Sabtu, 14 Juni 2014

Motivasi

Motif paling penting bagi pekerjaan di sekolah dan dalam kehidupan adalah menikmati pekerjaannya, menikmati hasilnya dan mengetahui nilai hasil kerja tersebut bagi masyarakat. (Albert Einstein)
Mendapatkan dan Mempertahankan Motivasi Belajar
Sesungguhnya setiap anak yang lahir memiliki motivasi belajar. Ia adalah merupakan ciri khas spesies manusia. Secara alamiah anak-anak adalah para penjelajah yang selalu ingin tahu. Mereka mengamati lingkungan untuk membuatnya masuk akal. Anak yang sedang belajar berjalan, suka berkeliling-keliling tanpa arah namun dengan sepenuh hati, ia mendorong dan menarik segala sesuatu yang bisa dijangkaunya untuk mengetahui "barang" apakah itu gerangan. Anak-anak yang belum bersekolah terkagum-kagum dengan dunia mereka yang baru dan berbeda. Orang tua tahu bahwa anak-anak yang masih sangat muda itu hidup dalam sebuah galaksi yang penuh dengan keajaiban dan mereka memiliki hasrat yang sangat kuat untuk belajar.
Tiba masanya mereka bersekolah. Tidak jarang motivasi belajar anak tampak semakin berkurang seiring dengan bertambahnya usia. Tepuk tangan dan pujian spontan yang mengiringi anak-anak ketika belajar mulai digantikan oleh peringatan-peringatan keras yang menyuruhnya belajar. Di masa remaja peringatan-peringatan ini bisa menjadi ancaman yang menimbulkan rasa sakit hati bagi mereka yang rapornya tidak sesuai dengan harapan yang dikehendaki oleh orang tua. Di beberapa rumah, topik belajar sudah menjadi subjek pembicaraan yang menegangkan, menjadi garis batas utama sebuah zona perang di mana orang tua bersikeras mendesak anak-anak mereka agar mau belajar. Anak-anak membalasnya dengan mengadakan perang gerilya yang mempertontonkan wajah cemberut penentangannya. Keduanya, baik orang tua maupun anak, termasuk dalam kelompok orang-orang yang takut terhadap nilai rapor yang akan mereka terima berikutnya. 
Apa sebenarnya yang tengah terjadi? Ke mana perginya motivasi? Mengapa motivasi sering mengendur saat anak-anak memasuki masa sekolahnya? Ada banyak alasan mengapa bisa terjadi penipisan motivasi belajar ini. Beberapa kombinasi dalam angka, derajat dan kualitas alasan-alasan berikut ini mungkin bisa memberikan kontribusi atas terjadinya kemunduran belajar ini.
  1. Belajar di sekolah dilakukan dalam kelompok-kelompok dengan suatu kurikulum yang sudah dirumuskan serta sistem penilaian yang dilakukan terus-menerus. Anak-anak tidak lagi belajar sendirian atau dalam asuhan orang tua yang memperhatikannya. Hasrat keingintahuan yang aneh dan menghibur tidak lagi bisa diperlihatkannya di sekolah. Sekarang ia menjadi salah seorang di antara lebih dari tiga puluh lima murid lain dalam kelas, yang kesemuanya membutuhkan perhatian. Mereka harus selalu mengacu pada buku pelajaran atau kumpulan materi-materi yang diprogramkan dalam suatu rangkaian yang lebih menuntut fleksibel di dalam diri anak ketimbang dalam materi itu sendiri. 
  2. Mencapai pengetahuan dan keterampilan yang tinggi memang rumit, banyak prasyaratnya dan menghabiskan banyak waktu, terutama bagi mereka yang kurang berbakat. 
  3. Secara umum, motivasi adalah persediaan energi yang terbatas yang harus dibagi antara diri kita dan dunia secara bijak. Sesuatu di dalam dan di sekitar kita, termasuk pikiran-pikiran kita, bersaing mendapatkan motivasi. 
Referensi : J. Wlodkowski, Raymond dan Judith H. Jaynes. 2004. Hasrat Untuk Belajar. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar