622 M pasukan Abbas I berhasil merebut kepulauan Hurmuz dan mengubah pelabuhan Gurmun menjadi pelabuhan Bandar Abbas.
Masa kekuasaan Abbas I merupakan puncak kejayaan kerajaan Safawi. Secara politik, ia mampu mengatasi berbagai kemelut di dalam negeri yang mengganggu stabilitas Negara dan berhasil merebut kembali wilayah-wilayah yang pernah direbut oleh kerajaan lain pada masa raja-raja sebelumnya.
c. Kemajuan Kerajaan Safawi tidak hanya terbatas di bidang politik, di bidang lain kerajaan ini juga mengalami kemajuan, di antaranya sebagai berikut :
1. Bidang Ekonomi
Stabilitas politik Kerajaan Safawi pada masa Abbas I ternyata telah memacu perkembangan perekonomian Safawi, lebih-lebih setelah kepulauan Hurmuz dikuasai dan pelabuhan Gumrun diubah menjadi Bandar Abbas. Dengan dikuasainya Bandar ini, maka salah satu jalur dagang laut antara timur dan barat yang biasa diperebutkan oleh Belanda, Inggris, dan Perancis sepenuhnya menjadi milik kerajaan Safawi.
Di samping sector perdangangan, Kerajaan Safawi juga mengalami kemajuan di sector pertanian terutama di daerah Bulan Sabit Subur (Fortile Crescent).
2. Bidang Ilmu Pengetahuan
Kerajaan Safawi memiliki bangsa yang berperadaban tinggi dan berjasa dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Ada beberapa ilmuwan yang selalu hadir di majelis istana, yaitu Baha Al-Din Al-Syaerazi, generalis ilmu pengetahuan, Sadar Al-Din Al-Syaerazi, filosof, dan Muhammad Baqir Ibn Muhammad Damad, filosof, ahli sejarah, teolog, dan seorang yang pernah mengadakan observasi mengenai kehidupan lebah.
3. Bidang Pembangunan Fisik dan Seni
Para penguasa kerajaan ini telah berhasil menciptakan Isfahan, ibu kota kerajaan, menjadi kota yang sangat indah. Di kota tersebut,berdiri bangun bangunan besar lagi indah seperti masjid-masjid, rumah sakit, sekolah-sekolah, jembatan raksasa di atas Zende Rud, dan istana Chihil Sutun.
           
Di bidang seni, kemajuan nampak begitu kentara dalam gaya arsitektur bangunan-bangunannya, seperti terlihat pada Masjid Shah yang dibangun tahun 1611 M. Unsur seni lainnya terlihat pula dalam bentuk kerajinan tangan, keramik, karpet, permadani, pakaian, dan tenunan, mode, tembikar, dan benda seni lainnya. Seni lukis mulai dirintis sejak zaman Tahmasp I. Raja Ismail I pada tahun 1522 M membawa seorang pelukis timur ke Tabriz. Pelukis itu bernama Bizhad.

d. Faktor-faktor penyebab kemunduran Kerajaan Safawi :

a. Pemimpin yang lemah.
b. Pemaksaan aliran Syi’ah terhadap penganut aliran Sunni.
c. Dekadensi moral yang melanda para pemimpin Kerajaan Safawi.
d. Pasukan budak-budak yang dibentuk Abbas I tidak memiliki semangat perang yang tinggi seperti Qizilbash.
e. Konflik intern dalam bentuk perebutan kekuasaan di kalangan keluarga istana.

C. Kerajaan Mughal di India
Kerajaan Mughal berdiri seperempat abad sesudah berdirinya kerajaan Safawi. Kerajaan Mughal bukanlah kerajaan Islam pertama di anak benua India. Awal kekuasaan Islam di wilayah India terjadi pada masa khlifah Al-Walid, dari dinasti Bani Umayyah di bawah pimpinan Muhammad ibn Qasim. Pada fase desintegrasi, dinasti  Ghaznawi mengembangkan kekuasaannya di India di bawah pimpinan Sultan Mahmud dan pada tahun 1020 M, ia berhasil menaklukkan hampir semua kerajaan Hindu di wilayah ini, sekaligus mengislamkan sebagian masyarakatnya. Setelah dinasti Ghaznawi hancur, muncul dinasti-dinasti kecil seperti Mamluk (1206-1290) M, Khalji (1296-1316) M, Tuglug (1320-1412) M, dan dinasti-dinasti lain.
Kerajaan Mughal di India dengan Delhi sebagai ibu kota, didirikan oleh Zahiruddin Babur (1482-1530 M), salah seorang cucu Timur Lenk. Ayahnya bernama Umar Mirza, penguasa Ferghana. Babur mewarisi daerah Ferghana dari orang tuanya ketika ia masih berusia 11 tahun. Ia bertekad menaklukkan Samarkand yang menjadi kota penting di Asia Tengah pada masa itu. Pada mulanya ia mengalami kekalahan, tetapi karena mendapat bantuan dari Raja Syafawi, Ismail I, ia berhasil menaklukkan Samarkand pada tahun 1494 M. Pada tahun 1504 M, ia menduduki Kabul, ibu kota Afghanistan.
Setelah Kabul dapat ditaklukkan, Babur meneruskan ekspansinya ke India. Kala itu, Ibrahim Lodi, penguasa India, dilanda krisis sehingga stabilitas pemerintahan menjadi kacau. Alam Khan, paman dari Ibrahim Lodi, dan Daulat Khan, Gubernur Lahore kemudian meminta bantuan Babur untuk menjatuhkan Ibrahim Lodi. Permohonan itu langsung diterimanya. Pada tahun 1525 M, Babur berhasil menguasai Punjab dengan ibu kotanya Lahore. Setelah itu, ia memimpin tentaranya menuju Delhi. Pada tanggal 21April 1526 M, terjadilah pertempuran yang dashyat di Panipat. Ibrahim beserta ribuan tentaranya terbunuh dalam pertempuran itu. Babur memasuki kota Delhi sebagai pemenang dan menegakkan pemerintahannya disana. Dengan demikian berdirilah Kerajaan Mughal di India.
Setelah Kerajaan Mughal berdiri, raja- raja Hindu di seluruh India menyusun angkatan perang yang besar untuk menyerang Babur. Namun, pasukan Hindu ini dapat dikalahkan oleh Babur. Sementara itu, di Afgahanistan masih ada golongan yang setia kepada keluarga Lodi. Mereka mengangkat adik kandung Ibrahim Lodi, Mahmud menjadi Sultan. Tetapi Sultan Mahmud Lodi dengan mudah dikalahkan Babur dalam pertempuran dekat Gogra tahun 1529 M. Pada tahun 1530 M, Babur meninggal dunia dalam usia 48 tahun setelah memerintah selama 30 tahun, dengan meninggalkan kejayaan-kejayaan yang cemerlang. Pemerintahan selanjutnya dipegang oleh putra sulungnya, Humayun.
Dalam melaksanakan pemerintahan, Humayun banyak menghadapi tantangan. Sepanjang masa kekuasaannya selama sembilan tahun (1530-1539) M negara tidak pernah aman. Ia senantiasa berperang melawan musuh. Di antara tantangan yang muncul adalah pemberontakan Bahadur Syah, penguasa Gujarat yang memisahkan diri dari Delhi. Pemberontakan ini dapat dipadamkan. Bahadur Syah melarikan diri dan Gujarat dapat dikuasai. Pada tahun 1540 M terjadi pertempuran dengan Sher Khan di Kanauj. Dalam pertempuran ini Humayun mengalami kekalahan. Ia terpaksa melarikan diri ke Kandabar dan selanjutnya ke Persia. Di Persia ia menyusun kembali tentaranya. Kemudian dari sini ia menyerang musuh-musuhnya dengan bantuan raja Persia. Humayun dapat mengalahkan Sher Khan setelah hampir 15 tahun meninggalkan Delhi. Ia kembali ke India dan menduduki tahta Kerajaan Mughal pada 1555 M. Setahun setelah itu, tepatnya tanggal 24 januari1556 M, ia meninggal dunia karena terjatuh dari tangga perpustakaannya, Din Panah.
Humayun digantikan putranya, Akbar, yang berusia 14 tahun. Karena ia masih muda maka urusan kerajaan diserahkan kepada Bairam Khan, seorang Syi’i. Pada masa Akbar ini, Kerajaan Mughal mencapai masa keemasannya.
Di awal masa pemerintahannya, Akbar mengahadapi pemberontakan sisa-sisa keturunan Sher Khan yang masih berkuasa di Punjab. Pemberontakan yang mengancam kekuasaan Akbar adalah pemberontakan yang dipimpin oleh Himu yang menguasai Gwalior dan Agra. Pasukan pemberontak itu berusaha memasuki kota Delhi. Bairam Khan menyambut kedatangan pasukan tersebut, sehingga terjadilah peperangan yang dahsyat, yang disebut Panipat II pada tahun 1556 M. Himu dapat dikalahkan. ia ditangkap, kemudian dieksekusi. Dengan demikian, Gwalior dan Agra dapat dikuasai penuh.
Setelah Akbar dewasa ia berusaha menyingkirkan Bairam Khan yang sudah mempunyai pengaruh sangat kuat dan terlampau memaksakan kepentingan aliran Syi’ah. Bairam memberontak, tetapi dapat dikalahkan oleh Akbar di Jullandur tahun 1561 M. Setelah persoalan-persoalan dalam negeri dapat diatasi, Akbar mulai menyusun program ekspansi. Ia berhasil menguasai Chundar, Kashmir, Orissa, Deccan, Gawilgarh, Narhala, Ahmadnagar, dan Asirgah. Wilayah yang sangat luas itu diperintah dalam suatu pemerintahan militeristik.
Dalam pemerintahan militeristik tersebut, sultan adalah penguasa dictator, pemerintahan daerah dipegang oleh seorang kepala komandan, sedang subdistrik dipegang oleh seorang komandan. Jabatan-jabatan sipil juga diberi jenjang kepangkatan yang bercorak kemiliteran. Pejabat-pejabat memang diharuskan mengikuti latihan kemiliteran. Akbar juga menerapkan apa yang dinamakan dengan politik sulakhul (toleransi universal). Dengan politik ini, semua rakyat India dipandang sama.
Kemajuan yang dicapai Akbar masih dapat dipertahankan oleh tiga sultan berikutnya, yaitu Jehangir (1605-1628) M, Syah Jehan (1628-1658) M, dan Aungrazeb (1658-1707) M. Tiga sultan penerus Akbar ini memang terhitung raja-raja yang besar dan kuat. Setelah itu, kemajuan kerajaan Mughal tidak dapat dipertahankan oleh raja-raja berikutnya.
Kemajuan yang dicapai Kerajaan Mughal di antaranya sebagai berikut :
1. Bidang Ekonomi
Kemantapan stabilitas politik karena sistem pemerintahan yang diterapkan Akbar membawa kerajaan Mughal dapat mengembangkan program pertanian, pertambangan, dan perdagangan. Akan tetapi, sumber keuangan Negara lebih banyak bertumpu pada sektor pertanian. Di sektor pertanian ini, komunikasi antara pemerintah dan petani diatur dengan baik. Pengaturan itu didasarkan atas lahan pertanian. Deh, merupakan unit lahan pertanian terkecil. Beberapa deh tergabung dalam pargana (desa). Komunitas petani dipimpin oleh seorang mukaddam. Melalui para mukaddam itulah pemerintah berhubungan dengan petani. Kerajaan berhak atas sepertiga dari hasil pertanian di negeri itu. Hasil pertanian kerajaan Mughal yang terpenting ketika itu adalah biji-bijian, padi, kacang, tebu, sayur-sayuran, rempah-rempah, tembakau, kapas, nila, dan bahan-bahan celupan.
Di samping untuk kebutuhan dalam negeri, hasil pertanian itu diekspor ke Eropa, Afrika, Arabia, dan Asia Tenggara bersamaan dengan hasil kerajian, seperti pakaian tenun dan kain tipis bahan gordyn yang banyak diproduksi di Gujarat dan Bengal. Untuk meningkatkan produksi, Jehangir mengizinkan Inggris (1611 M) dan Belanda (1617 M) mendirikan pabrik pengelolaan hasil pertanian di Surat.
2. Bidang Pengetahuan, Seni, dan Budaya
Di bidang pengetahuan kebahasaan Akbar telah menjadikan tiga bahasa sebagai bahasa nasional, yaitu Bahasa Arab sebagai bahasa Agama, Bahasa Turki sebagai bahasa bangsawan, dan Bahasa Persia sebagai bahasa istana dan kesusastraan. Selain itu, Akbar telah memodifikasi tiga bahasa tersebut ditambah dengan bahasa Hindu dan menjadi bahasa Urdu.[2] Karya seni yang menonjol adalah karya sastra gubahan penyair istana, baik yang berbahasa Persia maupun India. Penyair India yang terkenal adalah Malik Muhammad Jayazi, seorang sastrawan sufi yang menghasilkan karya besar berjudul Padmavat, sebuah karya alegoris yang mengandung pesan kebajikan manusia. Pada masa Aungrazeb, muncul seorang sejarawan bernama Abu Fadl dengan karyanya Akhbar Nama dan Aini Akhbari, yang memaparkan sejarah kerajaan Mughal berdasarkan figur pemimpinnya. Di bidang filsafat cukup maju dan satu di antara tokohnya adalah Akbar sendiri, sementara ahli tasawuf yang terkenal pada masa itu adalah Mubarok, dan Abu Faidl.
Karya seni yang masih dapat dinikmati sekarang dan merupakan karya seni terbesar yang dicapai kerajaan Mughal adalah karya-karya arsitektur yang indah dan mengagumkan. Pada masa Akbar dibangun istana Fatpur Sikri di Sikri, villa, dan masjid-masjid yang indah. Pada masa Syah Jehan, dibangun masjid berlapiskan mutiara dan Taj Mahal di Agra, Masjid Raya Delhi dan istana indah di Lahore.
Fakto-faktor yang menyebabkan kekuasaan kerajaan Mughal menurun, yaitu :
a. Terjadi stagnasi dalam pembinaan kekuatan militer sehingga operasi militer Inggris di wilayah-wilayah pantai tidak dapat segera dipantau oleh kekuasaan maritime Mughal. Begitu juga kekuatan pasukan darat. Bahkan, mereka kurang terampil dalam mengoperasikan persenjataan buatan Mughal sendiri.
b. Dekadensi moral dan hidup mewah di kalangan elit politik, yang mengakibatkan pemborosan dalam penggunaan uang negara.
c. Pendekatan Aurangzeb yang terlampau “kasar” dalam melaksanakan ide-ide puritan dan kecenderungan asketisnya, sehingga konflik antaragama sangat sukar diatasi oleh sultan-sultan sesudahnya.
d. Semua pewaris tahta kerajaan pada paruh terakhir tidak memiliki kecakapan dalam bidang kepemimpinan.




















BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Kerajaan Usman berdiri tahun 699 H (1300 M) dengan penguasa pertamanya adalah Usman yang bergelar Padisyah Al Usman. Kerajaan Usman mencapai puncak kejayaan pada masa Muhammad II atau biasa disebut Muhammad Al-Fatih (1451-1484 M). Kemajuan-kemajuan yang telah dicapai kerajaan Usman meliputi bidang kemiliteran dan pemerintahan, bidang ilmu pengetahuan dan budaya serta bidang keagamaan.
Kerajaan Safawi didirikan oleh Ismail pada tahun 907 H/1501 M di Tabriz. Kerajaan Syafawi mengalami kemajuan pada bidang ekonomi, ilmu pengetahuan, fisik dan seni selain pada bidang politik. Kerajaan Safawi menjadikan Syiah sebagai mazhab negara dan menjadikan Persia sebagai pusat aliran ini. Sampai saai ini Persia atau Iran dikenal sebagai pusat aliran Syiah. Kerajaan Safawi mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Syah Ismail Safawi ( 1501-1524M), Syah Tahmasp I ( 1524-1576 M), dan Syah Abbas I (1588-1620 M). Pada tahun 1736 M, Nadir Syah berhasil mengalahkan Kerajaan Safawi dan mengakhiri kekuasaannya.
Kerajaan Mughal di India didirikan oleh Zahiruddin Babur (1482-1530 M), salah seorang cucu Timur Lenk. kemajuan kerajaan Mughal meliputi bidang ekonomi, seni dan budaya. Kemajuan di bidang seni ditandai dengan berdirinya Taj Mahal, bangunan megah yang nilai seninya melebihi hasil karya bangsa Romawi. Di samping itu Kerajaan Mughal juga menjadi salah satu negara adi kuasa. Ia menguasai perekonomian dunia dengan jaringan pemasaran mencapai Eropa.

B.     Saran
Bagi pembaca apabila dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan kami mohon maaf. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca agar makalah ini lebih sempurna.


DAFTAR PUSTAKA
Armstrong, Karen. 2003. Islam : Sejarah Singkat. Yogyakarta : Jendela.
Supriyadi, Dedi. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Bandung : Pustaka Setia.
Yatim, Badri. 2010. Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II. Jakarta : Raja Grafindo Persada.






[1] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2010), hlm.135.

[2] Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung :Pustaka Setia, 2008), hlm. 262.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar