Sabtu, 21 Juni 2014

Guru Inspiratif



BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Hidup manusia memang unik. Masing-masing orang memiliki khazanah hidup yang dipengaruhi dan dibentuk oleh banyak faktor. Ada faktor orang tua, teman dekat, keluarga, lingkungan, buku, atau guru. Besar kecilnya faktor-faktor tersebut memang tidak sama pada setiap orang. Akan tetapi, satu hal yang jelas, karakteristik dan jalan hidup manusia merupakan jalinan yang saling berkelindan dari beragam faktor tersebut. Hal inilah, yang menjadikan setiap orang memiliki khazanah dan pengalaman hidup yang tidak sama.
Kalau kita hendak menyimak dan merefleksikan pengalaman perjalanan hidup kita, maka kita akan menemukan ada banyak guru yang, sedikit atau banyak telah menorehkan kenangan, pengalaman, dan juga mungkin perubahan dalam hidup kita. Guru yang mampu mengubah jalan hidup para siswanya inilah yang disebut sebagai “GURU INSPIRATIF”
Terminologi guru inspiratif sendiri memang belum banyak di kenal. Istilah ini diperkenalkan secara luas oleh Rhenald Khasali di pertengahan tahun 2007 dalam salah satu tulisanya di harian Kompas. Guru inspiratif, tentu saja tidak lahir begitu saja. Banyak juga guru inspiratif yang tidak menyadari bahwa dirinya telah memberikan inspirasi yang begitu bermakna dalam kehidupan para siswanya. Sebaliknya sebagian besar guru kita belum menjadi guru yang inspiratif. Mereka sebenarnya mampu dan bisa menjadi sosok yang inspiratif, hanya mungkin saja kesadarannya belum menggerakkan dirinya untuk memancarkan energi dan cahaya perubahan bagi para siswanya. Kehadiran makalah ini kami harapkan dapat memantik spirit para rekan mahasiswa untuk menjadi sosok yang inspiratif, sehingga mampu mengubah kehidupan para siswanya menuju kehidupan yang bermakna dan lebih berkualitas pada waktu yang akan datang.
B.  Rumusan Masalah
1.      Bagaimana pola pengajaran yang inspiratif?
2.      Apa pengertian guru inspiratif?
3.      Bagaimana karakteristik guru inspiratif?
BAB II
PEMBAHASAN
POLA PENGAJARAN YANG INSPIRATIF ATAU GURU INSPIRATIF
A.    Pola Pengajaran yang Inspiratif
Salah satu usaha penting yang dapat dilakukan untuk membangkitkan semangat belajar adalah mendesain pembelajaran dalam suasana yang menyenangkan. Pembelajaran yang menyenangkan berusaha untuk membangun konsepsi baru bahwa belajar bukanlah sebagaimana yang selama ini dibanyangkan. Menurut Hernowo (2005) dengan mengutip pendapat Dave Meier, menyenangkan atau membuat suasana belajar dalam keadaan gembira bukan berarti menciptakan suasana rebut dan hura-hura. Hal ini tidak ada hubungannya dengan kesenangan yang sembrono dan kemeriahan yang dangkal. Kegembiaraan di sini berarti bangkitnya minat, adanya keterlibatan penuh, serta terciptanya makna, pemahaman (penguasaan atas materi yang dipelajari), dan nilai yang membahagiakan pada si pembelajar. Di Indonesia pembelajaran semacam itu disebut sebagai PAIKEM (Pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan).
Menurut Dave Meier ada beberapa komponen pembangun suasana pembelajaran yang menyenangkan.
Ø  Bangkitnya minat. Secara sederhana, minat sering dipadankan dengan gairah atau keinginan yang menggebu-gebu. Jadi, apabila kegembiraan dikaitkan dengan komponen pertama ini, maka jelas bahwa seorang guru yang inspiratif atau siswa sebagai pembelajar akan menjadi gembira karena di dalam dirinya memang ada keinginan mengajarkan atau mempelajari suatu materi pelajaran.
Ø  Adanya keterlibatan penuh si pembelajar dalam mempelajari sesuatu. Komponen kedua ini sangat bergantung pada keberadaan komponen pertama. Keterlibatan memerlukan hubungan timbal balik. Apa yang dipelajari dan siapa yang ingin mempelajari perlu ada jalinan yang akrab dan saling memahami.
Ø  Ihwal terciptanya makna. Kata yang mungkin paling dekat dan mudah kita pahami berkaitan dengan makna adalah terbitnya sesuatu yang memang “mengesankan”. Sesuatu yang mengesankan atau inspiratif biasanya akan menghadirkan makna. Oleh karena itu,  bagi seorang guru inspiratif menciptakan suasana pembelajaran yang dapat menghadirkan makna sangat penting artinya.
Ø  Ihwal pemahaman atas materi yang dipelajari. Apabila minat seorang siswa dapat ditumbuhkan ketika mempelajari sesuatu, lantas dia dapat terlibat secara aktif dan penuh dalam membahas materi-materi yang dipelajarinya, dan ujung-ujungnya dia terkesan dengan sebuah pembelajaran yang diikutinya, tentulah pemahaman akan materi yang dipelajarinya dapat muncul secara sangat kuat.
Ø  Nilai yang membahagiakan. Bahagia menurut bahasa adalah keadaan atau perasaan senang tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan). Berkaitan dengan belajar, bahagia adalah keadaan yang bebas dari tekanan, ketakutan, dan ancaman. Rasa bahagia yang dapat muncul dalam diri siswa sebagai seorang pembelajar bisa saja terjadi karena dia merasa mendapatkan makna ketika mempelajari sesuatu. Atau dia merasa bahagia karena selama menjalani pembelajaran dia diteguhkan sebagai seorang yang berpotensi dan dihargai jerih payahnya dalam memahami sesuatu.

B.     Guru Inspiratif
Istilah guru inspiratif dipopulerkan oleh pakar manajemen Rhenald Khasali. Dalam artikelnya di Harian Kompas edisi 29 Agustus 2007, Khasali menulis tentang fenomena guru dalam dunia pendidikan. Ia membagi guru dalam dua kategori, yaitu guru kurikulum dan guru inspiratif. Guru kurikulum adalah sosok guru yang amat patuh kepada kurikulum dan merasa berdosa bila tidak bisa mentransfer semua isi buku yang ditugaskan sesuai dengan acuan kurikulum. Sedangkan guru inspiratif adalah guru yang memiliki orientasi jauh lebih luas lagi. Guru inspiratif tidak hanya terpaku pada kurikulum, tetapi juga memiliki orientasi yang lebih luas dalam mengembangkan potensi dan kemampuan para siswanya.
Guru inspiratif adalah guru yang memberikan stimulasi mental kepada murid-muridnya di mana diharapkan dari stimulasi mental yang diberikan kepada siswa akan memberikan dampak yang lebih kuat terhadap pemahaman siswa, karena semakin banyak emosi-emosi positif yang dirasakan oleh siswa pada saat belajar maka penguasaan materi belajar akan semakin baik.

C.    Karakteristik Guru Inspiratif

Ø  Terus belajar. Belajar menambah pengetahuan secara terus-menerus merupakan hal yang harus dilakukan oleh seorang guru inspiratif. Perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat menjadi tantangan bagi guru untuk terus mengikutinya demi meningkatkan kapasitas dan kapabilitasnya sebagai seorang guru. Alvin Toffler mengatakan bahwa siapa yang menguasai informasi, dia akan menjadi yang terdepan.
Ø  Kompeten. Secara sederhana, kata kompetensi bermakna sebagai kecakapan, kewenangan, atau kemampuan. Bagi seorang guru, memiliki kompetensi berarti memiliki kecakapan atau kemampuan untuk mendidik. Bagi seorang guru inspiratif, setidaknya ada tiga jenis kompetensi yang harus dimiliki.
·         Kompetensi profesional. Kata profesional berasal dari kata sifat yang berarti pencaharian dan sebagai kata benda yang berarti orang yang mempunyai keahlian seperti, guru, ilmuwan, dokter, hakim dsb. Dengan demikian guru profesional adalah orang yang mempunyai keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik.
·         Kompentensi personal. Kompetensi personal disebut juga kompetensi kepribadian. Kepribadian guru mempunyai pengaruh langsung dan kualitatif terhadap hidup dan kebiasaan-kebiasaan siswa, terutama kebiasaan dalam belajar. Para guru yang termasuk kategori inspiratif, maka segala sesuatu yang dia lakukan sebagai cermin kepribadiannya akan menjadi panutan bagi siswanya.
·         Kompetensi sosial. Kompetensi sosial artinya guru harus memiliki kemampuan komunikasi sosial, baik dengan peserta didiknya maupun dengan sesama guru, dengan kepala sekolah, pegawai tata usaha, dan dengan masyarakat di lingkungannya.
Ø  Ikhlas. Ikhlas merupakan kata kunci yang sangat penting dalam ajaran Islam. Abu al-Qasim al-Qusyairi mendefinisikan orang yang ikhlas sebagai orang yang berkeinginan untuk menegaskan hak-hak Allah SWT dalam setiap perbuatan ketaatannya. Dengan ketaatannya itu ia ingin mendekatkan diri kepada Allah, bukan kepada yang lain. Satu-satunya yang ia harapkan adalah kedekatan kepada Allah SWT. Bagi guru yang mendidik dengan landasan ikhlas, mendidik merupakan sebuah tugas yang akan dijalankan dengan penuh kekusyukan. Tidak ada pamrih apa pun dari tugasnya sebagai pendidik, selain tujuan untuk memberikan ilmu yang bermanfaat kepada siswanya.
Ø  Spiritualis. Guru inspiratif tidak bisa semata-mata mengandalkan kemampuan kreativitas mendidik. Mendidik yang kreatif, menarik, menyenangkan, penuh motivasi, dan membangkitkan semangat peserta didik untuk tumbuh dan berkembang memang penting. Akan tetapi, ada hal penting yang juga harus dipertimbangkan oleh guru agar mampu membangkitkan diri menjadi seorang guru yang inspiratif, yaitu spiritualitas. Dalam kaitannya dengan kegiatan mendidik, ada beberapa aspek penting bernilai spiritual yang harus dipertimbangkan oleh seorang guru. Pertama, niat. Niat menjadi titik tolak semua kegiatan. Kedua, doa. Ketiga, ikhlas menjalankan tugasnya.
Ø  Totalitas. Totalitas merupakan bentuk penghayatan dan implementasi profesi yang dilaksanakan secara utuh. Dengan totalitas, maka seorang guru akan memiliki curahan energi secara maksimal untuk mendidik para siswanya. “Apapun bidang yang sedang Anda pelajari, tenggelamkan diri Anda ke dalamnya. Bangunlah hubungan saraf-inderawi (neuro-sensori) dengannya sebanyak mungkin indera dan imajinasi Anda” (Win Wenger (2003)).
Ø  Motivator dan kreatif. Motivasi dalam diri siswa akan terbangun manakala siswa memiliki ketertarikan terhadap apa yang disampaikan oleh guru. Hubungan emosional ini penting untuk membangkitkan motivasi siswa. Sehingga apa yang disampaikan guru akan lebih mengena pada diri siswa. Kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan atau menghasilkan sesuatu hasil karya atau ide-ide yang baru. Kreativitas merupakan potensi yang bersifat alamiah pada semua manusia, yang oleh agama disebut sebagai fitrah, yaitu potensi yang bersifat suci, positif dan siap berkembang mencapai puncaknya.
Ø  Pendorong perubahan. Guru inspiratif akan meninggalkan pengaruh kuat dalam diri para siswanya. Mereka akan terus dikenang, menimbulkan spirit dan energi perubahan yang besar, dan menjadikan kehidupan para siswanya senantiasa bergerak menuju ke arah yang lebih baik. “Guru yang bermutu memungkinkan siswanya untuk tidak hanya dapat mencapai standar nilai akademik secara nasional, tetapi juga mendapatkan pengetahuan dan keahlian yang penting untuk belajar selama hidup mereka”. (Elaine B. Johnson).


D.    Landasan membangun spirit inspirasi bagi guru :

1.      Komitmen. Komitmen sebagai guru inspiratif harus dibangun secara kukuh dalam jiwa. Komitmen akan memberi makna yang sangat penting terhadap apa yang kita kerjakan, kita lihat, kita rasa, kita dengar dan kita pikirkan. Setiap mengajar sejauh kita memegang komitmen, maka kita akan senantiasa berusaha semaksimal mungkin untuk memberi inspirasi kepada para siswa. Mengamati bagaimana siswa kurang bergairah belajar, maka komitmen sebagai guru inspiratif akan melahirkan beragam usaha untuk membangkitkan semangat mereka dalam belajar. Melihat siswa yang dinilai bermasalah, spirit inspiratif akan terdorong untuk melacak penyebabnya dan mencari solusinya. Menghadapi hasil evaluasi yang kurang memuaskan, spirit inspiratif akan tergerak untuk menemukan cara-cara konstruktif untuk meningkatkan prestasi. Begitu seterusnya. Setiap ada persoalan, spirit inspiratif selalu memunculkan dorongan dalam diri guru untuk mencari jalan pemecahannya.
2.      Cinta itu menggerakkan jiwa. Mengajar yang dilandasi oleh kecintaan yang mendalam akan melahirkan dan menyulut spirit inspiratif secara kukuh. Cinta yang kuat dapat menggerakkan jiwa untuk senantiasa penuh semangat, yakin, optimis, dan penuh harapan. Bersarnya cinta terhadap profesi, terhadap tanggung jawab, terhadap masa depan siswa dan terhadap tanggung jawab kepada Allah, akan menjadikan mengajar menjadi sedemikian memberdayakan, penuh kenikmatan dan penghayatan. Bagi seorang guru jangan sampai tugas mengajar dilakukan karena faktor keterpaksaan. Hal ini merupakan sesuatu yang fatal, karena sikap terpaksa akan menjadikan mengajar hanya sebagai pemenuhan kewajiban saja. Tidak ada lagi spirit dan cinta yang mampu melandasinya. Tidak ada lagi visi lebih luas dan mendalam yang dibangun. Spirit inspiratif tidak akan muncul pada guru yang memiliki karakter semacam ini. Mereka yang mengajar secara terpaksa akan kehilangan gairah dan orientasi yang lebih luas. Mengajar kemudian dilakukan hanya sekadarnya saja. Mengajar dalam keterpaksaan akan menimbulkan efek psikologis yang kurang baik terhadap diri guru dan juga para siswanya. Lebih jauh, kondisi ini akan menyebabkan pembelajaran tidak mampu mencapai hasil maksimal sebagaimana diharapkan. Sebaliknya, mengajar yang dilandasi dengan cinta yang mendalam akan senantiasa menggairahkan dan penuh dengan semangat. Dalam diri guru, akan selalu muncul tanggung jawab yang lebih luas daripada sekadar memenuhi kewajiban semata. Landasan cinta yang mendalam, baik terhadap profesi sebagai guru, tugas mendidik, maupun mencintai terhadap siswa, akan mampu menggerakkan jiwa yang inspiratif. Lorraine Monroe mengatakan, “If you don’t love the work you’re doing, you get sick-physically, mentally, or spiritually. Eventually, you’ll make others sick, too.” [ Jika kamu tidak mencintai pekerjaan yang sedang kamu lakukan, kamu akan sakit- secara fisik, mental, atau spiritual. Bahkan bisa jadi, kamu akan membuat orang lain ikut sakit]. Pernyataan Lorraine Monroe ini penting sekali dijadikan bahan renungan bagi siapapun, khususnya bagi guru. Mengajar yang tidak dilandasi oleh rasa cinta ternyata dapat menyengsarakan terhadap diri guru, bahkan terhadap siswa. Jadi, rasa cinta terhadap para siswa harus dipunyai oleh pendidik dan calon-calon pendidik secara khusus, dan semua orang secara umum. Karena hal tersebut merupakan salah satu kunci keberhasilan bagi dunia pendidikan kita.
3.      Menajamkan visi. Menurut Philip Kotler, merupakan an ideal standar of excellence (standar ideal kesempurnaan) yang ingin kita raih. Atau bisa juga di maknai sebagai a dream must be achieve ( mimpi yang harus kita raih). Visi sangat penting artinya dalam berbagai aspek kehidupan. Negara, organisasi, sekolah, bahkan diri kita, harus mempunyai visi. Hidup tanpa visi akan kehilangan orientasi. Visi mengarahkan segala gerak dan orientasi dalam hidup kita.








BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Guru inspiratif adalah mereka yang memiliki orientasi jauh lebih luas dalam menbgembangkan potensi dan kemampuan para siswanya. Guru inspiratif bukan hanya guru yang mengajar kurikulum, tetapi lebih dari itu, mengajak siswa-siswanya berpikir kreatif dan inovatif. Jika kurikum melahirkan manajer-manajer andal, maka guru inspiratif akan melahirkan pemimpin pembaru yang berani menghancurkan aneka kebiasaan lama.
B.     Saran
Bagi pembaca apabila dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan kami mohon maaf. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca agar makalah ini lebih sempurna.











DAFTAR PUSTAKA
J. Wlodkowski, Raymond dan Judith H. Jaynes. 2004. Hasrat Untuk Belajar. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Naim, Ngainun. 2009. Menjadi Guru Inspiratif : Memberdayakan dan Mengubah Jalan Hidup Siswa. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Novia, Rina. 2010. Super Teacher Super Student. Jakarta : Zikrul Hakim.

2 komentar: