A. Kerajaan Usmani
a. Latar Belakang
Berdirinya Kerajaan Usmani
Pendiri
kerajaan ini adalah bangsa Turki dari kabilah Oghuz yang mendiami daerah Mongol
dan daerah utara negeri Cina. Dalam jangka waktu kira-kira tiga abad, mereka
pindah ke Turkistan kemudian Persia dan Irak. Mereka masuk Islam sekitar abad
kesembilan atau kesepuluh, ketika mereka menetap di Asia Tengah. Di bawah
tekanan serangan-serangan Mongol pada abad ke-13 M, mereka melarikan diri ke
daerah barat dan mencari tempat pengungsian di tengah-tengah saudara-saudara
mereka, orang-orang Turki Seljuk, di dataran tinggi Asia Kecil. Di sana di
bawah pimpinan Ertoghul, mereka mengabdikan diri kepada Sultan Alauddin II,
Sultan Seljuk yang kebetulan sedang berperang melawan Byzantium. Berkat bantuan
mereka, Sultan Alauddin mendapat kemenangan. Atas jasa baik itu, Alauddin
menghadiahkan sebidang tanah di Asia Kecil yang berbatasan dengan Byzantium.
Sejak itu, mereka terus membina wilayah barunya dan memilih kota Syukud sebagai
ibu kota.
b. Kemunculan Kerajaan
Usmani
Ertoghul
meninggal dunia tahun 1289 M. Kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya, Usman.
Putra Ertoghul inilah yang dianggap sebagai pendiri Kerajaan Usmani. Usman
memerintah antara tahun 1290 M dan 1326 M. Sebagaimana ayahnya,
ia banyak berjasa kepada Sultan Alauddin II dengan keberhasilannya menduduki
benteng-benteng Byzantium yang berdekatan dengan kota Broessa. Pada tahun 1300
M, bangsa Mongol menyerang kerejaan Seljuk dan Sultan Alauddin terbunuh. Kerajaan
Seljuk Rum ini kemudian terpecah-pecah dalam beberapa kerajaan kecil. Usman pun
menyatakan kemerdekaan dan berkuasa penuh atas daerah yang didudukinya. Sejak
itulah, kerajaan Usmani dinyatakan berdiri. Penguasa pertamanya adalah Usman
yang sering disebut juga Usman I.
Setelah
Usman I mengumumkan dirinya sebagai Padisyah Al Usman (raja besar
keluarga Usman) tahun 699 H (1300 M), setapak demi setapak wilayah kerajaan
dapat diperluasnya. Ia menyerang daerah perbatasan Byzantium dan menaklukkan
kota Broessa tahun 1317 M, kemudian, pada tahun 1326 M dijadikan sebagai ibu
kota kerajaan. Pada masa pemerintahan Orkhan (726 H/ 1326 M-761 H/1359
M) Kerajaan Turki Usmani ini dapat menaklukkan Azmir (Smirna) tahun 1327
M, Thawasyanli (1330 M), Uskandar (1338 M), Ankara (1354
M), dan Gallipoli (1356 M). Daerah ini adalah bagian benua Eropa yang
pertama kali diduduki kerajaan Usmani.
Ketika
Murad I, pengganti Orkhan, berkuasa (761 H/1359 M-789 H/1389 M), selain
memantapkan keamanan dalam negeri, ia melakukan perluasan daerah ke benua
Eropa. Ia menaklukkan Andrianopel, yang kemudian dijadikannya sebagai
ibu kota kerajaan yang baru, Macedonia, Sopia, Salonia,
dan seluruh wilayah bagian utara Yunani. Merasa cemas terhadap kemajuan
ekspansi kerajaan ini ke Eropa, Paus mengobarkan semangat perang. Sejumlah
besar pasukan sekutu Eropa disiapkan untuk memukul mundur Turki Usmani. Pasukan
ini dipimpin oleh Sijisman, raja Hongaria. Namun, Sultan Bayazid I
(1389-1403) M, pangganti Murad I, dapat menghancurkan pasukan sekutu Kristen
Eropa tersebut.
Ekspansi
kerajaan Usmani sempat terhenti beberapa lama. Ketika ekspansi diarahkan ke
Konstantinopel, tentara Mongol yang dipimpin oleh Timur Lenk melakukan
serangan ke Asia Kecil. Pertempuran hebat terjadi di Ankara tahun 1402 M.
Tentara Turki Usmani mengalami kekalahan. Bayazid bersama putranya, Musa
tertawan dan wafat dalam tawanan tahun 1403 M.
Kekalahan
Bayazid di Ankara itu membawa akibat buruk bagi Turki Usmani. Penguasa-penguasa
Seljuk di Asia Kecil melepaskan diri dari genggaman Turki Usmani.
Wilayah-wilayah Serbia dan Bulgaria juga memproklamasikan kemerdekaan. Dalam
pada itu, putra-putra Bayazid saling berebut kekuasaan. Suasana buruk ini baru
berakhir setelah Sultan Muhammad I (1403-1421) M dapat mengatasinya. Sultan
Muhammad berusaha keras menyatukan negaranya dan mengembalikan kekuatan dan
kekuasaan seperti sediakala.
Setelah
Timur Lenk meninggal tahun 1405 M, kesultanan Mongol dipecah dan dibagi-bagi kepada
putra-putranya yang satu sama lain saling berselisih. Kondisi ini dimanfaatkan
oleh penguasa Turki Usmani untuk melepaskan diri dari kekuasaan Mongol. Namun,
pada saat itu juga terjadi perselisihan antara putra-putra Bayazid (Muhammad,
Isa, dan Sulaiman). Setelah sepuluh tahun perebutan kekuasaan terjadi, akhirnya
Muhammad berhasil mengalahkan saudara-saudaranya. Usaha Muhammad yang pertama
kali ialah mengadakan perbaikan-perbaikan dan meletakkan dasar-dasar keamanan
dalam negeri. Usahanya ini diteruskan oleh Murad II (1421-1451) M,
sehingga Turki Usmani mencapai kemajuannya pada masa Muhammad II atau
biasa disebut Muhammad Al-Fatih (1451-1484) M.
