BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hidup
manusia memang unik. Masing-masing orang memiliki khazanah hidup yang dipengaruhi
dan dibentuk oleh banyak faktor. Ada faktor orang tua, teman dekat, keluarga,
lingkungan, buku, atau guru. Besar kecilnya faktor-faktor tersebut memang tidak
sama pada setiap orang. Akan tetapi, satu hal yang jelas, karakteristik dan
jalan hidup manusia merupakan jalinan yang saling berkelindan dari beragam
faktor tersebut. Hal inilah, yang menjadikan setiap orang memiliki khazanah dan
pengalaman hidup yang tidak sama.
Kalau
kita hendak menyimak dan merefleksikan pengalaman perjalanan hidup kita, maka
kita akan menemukan ada banyak guru yang, sedikit atau banyak telah menorehkan
kenangan, pengalaman, dan juga mungkin perubahan dalam hidup kita. Guru yang
mampu mengubah jalan hidup para siswanya inilah yang disebut sebagai “GURU
INSPIRATIF”
Terminologi
guru inspiratif sendiri memang belum banyak di kenal. Istilah ini diperkenalkan
secara luas oleh Rhenald Khasali di pertengahan tahun 2007 dalam salah satu
tulisanya di harian Kompas. Guru inspiratif, tentu saja tidak lahir begitu
saja. Banyak juga guru inspiratif yang tidak menyadari bahwa dirinya telah
memberikan inspirasi yang begitu bermakna dalam kehidupan para siswanya.
Sebaliknya sebagian besar guru kita belum menjadi guru yang inspiratif. Mereka
sebenarnya mampu dan bisa menjadi sosok yang inspiratif, hanya mungkin saja
kesadarannya belum menggerakkan dirinya untuk memancarkan energi dan cahaya
perubahan bagi para siswanya. Kehadiran makalah ini kami harapkan dapat
memantik spirit para rekan mahasiswa untuk menjadi sosok yang inspiratif,
sehingga mampu mengubah kehidupan para siswanya menuju kehidupan yang bermakna
dan lebih berkualitas pada waktu yang akan datang.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana
pola pengajaran yang inspiratif?
2. Apa
pengertian guru inspiratif?
3. Bagaimana
karakteristik guru inspiratif?
BAB
II
PEMBAHASAN
POLA
PENGAJARAN YANG INSPIRATIF ATAU GURU INSPIRATIF
A.
Pola
Pengajaran yang Inspiratif
Salah
satu usaha penting yang dapat dilakukan untuk membangkitkan semangat belajar
adalah mendesain pembelajaran dalam suasana yang menyenangkan. Pembelajaran
yang menyenangkan berusaha untuk membangun konsepsi baru bahwa belajar bukanlah
sebagaimana yang selama ini dibanyangkan. Menurut Hernowo (2005) dengan
mengutip pendapat Dave Meier, menyenangkan atau membuat suasana belajar dalam
keadaan gembira bukan berarti menciptakan suasana rebut dan hura-hura. Hal ini
tidak ada hubungannya dengan kesenangan yang sembrono dan kemeriahan yang
dangkal. Kegembiaraan di sini berarti bangkitnya minat, adanya keterlibatan
penuh, serta terciptanya makna, pemahaman (penguasaan atas materi yang
dipelajari), dan nilai yang membahagiakan pada si pembelajar. Di Indonesia
pembelajaran semacam itu disebut sebagai PAIKEM (Pembelajaran yang aktif,
inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan).
Menurut
Dave Meier ada beberapa komponen pembangun suasana pembelajaran yang
menyenangkan.
Ø Bangkitnya
minat. Secara sederhana, minat sering dipadankan dengan gairah atau keinginan
yang menggebu-gebu. Jadi, apabila kegembiraan dikaitkan dengan komponen pertama
ini, maka jelas bahwa seorang guru yang inspiratif atau siswa sebagai
pembelajar akan menjadi gembira karena di dalam dirinya memang ada keinginan
mengajarkan atau mempelajari suatu materi pelajaran.
Ø Adanya
keterlibatan penuh si pembelajar dalam mempelajari sesuatu. Komponen kedua ini
sangat bergantung pada keberadaan komponen pertama. Keterlibatan memerlukan
hubungan timbal balik. Apa yang dipelajari dan siapa yang ingin mempelajari
perlu ada jalinan yang akrab dan saling memahami.
Ø Ihwal
terciptanya makna. Kata yang mungkin paling dekat dan mudah kita pahami
berkaitan dengan makna adalah terbitnya sesuatu yang memang “mengesankan”.
Sesuatu yang mengesankan atau inspiratif biasanya akan menghadirkan makna. Oleh
karena itu, bagi seorang guru inspiratif
menciptakan suasana pembelajaran yang dapat menghadirkan makna sangat penting
artinya.
Ø Ihwal
pemahaman atas materi yang dipelajari. Apabila minat seorang siswa dapat
ditumbuhkan ketika mempelajari sesuatu, lantas dia dapat terlibat secara aktif
dan penuh dalam membahas materi-materi yang dipelajarinya, dan ujung-ujungnya
dia terkesan dengan sebuah pembelajaran yang diikutinya, tentulah pemahaman
akan materi yang dipelajarinya dapat muncul secara sangat kuat.
Ø Nilai
yang membahagiakan. Bahagia menurut bahasa adalah keadaan atau perasaan senang
tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan). Berkaitan dengan belajar,
bahagia adalah keadaan yang bebas dari tekanan, ketakutan, dan ancaman. Rasa
bahagia yang dapat muncul dalam diri siswa sebagai seorang pembelajar bisa saja
terjadi karena dia merasa mendapatkan makna ketika mempelajari sesuatu. Atau
dia merasa bahagia karena selama menjalani pembelajaran dia diteguhkan sebagai
seorang yang berpotensi dan dihargai jerih payahnya dalam memahami sesuatu.
B.
Guru
Inspiratif
Istilah
guru inspiratif dipopulerkan oleh pakar manajemen Rhenald Khasali. Dalam artikelnya
di Harian Kompas edisi 29 Agustus 2007, Khasali menulis tentang fenomena guru
dalam dunia pendidikan. Ia membagi guru dalam dua kategori, yaitu guru
kurikulum dan guru inspiratif. Guru kurikulum adalah sosok guru yang amat patuh
kepada kurikulum dan merasa berdosa bila tidak bisa mentransfer semua isi buku
yang ditugaskan sesuai dengan acuan kurikulum. Sedangkan guru inspiratif adalah
guru yang memiliki orientasi jauh lebih luas lagi. Guru inspiratif tidak hanya
terpaku pada kurikulum, tetapi juga memiliki orientasi yang lebih luas dalam
mengembangkan potensi dan kemampuan para siswanya.
Guru
inspiratif adalah guru yang memberikan stimulasi mental kepada murid-muridnya
di mana diharapkan dari stimulasi mental yang diberikan kepada siswa akan memberikan
dampak yang lebih kuat terhadap pemahaman siswa, karena semakin banyak
emosi-emosi positif yang dirasakan oleh siswa pada saat belajar maka penguasaan
materi belajar akan semakin baik.
C.
Karakteristik
Guru Inspiratif
Ø Terus
belajar. Belajar menambah pengetahuan secara terus-menerus merupakan hal yang
harus dilakukan oleh seorang guru inspiratif. Perkembangan ilmu pengetahuan
yang pesat menjadi tantangan bagi guru untuk terus mengikutinya demi
meningkatkan kapasitas dan kapabilitasnya sebagai seorang guru. Alvin Toffler
mengatakan bahwa siapa yang menguasai informasi, dia akan menjadi yang
terdepan.
Ø Kompeten.
Secara sederhana, kata kompetensi bermakna sebagai kecakapan, kewenangan, atau
kemampuan. Bagi seorang guru, memiliki kompetensi berarti memiliki kecakapan
atau kemampuan untuk mendidik. Bagi seorang guru inspiratif, setidaknya ada
tiga jenis kompetensi yang harus dimiliki.
·
Kompetensi
profesional. Kata profesional berasal dari kata sifat yang berarti pencaharian
dan sebagai kata benda yang berarti orang yang mempunyai keahlian seperti,
guru, ilmuwan, dokter, hakim dsb. Dengan demikian guru profesional adalah orang
yang mempunyai keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu
melakukan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik.
·
Kompentensi personal.
Kompetensi personal disebut juga kompetensi kepribadian. Kepribadian guru
mempunyai pengaruh langsung dan kualitatif terhadap hidup dan
kebiasaan-kebiasaan siswa, terutama kebiasaan dalam belajar. Para guru yang
termasuk kategori inspiratif, maka segala sesuatu yang dia lakukan sebagai
cermin kepribadiannya akan menjadi panutan bagi siswanya.
·
Kompetensi sosial.
Kompetensi sosial artinya guru harus memiliki kemampuan komunikasi sosial, baik
dengan peserta didiknya maupun dengan sesama guru, dengan kepala sekolah,
pegawai tata usaha, dan dengan masyarakat di lingkungannya.
Ø Ikhlas.
Ikhlas merupakan kata kunci yang sangat penting dalam ajaran Islam. Abu
al-Qasim al-Qusyairi mendefinisikan orang yang ikhlas sebagai orang yang
berkeinginan untuk menegaskan hak-hak Allah SWT dalam setiap perbuatan
ketaatannya. Dengan ketaatannya itu ia ingin mendekatkan diri kepada Allah,
bukan kepada yang lain. Satu-satunya yang ia harapkan adalah kedekatan kepada
Allah SWT. Bagi guru yang mendidik dengan landasan ikhlas, mendidik merupakan
sebuah tugas yang akan dijalankan dengan penuh kekusyukan. Tidak ada pamrih apa
pun dari tugasnya sebagai pendidik, selain tujuan untuk memberikan ilmu yang
bermanfaat kepada siswanya.
Ø Spiritualis.
Guru inspiratif tidak bisa semata-mata mengandalkan kemampuan kreativitas
mendidik. Mendidik yang kreatif, menarik, menyenangkan, penuh motivasi, dan
membangkitkan semangat peserta didik untuk tumbuh dan berkembang memang
penting. Akan tetapi, ada hal penting yang juga harus dipertimbangkan oleh guru
agar mampu membangkitkan diri menjadi seorang guru yang inspiratif, yaitu
spiritualitas. Dalam kaitannya dengan kegiatan mendidik, ada beberapa aspek
penting bernilai spiritual yang harus dipertimbangkan oleh seorang guru.
Pertama, niat. Niat menjadi titik tolak semua kegiatan. Kedua, doa. Ketiga,
ikhlas menjalankan tugasnya.
Ø Totalitas.
Totalitas merupakan bentuk penghayatan dan implementasi profesi yang
dilaksanakan secara utuh. Dengan totalitas, maka seorang guru akan memiliki
curahan energi secara maksimal untuk mendidik para siswanya. “Apapun bidang
yang sedang Anda pelajari, tenggelamkan diri Anda ke dalamnya. Bangunlah
hubungan saraf-inderawi (neuro-sensori) dengannya sebanyak mungkin indera dan
imajinasi Anda” (Win Wenger (2003)).
Ø Motivator
dan kreatif. Motivasi dalam diri siswa akan terbangun manakala siswa memiliki
ketertarikan terhadap apa yang disampaikan oleh guru. Hubungan emosional ini
penting untuk membangkitkan motivasi siswa. Sehingga apa yang disampaikan guru
akan lebih mengena pada diri siswa. Kreativitas adalah kemampuan untuk
menciptakan atau menghasilkan sesuatu hasil karya atau ide-ide yang baru.
Kreativitas merupakan potensi yang bersifat alamiah pada semua manusia, yang
oleh agama disebut sebagai fitrah, yaitu potensi yang bersifat suci, positif
dan siap berkembang mencapai puncaknya.
Ø Pendorong
perubahan. Guru inspiratif akan meninggalkan pengaruh kuat dalam diri para
siswanya. Mereka akan terus dikenang, menimbulkan spirit dan energi perubahan
yang besar, dan menjadikan kehidupan para siswanya senantiasa bergerak menuju ke
arah yang lebih baik. “Guru yang bermutu memungkinkan siswanya untuk tidak
hanya dapat mencapai standar nilai akademik secara nasional, tetapi juga
mendapatkan pengetahuan dan keahlian yang penting untuk belajar selama hidup
mereka”. (Elaine B. Johnson).
D. Landasan membangun spirit inspirasi bagi guru
:
1. Komitmen.
Komitmen sebagai guru inspiratif harus dibangun secara kukuh dalam jiwa.
Komitmen akan memberi makna yang sangat penting terhadap apa yang kita
kerjakan, kita lihat, kita rasa, kita dengar dan kita pikirkan. Setiap mengajar
sejauh kita memegang komitmen, maka kita akan senantiasa berusaha semaksimal
mungkin untuk memberi inspirasi kepada para siswa. Mengamati bagaimana siswa
kurang bergairah belajar, maka komitmen sebagai guru inspiratif akan melahirkan
beragam usaha untuk membangkitkan semangat mereka dalam belajar. Melihat siswa
yang dinilai bermasalah, spirit inspiratif akan terdorong untuk melacak
penyebabnya dan mencari solusinya. Menghadapi hasil evaluasi yang kurang
memuaskan, spirit inspiratif akan tergerak untuk menemukan cara-cara
konstruktif untuk meningkatkan prestasi. Begitu seterusnya. Setiap ada
persoalan, spirit inspiratif selalu memunculkan dorongan dalam diri guru untuk
mencari jalan pemecahannya.
2. Cinta
itu menggerakkan jiwa. Mengajar yang dilandasi oleh kecintaan yang mendalam
akan melahirkan dan menyulut spirit inspiratif secara kukuh. Cinta yang kuat
dapat menggerakkan jiwa untuk senantiasa penuh semangat, yakin, optimis, dan
penuh harapan. Bersarnya cinta terhadap profesi, terhadap tanggung jawab,
terhadap masa depan siswa dan terhadap tanggung jawab kepada Allah, akan menjadikan
mengajar menjadi sedemikian memberdayakan, penuh kenikmatan dan penghayatan.
Bagi seorang guru jangan sampai tugas mengajar dilakukan karena faktor
keterpaksaan. Hal ini merupakan sesuatu yang fatal, karena sikap terpaksa akan
menjadikan mengajar hanya sebagai pemenuhan kewajiban saja. Tidak ada lagi
spirit dan cinta yang mampu melandasinya. Tidak ada lagi visi lebih luas dan
mendalam yang dibangun. Spirit inspiratif tidak akan muncul pada guru yang
memiliki karakter semacam ini. Mereka yang mengajar secara terpaksa akan
kehilangan gairah dan orientasi yang lebih luas. Mengajar kemudian dilakukan
hanya sekadarnya saja. Mengajar dalam keterpaksaan akan menimbulkan efek
psikologis yang kurang baik terhadap diri guru dan juga para siswanya. Lebih
jauh, kondisi ini akan menyebabkan pembelajaran tidak mampu mencapai hasil
maksimal sebagaimana diharapkan. Sebaliknya, mengajar yang dilandasi dengan
cinta yang mendalam akan senantiasa menggairahkan dan penuh dengan semangat.
Dalam diri guru, akan selalu muncul tanggung jawab yang lebih luas daripada
sekadar memenuhi kewajiban semata. Landasan cinta yang mendalam, baik terhadap
profesi sebagai guru, tugas mendidik, maupun mencintai terhadap siswa, akan
mampu menggerakkan jiwa yang inspiratif. Lorraine Monroe mengatakan, “If you
don’t love the work you’re doing, you get sick-physically, mentally, or
spiritually. Eventually, you’ll make others sick, too.” [ Jika kamu tidak
mencintai pekerjaan yang sedang kamu lakukan, kamu akan sakit- secara fisik,
mental, atau spiritual. Bahkan bisa jadi, kamu akan membuat orang lain ikut
sakit]. Pernyataan Lorraine Monroe ini penting sekali dijadikan bahan renungan
bagi siapapun, khususnya bagi guru. Mengajar yang tidak dilandasi oleh rasa
cinta ternyata dapat menyengsarakan terhadap diri guru, bahkan terhadap siswa.
Jadi, rasa cinta terhadap para siswa harus dipunyai oleh pendidik dan
calon-calon pendidik secara khusus, dan semua orang secara umum. Karena hal
tersebut merupakan salah satu kunci keberhasilan bagi dunia pendidikan kita.
3. Menajamkan
visi. Menurut Philip Kotler, merupakan an ideal standar of excellence
(standar ideal kesempurnaan) yang ingin kita raih. Atau bisa juga di maknai
sebagai a dream must be achieve ( mimpi yang harus kita raih). Visi
sangat penting artinya dalam berbagai aspek kehidupan. Negara, organisasi,
sekolah, bahkan diri kita, harus mempunyai visi. Hidup tanpa visi akan
kehilangan orientasi. Visi mengarahkan segala gerak dan orientasi dalam hidup
kita.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Guru
inspiratif adalah mereka yang memiliki orientasi jauh lebih luas dalam
menbgembangkan potensi dan kemampuan para siswanya. Guru inspiratif bukan hanya
guru yang mengajar kurikulum, tetapi lebih dari itu, mengajak siswa-siswanya
berpikir kreatif dan inovatif. Jika kurikum melahirkan manajer-manajer andal,
maka guru inspiratif akan melahirkan pemimpin pembaru yang berani menghancurkan
aneka kebiasaan lama.
B.
Saran
Bagi pembaca
apabila dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan kami mohon maaf. Oleh
karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca agar makalah ini
lebih sempurna.
DAFTAR
PUSTAKA
J. Wlodkowski, Raymond
dan Judith H. Jaynes. 2004. Hasrat Untuk Belajar. Yogyakarta : Pustaka
Pelajar.
Naim, Ngainun. 2009. Menjadi
Guru Inspiratif : Memberdayakan dan Mengubah Jalan Hidup Siswa. Yogyakarta
: Pustaka Pelajar.
Novia, Rina. 2010. Super
Teacher Super Student. Jakarta : Zikrul Hakim.
IZIN NGUNDUH BU
BalasHapusMohon Izin mengambil informasi yang ada di makalah tersebut.
BalasHapusterima kasih sebelumnya....