Sultan
Muhammad Al-Fatih dapat mengalahkan Byzantium dan menaklukkan Konstantinopel
tahun 1453 M. Dengan terbukanya Konstantinopel sebagai benteng pertahanan
terkuat kerajaan Byzantium, lebih mudahlah arus ekspansi Turki Usmani ke benua
Eropa. Akan tetapi, ketika Sultan Salim I (1512-1520) M naik tahta, ia
mengalihkan perhatian ke arah timur dengan menaklukkan Persia, Syiria,
dan Dinasti Mamalik di Mesir. Usaha Sultan Salim I ini dikembangkan oleh
Sultan Sulaiman Al-Qanuni (1520-1566) M. Ia tidak mengarahkan
ekspansinya ke salah satu arah timur atau barat, tetapi seluruh wilayah yang
berada di sekitar Turki Usmani merupakan objek yang dicita-citakannya. Sulaiman
berhasil menundukkan Irak, Belgrado, Pulau Rodhes, Tunis,
Budapest, dan Yaman. Dengan demikian, luas wilayah Turki Usmani
pada masa Sultan Sulaiman Al-Qanuni mencakup Asia Kecil, Armenia, Irak, Syiria,
Hejaz, dan Yaman di Asia; Mesir, Libya, Tunis, dan Aljazair di Afrika;
Bulgaria, Yunani, Yugoslavia, Albania, Hongaria, dan Rumania di Eropa.
Mengutip
pendapat Carl Brockelmann, Ahmad Syalabi mengatakan, Sultan Salim I pernah
meminta kepada khalifah Abbasiyah di Mesir agar menyerahkan kekhalifahan
kepadanya, ketika ia menaklukkan Dinasti Mamalik di sana. Pendapat lain menyebutkan
bahwa gelar “khalifah” sebenarnya sudah digunakan oleh Sultan Murad (1359-1389)
M, setelah ia berhasil menaklukkan Asia Kecil dan Eropa. Dari dua pendapat ini,
Ahmad Syalabi berkesimpulan, para Sultan kerajaan Usmani memang tidak perlu
menunggu khalifah Abbasiyah menyerahkan gelar itu, karena jauh sebelum masa
kerajaan Usmani sudah ada tiga khalifah dalam satu masa. Pada abad ke-10 M,
para penguasa dinasti Fathimiyah di Mesir sudah memakai gelar khalifah. Tidak
lama setelah itu, Abd Al-Rahman Al-Nashir di Spanyol menyatakan diri sebagai
khalifah melanjutkan dinasti Bani Umayyah di Damaskus, bahkan ia mencela para
pendahulunya yang berkuasa di Spanyol yang merasa cukup dengan gelar “amir”
saja. Karena itu, ada kemungkinan para penguasa Usmani memang sudah menggunakan
gelar “khalifah” jauh sebelum mereka dapat menaklukkan dinasti Mamalik, tempat
bertahtanya para khalifah Abbasiyah, untuk kemudian meminta gelar itu.
Setelah
Sultan Sulaiman meninggal dunia, terjadilah perebutan kekuasaan antara putra-putranya,
yang menyebabkan Kerajaan Turki Usmani mundur. Akan tetapi, meskipun terus
mengalami kemunduran, kerajaan ini untuk masa beberapa abad masih dipandang sebagai
Negara yang kuat, terutama dalam bidang militer. Kerajaan ini memang masih
bertahan lima abad lagi setelah itu.
c. Kemajuan Kerajaan Usmani mencakup
bidang-bidang berikut :
1. Bidang Kemiliteran dan Pemerintahan
Para
pemimpin kerajaan Usmani pada masa-masa pertama, adalah orang yang kuat,
sehingga kerajaan dapat melakukan ekspansi dengan cepat dan luas. Meskipun
demikian, kemajuan kerajaan Usmani mencapai masa keemasannya itu, bukan
semata-mata karena keunggulan politik para pemimpinnya. Masih banyak faktor
lain yang mendukung keberhasilan ekspansi itu, seperti keberanian,
keterampilan, ketangguhan, dan kekuatan militernya.
Pada
masa pemerintahan Orkhan dibentuklah pasukan Jenissari atau Inkisyariah.
Pasukan ini berasal dari bangsa-bangsa non-Turki, dan anak-anak Kristen yang
masih kecil yang diasramakan dan dibimbing dalam suasana Islam untuk dijadikan
prajurit. Di samping Jenissari, ada lagi prajurit dari tentara kaum feodal yang
dikirim kepada pemerintah pusat. Pasukan ini disebut tentara atau kelompok
militer Thaujiah.
Dalam
bidang pemerintahan Turki Usmani mempunyai pengelolaan yang teratur, Sultan
sebagai penguasa tertinggi dibantu oleh shadr al-a’zham (perdana
menteri), yang membawahi pasya (gubernur).Gubernur mengepalai daerah
tingkat I. Di bawahnya terdapat beberapa orang al-zanaziq atau al-‘alawiyah
(bupati).
Untuk
mengatur urusan pemerintahan Negara, di masa Sultan Sulaiman I, disusun sebuah
kitab undang-undang (qanun). Kitab tersebut di beri nama Multaqa al-Abhur,
yang menjadi pegangan hukum bagi kerajaan Turki Usmani sampai datangnya
reformasi pada abad ke-19. Karena jasa Sultan Sulaiman I yang sangat berharga
ini, di ujung namanya ditambah gelar al-Qanuni.
2. Bidang Ilmu Pengetahuan dan Budaya
Kebudayaan
Turki Usmani merupakan perpaduan bermacam-macam kebudayaan, di antaranya adalah
kebudayaan Persia, Byzantium, dan Arab. Dari kebudayaan Persia, mereka banyak
mengambil ajaran-ajaran tentang etika dan tata krama dalam istana raja-raja.
Organisasi pemerintahan dan kemiliteran banyak mereka serap dari Byzantium.
Sedangkan, ajaran-ajaran tentang prinsip-prinsip ekonomi, sosial, dan kemasyarakatan,
keilmuan, dan huruf, mereka terima dari bangsa Arab.[1]
Turki Usmani banyak memfokuskan kegiatan dalam bidang militer sehingga bidang
ilmu pengetahuan tidak begitu menonjol. Namun demikian, mereka banyak berkiprah
dalam pengembangan seni arsitektur Islam berupa bangunan-bangunan masjid yang
indah, seperti Masjid Al-Muhammadi atau Masjid Jami’ Sultan Muhammad
Al-fatih, Masjid Agung Sulaiman, dan Masjid Abi Ayyub Al-Anshari.
Masjid-masjid tersebut dihiasi pula dengan kaligrafi yang indah. Salah satu
masjid yang terkenal dengan keindahan kaligrafinya adalah masjid yang asalnya
gereja Aya Sopia. Hiasan kaligrafi itu dijadikan penutup gambar-gambar
kristiani yang ada sebelumnya.
Pada
masa Sulaiman di kota-kota besar dan kota-kota lainnya banyak dibangun masjid,
sekolah, rumah sakit, gedung, makam, jembatan, saluran air, villa, dan
pemandian umum. Disebutkan bahwa 235
buah dari bangunan itu dibangun di bawah koordinator Sinan,
seorang arsitek asal Anatolia.
3. Bidang Keagamaan
Pada
masa Turki Usmani, tarekat juga mengalami kemajuan. Tarekat yang paling
berkembang ialah tarekat Bektasyi dan tarekat Maulawi. Tarekat
Bektasyi mempunyai pengaruh yang sangat dominan di kalangan tentara Jenissari,
sehingga mereka sering disebut tentara Bektasyi, sementara tarekat Maulawi
mendapat dukungan dari para penguasa dalam mengimbangi Jenissari Bektasyi.
Di
pihak lain, kajian-kajian ilmu keagamaan, seperti fiqh, ilmu kalam, tafsir, dan
hadis boleh dikatakan tidak mengalami perkembangan yang berarti. Para penguasa
lebih cenderung untuk menegakkan satu paham (mazhab) keagamaan dan menekan
mazhab lainnya. Sultan Abd Al-Hamid II, misalnya, begitu fanatik terhadap
aliran Asy’ariyah. Ia memerintahkan kepada syaikh Husein Al-Jisri menulis kitab
Al-Hushun Al-Hamidiyah (Benteng pertahanan Abdul Hamid) untuk
melestarikan aliran yang dianutnya. Akibat kelesuan di bidang ilmu keagamaan
dan fanatik yang berlebihan, maka ijtihad tidak berkembang. Ulama hanya menulis
buku dalam bentuk syarah (penjelasan), dan hasyiyah (semacam
catatan) terhadap karya-karya masa klasik.
d. Faktor-faktor
penyebab kemunduran Kerajaan Usmani :
1. Wilayah kekuasaan
yang luas
Administrasi
pemerintahan bagi suatu Negara yang amat luas wilayahnya sangat rumit dan
kompleks, sementara administrasi pemerintahan Kerajaan Usmani tidak beres. Di
pihak lain, para penguasa sangat berambisi menguasai wilayah yang sangat luas,
sehingga mereka terlibat perang terus menerus dengan berbagai bangsa. Hal itu
tentu menyedot banyak potensi yang seharusnya dapat digunakan untuk membangun
Negara.
2. Heterogenitas
Penduduk
Sebagai
kerajaan besar, Turki Usmani menguasai wilayah yang amat luas, mencakup Asia
Kecil, Armenia, Irak, Syiria, Hejaz, dan Yaman di Asia; Mesir, Libya, Tunis,
dan Aljazair di Afrika; dan Bulgaria, Yunani, Yugoslavia, Albania, Hongaria, dan
Rumania di Eropa. Wilayah yang luas itu didiami oleh penduduk yang beragam,
baik dari segi agama, ras, etnis, maupun adat istiadat. Untuk mengatur penduduk
yang beragam dan tersebar di wilayah yang luas itu, diperlukan suatu organisasi
pemerintahan yang teratur. Tanpa didukung oleh administrasi yang baik, Kerajaan
Usmani hanya akan menanggung beban yang berat akibat heterogenitas tersebut.
Perbedaan bangsa dan agama acap kali melatarbelakangi terjadinya pemberontakan
dan peperangan.
3. Kelemahan Para
Penguasa
Sepeninggal
Sulaiman Al-Qanuni, Kerajaan Usmani diperintah oleh sultan-sultan yang lemah,
baik dalam kepribadian terutama dalam kepemimpinannya. Akibatnya, pemerintahan
menjadi kacau. Kekacauan itu tidak pernah dapat diatasi secara sempurna, bahkan
semakin lama semakin parah.
4. Budaya Pungli
Pungli
merupakan perbuatan yang sudah umum terjadi dalam Kerajaan Usmani. Setiap
jabatan yang hendak diraih oleh seseorang harus “dibayar” dengan sogokan kepada
orang yang berhak memberikan jabatan tersebut. Berjangkitnya budaya pungli ini
mengakibatkan dekadensi moral kian merajalela yang membuat pejabat semakin
rapuh.
5. Pemberontakan
tentara Jenissari
Kemajuan
ekspansi Kerajaan Usmani banyak ditentukan oleh kuatnya tentara Jenissari.
Dengan demikian, dapat dibayangkan bagaimana kalau tentara ini memberontak.
Pemberontakan tentara Jenissari terjadi sebanyak empat kali, yaitu pada tahun
1525 M, 1632 M, 1727 M, dan 1826 M.
6. Merosotnya Ekonomi
Akibat
perang yang tak pernah berhenti, perekonomian Negara merosot. Pendapatan
berkurang, sementara belanja Negara sangat besar termasuk untuk biaya perang.
7. Terjadinya Stagnasi
dalam Lapangan Ilmu dan Teknologi
Kerajaan
Usmani kurang berhasil dalam pengembangan ilmu dan teknologi, karena hanya
mengutamakan pengembangan kekuatan militer. Kemajuan militer yang tidak
diimbangi oleh kemajuan ilmu dan teknologi menyebabkan kerajaan ini tidak
sanggup menghadapi persenjataan musuh dari Eropa yang lebih maju.
B. Kerajaan Safawi di Persia
a. Latar Belakang
Berdirinya Kerajaan Safawi
Kerajaan
Safawi berasal dari sebuah gerakan tarekat yang berdiri di Ardabil, sebuah kota
di Azerbaijan. Tarekat ini diberi nama Tarekat Safawiyah, didirikan pada waktu
yang hampir bersamaan dengan berdirinya kerajaan Usmani. Nama Safawiyah,
diambil dari nama pendirinya, Safi Al-Din (1252-1334) M dan nama Safawi
itu terus dipertahankan sampai tarekat ini menjadi gerakan politik. Bahkan nama
itu terus dilestarikan setelah gerakan ini berhasil mendirikan kerajaan.
Safi
Al-Din adalah keturunan dari Imam Syiah yang keenam, Musa Al-Kazhim.
Gurunya bernama Syaikh Taj Al-Din Ibrahim Zahidi (1216-1301) M yang dikenal
dengan julukan Zahid Al-Gilani. Karena prestasi dan ketekunannya dalam
kehidupan tasawuf, Safi Al-Din diambil menantu oleh gurunya tersebut. Safi
Al-Din mendirikan tarekat Safawiyah setelah ia menggantikan gurunya dan
sekaligus mertuanya yang wafat tahun 1301 M.
Kecenderungan
memasuki dunia politik itu mendapat wujud konkretnya pada masa kepemimpinan Juneid
(1447-1460) M. Dinasti Safawi memperluas geraknya dengan menambahkan kegiatan
politik pada kegiatan keagamaan. Perluasan ini menimbulkan konflik antara
Juneid dengan penguasa Kara Koyunlu (domba hitam), salah satu suku
bangsa Turki yang berkuasa di wilayah itu. Dalam konflik tersebut, Juneid kalah
dan diasingkan ke suatu tempat. Di tempat baru itu ia mendapat perlindungan
dari penguasa Diyar Bakr, AK-Koyunlu (domba putih), juga satu suku
bangsa Turki. Ia tinggal di istana Uzun Hasan, yang ketika itu menguasai
sebagian besar Persia.
Selama
dalam pengasingan, Juneid menghimpun kekuatan untuk kemudian beraliansi secara
politik dengan Uzun Hasan. Ia juga berhasil mempersunting salah seorang saudara
perempuan Uzun Hasan. Pada tahun 1459 M, Juneid mencoba merebut Ardabil tetapi
gagal. Pada tahun 1460 M, ia mencoba merebut Sircassia tetapi pasukan yang
dipimpinnya dihadang oleh tentara Sirwan. Ia sendiri terbunuh dalam pertempuran
tersebut.
Ketika
itu anak Juneid, Haidar, masih kecil dan dalam asuhan Uzun Hasan. Ketika
itu kepemimpinan gerakan Safawi baru bisa diserahkan kepadanya secara resmi
pada tahun 1470 M. Hubungan Haidar dengan Uzun Hasan semakin erat setelah
Haidar menikahi salah seorang putrid Uzun Hasan. Dari pernikahan ini lahirlah
Ismail yang di kemudian hari menjadi pendiri kerajaan Safawi di Persia.
Kemenangan
AK-Koyunlu tahun 1476 M terhadap Kara Koyunlu, membuat gerakan militer Safawi
yang dipimpin oleh Haidar dipandang sebagai rival politik oleh AK-Koyunlu dalam
meraih kekuasaan selanjutnya. Padahal, sebagaimana telah disebutkan, Safawi
adalah sekutu AK-Koyunlu. AK-Koyunlu berusaha melenyapkan kekuatan militer dan
kekuasaan Dinasti safawi. Karena itu, ketika Safawi menyerang wilayah Sircassia
dan pasukan Sirwan, AK-Koyunlu mengirimkan bantuan militer kepada Sirwan, sehingga
pasukan Haidar kalah dan Haidar sendiri terbunuh dalam peperangan itu.
Ali,
putra dan pengganti Haidar, didesak bala tentaranya untuk menuntut balas atas
kematian ayahnya, terutama terhadap AK-Koyunlu. Tetapi Ya’qub pemimpin
AK-Koyunlu dapat menangkap dan memenjarakan Ali bersama saudaranya, Ibrahim,
Ismail, dan ibunya, di Fars selama empat setengah tahun (1489-1493) M. Mereka
dibebaskan oleh Rustam, putra mahkota AK-Koyunlu, dengan syarat mau
membantunya memerangi saudara sepupunya. Setelah saudara sepupu Rustam dapat
dikalahkan, Ali bersaudara kembali ke Adabil. Akan tetapi, tidak lama kemudian
Rustam berbalik memusuhi dan menyerang Ali bersaudara, dan Ali terbunuh dalam
serangan ini (1494 M).
b. Kemunculan Kerajaan
Safawi
Kepemimpinan
gerakan Safawi, selanjutnya berada di tangan Ismail, yang saat itu masih
berusia tujuh tahun. Selama lima tahun Ismail beserta pasukannya bermarkas di
Gilan, mempersiapkan kekuatan dan mengadakan hubungan dengan para pengikutnya
di Azerbaijan, Syiria, dan Anatolia. Pasukan yang dipersiapkan itu dinamai Qizilbash
(baret merah).
Di
bawah pimpinan Ismail, pada tahun 1501 M, pasukan Qizilbash menyerang dan
mengalahkan AK-Koyunlu di Sharur, dekat Nakhchivan. Pasukan ini terus berusaha
memasuki dan menaklukkan Tabriz, ibu kota AK-Koyunlu dan berhasil merebut serta
mendudukinya. Di kota ini Ismail memproklamasikan dirinya sebagai raja pertama
dinasti Safawi. Ia disebut juga Ismail I.
Ismail
I berkuasa sejak 1501 sampai 1524. Pada sepuluh tahun pertama ia berhasil
memperluas wilayah kekuasaannya. Ia dapat menghancurkan sisa-sisa kekuatan
AK-Koyunlu di Hamadan (1503 M), menguasai propinsi Kaspia di Nazandaran,
Gurgan, dan Yazd (1504 M), Diyar Bakr (1505-1507) M, Baghdad dan daerah barat
daya Persia(1508 M), Sirwan (1509 M), dan Khurasan (1510 M). hanya dalam waktu
sepuluh tahun ituwilayah kekuasaannya sudah meliputi seluruh Persia dan bagian
timur Bulan Sabit Subur (Fortile Crescent).
Tidak
sampai di situ, ambisi politik mendorongnya untuk terus mengembangkan sayap
menguasai daerah-daerah lainnya, seperti Turki Usmani. Namun, Ismail bukan
hanya menghadapi musuh yang sangat kuat, tetapi juga sangat membenci golongan
Sy’iah. Peperangan dengan Turki Usmani terjadi pada tahun 1514 M di Chaldiran,
dekat Tabriz. Karena keunggulan organisasi militer Kerajaan Turki Usmani, dalam
peperangan ini Ismail I mengalami kekalahan, terlebih lagi Turki Usmani di
bawah pimpinan Sultan Salim dapat menduduki Tabriz. Kerajaan Safawi
terselamatkan dengan pulangnya Sultan Usmani ke Turki karena terjadi perpecahan
di kalangan militer Turki di negerinya.
Kekalahan
tersebut meruntuhkan kebanggaan dan kepercayaan diri Ismail. Akibatnya
kehidupan Ismail I berubah. Ia lebih senang menyendiri, menempuh kehidupan
hura-hura, dan berburu. Keadaan ini menimbulkan dampak negatif bagi kerajaan
Safawi, yaitu terjadinya persaingan segitiga antara pimpinan suku-suku Turki,
pejabat-pejabat keturunan Persia, dan Qizilbash dalam merebut pengaruh untuk
memimpin kerajaan Safawi.
Rasa
permusuhan dengan kerajaan Usmani terus berlangsung sepeninggal Ismail.
Peperangan-peperangan antara dua kerajaan besar Islam ini terjadi beberapa kali
pada zaman pemerintahan Tahmasp (1524-1576) M, Ismail II (1576-1577) M, dan
Muhammad Khudabanda (1577-1587) M. Pada masa tiga raja tersebut, kerajaan
Safawi dalam keadaan lemah. Di samping karena sering terjadi peperangan melawan
kerajaan Usmani yang lebih kuat, juga karena sering terjadi pertentangan antara
kelompok-kelompok di dalam negeri.
Kondisi
demikian baru dapat diatasi setelah raja Safawi kelima, Abbas I, naik
tahta. Ia memerintah dari tahun 1588-1628 M. Langkah-langkah yang ditempuh oleh
Abbas I dalam rangka memulihkan kerajaan Safawi ialah : pertama,
berusaha menghilangkan dominasi pasukan Qizilbash atas kerajaan Safawi dengan
cara membentuk pasukan baru yang anggotanya terdiri dari budak-budak, berasal
dari tawanan perang bangsa Georgia, Armenia, dan Sircassia yang telah ada sejak
raja Tahmasp. Kedua, mengadakan perjanjian damai dengan Turki Usmani .
Untuk mewujudkan perjanjian ini, Abbas I terpaksa harus menyerahkan wilayah
Azerbaijan, Georgia, dan sebagian wilayah Luristan. Di samping itu, Abbas
berjanji tidak akan menghina tiga khalifah pertama dalam Islam (Abu Bakar, Umar
Ibn Khattab, dan Usman) dalam khutbah-khutbah Jumat. Sebagai jaminan atas
syarat-syarat itu, ia menyerahkan saudara sepupunya, Haidar Mirza sebagai
sandera di Istambul.
Usaha-usaha
yang dilakukan Abbas I tersebut berhasil membuat kerajaan Safawi kuat kembali.
Setelah itu, Abbas I mulai memusatkan perhatiannya keluar dengan berusaha
merebut kembali wilayah-wilayah kekuasaannya yang hilang. Pada tahun 1598 M, ia
menyerang dan menaklukkan Herat. Dari sana, ia melanjutkan serangan merebut
Marw dan Balkh. Setelah kekuatan terbina dengan baik, ia juga berusaha
mendapatkan kembali wilayah kekuasaannya dari Turki Usmani. Rasa permusuhan
antara dua kerajaan yang berbeda aliran agama ini memang tidak pernah padam
sama sekali. Abbas I mengarahkan serangan-serangannya ke wilayah kekuasaan
kerajaan Usmani itu. Pada tahun 1602 M, di saat Turki Usmani berada di bawah
Sultan Muhammad III, pasukan Abbas I menyerang dan berhasil menguasai Tabriz,
Sirwan, dan Baghdad. Sedangkan kota-kota Nakhchivan, Erivan, Ganja, dan Tiflis
dapat dikuasai tahun 1605-1606 M. Selanjutnya pada tahun 1622 M pasukan Abbas I
berhasil merebut kepulauan Hurmuz dan mengubah pelabuhan Gurmun menjadi
pelabuhan Bandar Abbas.
Masa
kekuasaan Abbas I merupakan puncak kejayaan kerajaan Safawi. Secara politik, ia
mampu mengatasi berbagai kemelut di dalam negeri yang mengganggu stabilitas
Negara dan berhasil merebut kembali wilayah-wilayah yang pernah direbut oleh
kerajaan lain pada masa raja-raja sebelumnya.
c. Kemajuan Kerajaan
Safawi tidak hanya terbatas di bidang politik, di bidang lain kerajaan ini juga
mengalami kemajuan, di antaranya sebagai berikut :
1. Bidang Ekonomi
Stabilitas
politik Kerajaan Safawi pada masa Abbas I ternyata telah memacu perkembangan
perekonomian Safawi, lebih-lebih setelah kepulauan Hurmuz dikuasai dan
pelabuhan Gumrun diubah menjadi Bandar Abbas. Dengan dikuasainya Bandar ini,
maka salah satu jalur dagang laut antara timur dan barat yang biasa
diperebutkan oleh Belanda, Inggris, dan Perancis sepenuhnya menjadi milik
kerajaan Safawi.
Di
samping sector perdangangan, Kerajaan Safawi juga mengalami kemajuan di sector
pertanian terutama di daerah Bulan Sabit Subur (Fortile Crescent).
2. Bidang Ilmu
Pengetahuan
Kerajaan
Safawi memiliki bangsa yang berperadaban tinggi dan berjasa dalam mengembangkan
ilmu pengetahuan. Ada beberapa ilmuwan yang selalu hadir di majelis istana,
yaitu Baha Al-Din Al-Syaerazi, generalis ilmu pengetahuan, Sadar
Al-Din Al-Syaerazi, filosof, dan Muhammad Baqir Ibn Muhammad Damad,
filosof, ahli sejarah, teolog, dan seorang yang pernah mengadakan observasi
mengenai kehidupan lebah.
3. Bidang Pembangunan
Fisik dan Seni
Para penguasa kerajaan ini
telah berhasil menciptakan Isfahan,
ibu kota kerajaan, menjadi
kota yang sangat indah. Di
kota tersebut,berdiri bangun bangunan besar lagi indah seperti masjid-masjid, rumah sakit, sekolah-sekolah, jembatan raksasa di
atas Zende Rud, dan istana Chihil Sutun.
Di
bidang seni, kemajuan nampak begitu kentara dalam gaya arsitektur bangunan-bangunannya,
seperti terlihat pada Masjid Shah yang dibangun tahun 1611 M. Unsur seni
lainnya terlihat pula dalam bentuk kerajinan tangan, keramik, karpet,
permadani, pakaian, dan tenunan, mode, tembikar, dan benda seni lainnya. Seni
lukis mulai dirintis sejak zaman Tahmasp I. Raja Ismail I pada tahun 1522 M
membawa seorang pelukis timur ke Tabriz. Pelukis itu bernama Bizhad.
d. Faktor-faktor
penyebab kemunduran Kerajaan Safawi :
a. Pemimpin yang lemah.
b. Pemaksaan aliran Syi’ah
terhadap penganut aliran Sunni.
c. Dekadensi moral yang
melanda para pemimpin Kerajaan Safawi.
d. Pasukan budak-budak yang
dibentuk Abbas I tidak memiliki semangat perang yang tinggi seperti Qizilbash.
e. Konflik intern dalam
bentuk perebutan kekuasaan di kalangan keluarga istana.
C. Kerajaan Mughal di
India
Kerajaan Mughal berdiri seperempat
abad sesudah berdirinya kerajaan Safawi. Kerajaan Mughal bukanlah kerajaan
Islam pertama di anak benua India. Awal kekuasaan Islam di wilayah India
terjadi pada masa khlifah Al-Walid, dari dinasti Bani Umayyah di bawah pimpinan
Muhammad ibn Qasim. Pada fase desintegrasi, dinasti Ghaznawi mengembangkan kekuasaannya di India
di bawah pimpinan Sultan Mahmud dan pada tahun 1020 M, ia berhasil menaklukkan
hampir semua kerajaan Hindu di wilayah ini, sekaligus mengislamkan sebagian
masyarakatnya. Setelah dinasti Ghaznawi hancur, muncul dinasti-dinasti kecil
seperti Mamluk (1206-1290) M, Khalji (1296-1316) M, Tuglug (1320-1412) M, dan
dinasti-dinasti lain.
Kerajaan Mughal di India dengan Delhi sebagai ibu kota, didirikan oleh Zahiruddin Babur
(1482-1530 M), salah seorang cucu Timur Lenk. Ayahnya bernama Umar Mirza,
penguasa Ferghana.
Babur mewarisi daerah Ferghana dari orang tuanya ketika ia masih berusia 11 tahun. Ia
bertekad menaklukkan Samarkand yang menjadi kota penting di Asia Tengah pada masa itu. Pada mulanya ia
mengalami kekalahan, tetapi karena mendapat bantuan dari Raja Syafawi, Ismail
I, ia berhasil menaklukkan Samarkand pada tahun 1494 M. Pada tahun 1504 M, ia
menduduki Kabul, ibu kota Afghanistan.
Setelah Kabul dapat ditaklukkan,
Babur meneruskan ekspansinya ke India. Kala itu, Ibrahim Lodi, penguasa India,
dilanda krisis sehingga stabilitas pemerintahan menjadi kacau. Alam Khan, paman
dari Ibrahim Lodi, dan Daulat Khan, Gubernur Lahore kemudian meminta bantuan
Babur untuk menjatuhkan Ibrahim Lodi. Permohonan itu langsung diterimanya. Pada
tahun 1525 M, Babur berhasil menguasai Punjab dengan ibu kotanya Lahore.
Setelah itu, ia memimpin tentaranya menuju Delhi. Pada tanggal 21April 1526 M,
terjadilah pertempuran yang dashyat di Panipat. Ibrahim beserta ribuan
tentaranya terbunuh dalam pertempuran itu. Babur memasuki kota Delhi sebagai
pemenang dan menegakkan pemerintahannya disana. Dengan demikian berdirilah
Kerajaan Mughal di India.
Setelah Kerajaan Mughal berdiri,
raja- raja Hindu di seluruh India menyusun angkatan perang yang besar untuk
menyerang Babur. Namun, pasukan Hindu ini dapat dikalahkan oleh Babur. Sementara
itu, di Afgahanistan masih ada golongan yang setia kepada keluarga Lodi. Mereka
mengangkat adik kandung Ibrahim Lodi, Mahmud menjadi Sultan. Tetapi Sultan
Mahmud Lodi dengan mudah dikalahkan Babur dalam pertempuran dekat Gogra tahun
1529 M. Pada tahun 1530 M, Babur meninggal dunia dalam usia 48 tahun setelah
memerintah selama 30 tahun, dengan meninggalkan kejayaan-kejayaan yang
cemerlang. Pemerintahan selanjutnya dipegang oleh putra sulungnya, Humayun.
Dalam melaksanakan pemerintahan,
Humayun banyak menghadapi tantangan. Sepanjang masa
kekuasaannya selama sembilan tahun (1530-1539) M negara tidak pernah aman. Ia
senantiasa berperang melawan musuh. Di antara tantangan yang muncul adalah
pemberontakan Bahadur Syah, penguasa Gujarat yang memisahkan diri dari Delhi. Pemberontakan ini dapat
dipadamkan. Bahadur Syah melarikan diri dan Gujarat dapat
dikuasai.
Pada tahun 1540 M terjadi pertempuran dengan Sher Khan di Kanauj.
Dalam pertempuran ini Humayun mengalami kekalahan. Ia terpaksa melarikan diri
ke Kandabar dan selanjutnya ke Persia. Di Persia ia menyusun kembali
tentaranya. Kemudian dari sini ia menyerang musuh-musuhnya dengan bantuan raja
Persia. Humayun dapat mengalahkan Sher Khan setelah hampir 15 tahun meninggalkan
Delhi. Ia kembali ke India dan menduduki tahta Kerajaan Mughal pada 1555 M. Setahun
setelah itu, tepatnya tanggal 24 januari1556 M, ia meninggal dunia karena
terjatuh dari tangga perpustakaannya, Din Panah.
Humayun digantikan putranya, Akbar, yang
berusia 14 tahun. Karena ia masih muda maka urusan kerajaan diserahkan kepada Bairam
Khan, seorang Syi’i.
Pada masa Akbar ini, Kerajaan Mughal mencapai masa keemasannya.
Di awal masa pemerintahannya, Akbar
mengahadapi pemberontakan sisa-sisa keturunan Sher Khan yang masih berkuasa di
Punjab. Pemberontakan yang mengancam kekuasaan Akbar adalah pemberontakan yang
dipimpin oleh Himu yang menguasai Gwalior dan Agra. Pasukan pemberontak itu
berusaha memasuki kota Delhi. Bairam Khan menyambut kedatangan pasukan
tersebut, sehingga terjadilah peperangan yang dahsyat, yang disebut Panipat
II pada tahun 1556 M. Himu dapat dikalahkan. ia ditangkap, kemudian
dieksekusi. Dengan demikian, Gwalior dan Agra dapat dikuasai penuh.
Setelah Akbar dewasa ia berusaha
menyingkirkan Bairam Khan yang sudah mempunyai pengaruh sangat kuat dan
terlampau memaksakan kepentingan aliran Syi’ah. Bairam memberontak, tetapi
dapat dikalahkan oleh Akbar di Jullandur tahun 1561 M. Setelah
persoalan-persoalan dalam negeri dapat diatasi, Akbar mulai menyusun program
ekspansi. Ia berhasil menguasai Chundar, Kashmir, Orissa, Deccan, Gawilgarh,
Narhala, Ahmadnagar, dan Asirgah. Wilayah yang sangat luas itu diperintah dalam
suatu pemerintahan militeristik.
Dalam pemerintahan militeristik
tersebut, sultan adalah penguasa dictator, pemerintahan daerah dipegang oleh
seorang kepala komandan, sedang subdistrik dipegang oleh seorang komandan.
Jabatan-jabatan sipil juga diberi jenjang kepangkatan yang bercorak
kemiliteran. Pejabat-pejabat memang diharuskan mengikuti latihan kemiliteran. Akbar
juga menerapkan apa yang dinamakan dengan politik sulakhul (toleransi
universal). Dengan politik ini, semua rakyat India dipandang sama.
Kemajuan yang dicapai Akbar masih
dapat dipertahankan oleh tiga sultan berikutnya, yaitu Jehangir
(1605-1628) M, Syah Jehan (1628-1658) M, dan Aungrazeb
(1658-1707) M. Tiga sultan penerus Akbar ini memang terhitung raja-raja yang
besar dan kuat. Setelah itu, kemajuan kerajaan Mughal tidak dapat dipertahankan
oleh raja-raja berikutnya.
Kemajuan yang dicapai Kerajaan
Mughal di antaranya sebagai berikut :
1. Bidang Ekonomi
Kemantapan stabilitas politik karena
sistem pemerintahan yang diterapkan Akbar membawa kerajaan Mughal dapat
mengembangkan program pertanian, pertambangan, dan perdagangan. Akan tetapi,
sumber keuangan Negara lebih banyak bertumpu pada sektor pertanian. Di sektor
pertanian ini, komunikasi antara pemerintah dan petani diatur dengan baik.
Pengaturan itu didasarkan atas lahan pertanian. Deh, merupakan unit
lahan pertanian terkecil. Beberapa deh tergabung dalam pargana (desa).
Komunitas petani dipimpin oleh seorang mukaddam. Melalui para mukaddam
itulah pemerintah berhubungan dengan petani. Kerajaan berhak atas sepertiga
dari hasil pertanian di negeri itu. Hasil pertanian kerajaan Mughal yang terpenting
ketika itu adalah biji-bijian, padi, kacang, tebu, sayur-sayuran,
rempah-rempah, tembakau, kapas, nila, dan bahan-bahan celupan.
Di samping untuk kebutuhan dalam
negeri, hasil pertanian itu diekspor ke Eropa, Afrika, Arabia, dan Asia
Tenggara bersamaan dengan hasil kerajian, seperti pakaian tenun dan kain tipis
bahan gordyn yang banyak diproduksi di Gujarat dan Bengal. Untuk meningkatkan
produksi, Jehangir mengizinkan Inggris (1611 M) dan Belanda (1617 M) mendirikan
pabrik pengelolaan hasil pertanian di Surat.
2. Bidang Pengetahuan, Seni, dan
Budaya
Di bidang pengetahuan kebahasaan
Akbar telah menjadikan tiga bahasa sebagai bahasa nasional, yaitu Bahasa Arab
sebagai bahasa Agama, Bahasa Turki sebagai bahasa bangsawan, dan Bahasa Persia
sebagai bahasa istana dan kesusastraan. Selain itu, Akbar telah memodifikasi
tiga bahasa tersebut ditambah dengan bahasa Hindu dan menjadi bahasa Urdu.[2]
Karya seni yang menonjol adalah karya sastra gubahan penyair istana, baik yang
berbahasa Persia maupun India. Penyair India yang terkenal adalah Malik
Muhammad Jayazi, seorang sastrawan sufi yang menghasilkan karya besar
berjudul Padmavat, sebuah karya alegoris yang mengandung pesan kebajikan
manusia. Pada masa Aungrazeb, muncul seorang sejarawan bernama Abu Fadl dengan
karyanya Akhbar Nama dan Aini Akhbari, yang memaparkan sejarah
kerajaan Mughal berdasarkan figur pemimpinnya. Di bidang filsafat cukup maju
dan satu di antara tokohnya adalah Akbar sendiri, sementara ahli tasawuf yang
terkenal pada masa itu adalah Mubarok, dan Abu Faidl.
Karya seni yang masih dapat
dinikmati sekarang dan merupakan karya seni terbesar yang dicapai kerajaan
Mughal adalah karya-karya arsitektur yang indah dan mengagumkan. Pada masa
Akbar dibangun istana Fatpur Sikri di Sikri, villa, dan masjid-masjid
yang indah. Pada masa Syah Jehan, dibangun masjid berlapiskan mutiara dan Taj
Mahal di Agra, Masjid Raya Delhi dan istana indah di Lahore.
Fakto-faktor yang menyebabkan
kekuasaan kerajaan Mughal menurun, yaitu :
a. Terjadi stagnasi dalam pembinaan
kekuatan militer sehingga operasi militer Inggris di wilayah-wilayah pantai
tidak dapat segera dipantau oleh kekuasaan maritime Mughal. Begitu juga
kekuatan pasukan darat. Bahkan, mereka kurang terampil dalam mengoperasikan
persenjataan buatan Mughal sendiri.
b. Dekadensi moral dan hidup mewah
di kalangan elit politik, yang mengakibatkan pemborosan dalam penggunaan uang
negara.
c. Pendekatan Aurangzeb yang
terlampau “kasar” dalam melaksanakan ide-ide puritan dan kecenderungan
asketisnya, sehingga konflik antaragama sangat sukar diatasi oleh sultan-sultan
sesudahnya.
d. Semua pewaris tahta kerajaan pada
paruh terakhir tidak memiliki kecakapan dalam bidang kepemimpinan.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kerajaan Usman
berdiri tahun 699 H (1300 M) dengan penguasa pertamanya adalah Usman yang
bergelar Padisyah Al Usman. Kerajaan Usman mencapai puncak kejayaan pada masa
Muhammad II atau biasa disebut Muhammad Al-Fatih (1451-1484 M).
Kemajuan-kemajuan yang telah dicapai kerajaan Usman meliputi bidang kemiliteran
dan pemerintahan, bidang ilmu pengetahuan dan budaya serta bidang keagamaan.
Kerajaan Safawi didirikan oleh
Ismail pada tahun 907 H/1501 M di Tabriz. Kerajaan Syafawi mengalami
kemajuan pada bidang ekonomi, ilmu pengetahuan, fisik dan seni selain pada
bidang politik. Kerajaan
Safawi menjadikan Syiah sebagai mazhab negara dan menjadikan Persia sebagai
pusat aliran ini. Sampai saai ini Persia atau Iran dikenal sebagai pusat aliran
Syiah. Kerajaan
Safawi mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Syah Ismail Safawi ( 1501-1524M),
Syah Tahmasp I ( 1524-1576 M), dan Syah Abbas I (1588-1620 M). Pada tahun 1736
M, Nadir Syah berhasil mengalahkan Kerajaan Safawi dan mengakhiri kekuasaannya.
Kerajaan Mughal di India didirikan
oleh Zahiruddin Babur (1482-1530 M), salah seorang cucu Timur Lenk. kemajuan
kerajaan Mughal meliputi bidang ekonomi, seni dan budaya. Kemajuan di bidang
seni ditandai dengan berdirinya Taj Mahal, bangunan megah yang nilai seninya
melebihi hasil karya bangsa Romawi. Di samping itu Kerajaan Mughal juga menjadi
salah satu negara adi kuasa. Ia menguasai perekonomian dunia dengan jaringan
pemasaran mencapai Eropa.
B.
Saran
Bagi
pembaca apabila dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan kami mohon
maaf. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca agar
makalah ini lebih sempurna.
DAFTAR PUSTAKA
Armstrong, Karen. 2003. Islam : Sejarah Singkat.
Yogyakarta : Jendela.
Supriyadi, Dedi. 2008. Sejarah Peradaban Islam.
Bandung : Pustaka Setia.
Yatim, Badri. 2010. Sejarah Peradaban Islam Dirasah
Islamiyah II. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar